Inilah 5 Tips Menyikapi Anak Saat Dia Memaksakan Kehendaknya

anak menangis
Dok. Pribadi

“Sendiriiiii!”
Dulu, memasuki usia 29 bulan, anak saya mulai meminta dengan keras kepala untuk melakukan semuanya sendiri. Bahkan, dia tidak mau disuapi. Minum pun harus mengambil sendiri dan tak mau dibantu.

Sebenarnya makan dan minum memang sudah dibiasakan mandiri dari usia 6 bulan. Namun, untuk keras kepala, meminta keinginannya harus dikabulkan dengan menjerit, akhir-akhir ini sering.

Mungkin ada orang tua yang mengalami hal yang sama dengan saya. Ada yang sudah merasakannya saat anak memasuki usia lebih muda ataupun baru muncul di saat usianya menginjak kepala dua. Hal ini memang akan menjadi syok terapi bagi para ibu baru. Apalagi saat merasakan anak yang tadinya penurut menjadi keras kepala.

Normalnya, di usia 12 bulan, anak sudah mulai berkembang di aspek sosial emosionalnya. Ini ditandai dengan ketidaksukaan anak dengan perlakuan yang tidak sesuai, misalnya mainannya direbut maka anak akan marah.

Tak apa jika memang anak sudah mulai memiliki keinginan seperti itu. Kita sebagai orang tua lebih fokuslah menjadi pembimbing mereka. Setiap kehidupan selalu ada gejolak, begitu juga sikap anak.

Jangan pusing, itu berat. Lebih baik cermati saja tips
berikut ini:

1. Diam Sesaat

Saat anak sudah mulai mengeluarkan jurus jeritannya, maka diamlah. Tak usah bereaksi marah ataupun kesal. Itu malah akan lebih memancing jeritan lainnya.

Pasang muka datar dan mulai berpikir apa yang akan kita coba untuk
membuatnya kooperatif dengan kita. Tak perlu membuat anak diam, tapi buatlah anak mengikuti kesepakatan yang dibuat bersama.

Misalnya, “Kamu boleh
makan sendiri, tapi selesaikan dulu nangisnya, ya.” Anak akan mengerti bahwa ia harus menyelesaikan tangisannya dulu baru bisa makan.

2. Pelukan Hangat

Menurut hasil penelitian dalam jurnal Psychosomatic Medicine, pelukan hangat dapat melepaskan hormon oksitosin. Hormon yang dapat membantu menghindarkan diri dari rasa sedih, marah dan emosi buruk, bahkan stres.

Oleh karenanya, saat anak sedang sedih dan dipeluk, anak akan merasa lebih rileks dan aman. Anak yang biasa dipeluk akan lebih mudah ditenangkan daripada yang jarang dipeluk.

Alih-alih membentak anak untuk diam atau bahkan melengos saat anak menjerit, rentangkan tangan anak dan ajak anak mendekat ke dada, lalu katakan, “Mau Bunda peluk?”

Anak yang dipeluk juga memiliki waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Hal ini membuat anak jadi bisa merasakan emosinya sendiri sembari memahami bahwa ia boleh menangis saat sedih misalnya, namun ia harus meredakan diri jika sudah capek.

Jadi, sudahkah Anda memeluk buah hati hari ini?

3. Beri Pengertian

Memberi pengertian tidak bisa disamakan dengan memberi perkuliahan yang
panjang. Bukan dengan ngedumel panjang ala emak-emak dan tak selesai-selesai sampai si anak capek menangis.

Namun, biarkan saja dulu ia menangis saat keinginannya belum bisa dituruti sambil dipeluk. Katakan saja bahwa ada bunda di sini menemani.
Setelah tangisan selesai, berilah 1-2 kalimat sederhana untuk memberi
pengertian kenapa tidak boleh.

Misalnya Anda tidak suka ia meminta jajan dari abang jualan yang sering lewat. “Dek, kamu tidak boleh jajan itu. Bunda tidak tahu bahan makanannya apa saja.”
Jika si anak meminta alternatif, ajaklah ia memakan jajan yang sudah Anda
sediakan, atau ganti dengan buah kesukaannya.

4. Latih Terus dan Terus

Sekali, dua kali, tiga kali, Anda masih bisa bersabar. Namun, jika sikap anak
masih saja sama walaupun kita sudah memperingatkan sebelumnya, pasti kita merasa kesal. Begitulah anak, mereka butuh dibimbing terus menerus.

Kita saja sebagai orang dewasa sering melakukan kesalahan. Apalagi anak-anak. Bukankah berlatih terus menerus membuat sesorang ahli?

Nah, kita sebagai orang tua diberikan media belajar gratis dari Tuhan untuk mengelola kesabaran. Semakin banyak berlatih akan membuat kita semakin andal dalam pekerjaan ini,
membersamai buah hati.

5. Beri Apresiasi

Saat anak meminta melakukan sesuatu sendiri dan ia bisa melakukannya
(walaupun misalnya menuangkan minum ke gelas masih tumpah-tumpah), berilah ia apresiasi. Selain mengembangkan rasa percaya dirinya, anak akan dilatih untuk berjiwa pantang menyerah.

Saat kita sudah ikut campur mengambil
gelas untuk kita bantu isikan, anak akan merasa bahwa dirinya tidak bisa dan akan menanam pikiran bahwa ia harus selalu dibantu oleh orang tuanya.

Bukankah kita seharusnya bangga jika anak bisa melakukan keterampilan
hidupnya sejak dini? Nantinya, anak tak kaget jika harus mulai belajar semuanya sendiri dan bisa mengandalkan dirinya untuk situasi yang memerlukan
pemikiran cepat.

Baca juga: Aku, Ibu yang Buruk?

Aku, Ibu yang Buruk?

Aku Ibu yang Buruk
Saat merasa menjadi ibu yang buruk, ingatlah apakah kamu masih peduli akan anakmu?

Sudah ke sekian kalinya, anakku, Akhtar menangis. Merengek bahkan sering meneriakiku, ibunya. Dulu, bocah kecil ini tidak begini. Saat usianya baru 1 tahun, ia adalah anak yang gampang sekali menurut. Tak banyak drama dalam mengasuhnya. Saat ibu lain mengeluhkan anaknya yang selalu begadang, Akhtar dengan antengnya akan tidur setelah magrib dan bangun paling gasik saat subuh.

Memang pernah sih dia mengalami growth spurt, yang ditandai dengan bayi menyusu terus dalam masa perkembangannya yang sedang tinggi. Jadi dia akan menyusu terus sampai aku tidak bisa melakukan aktivitas lain. Sampai makan pun, aku harus disuapi suami sambil menyusui. Itu terjadi saat Akhtar berusia 30 hari dan 3 bulan. Hanya itu.

Namun, Akhtar yang kukenal dulu dan sebentar lagi berusia 3 tahun, seperti hilang. Aku, ibu baru, yang pastinya awam akan asuh mengasuh benar-benar kewalahan dengan segala tangis yang berujung tantrum. Sebenarnya, teori tentang parenting, aku banyak mendapatkannya, misalnya dari theAsianparent. Tapi, saat menghadapi bagaimana Akhtar tantrum, hatiku menciut dan akalku seperti hilang. Emosi meledak-ledak.

“Yang sabar. Dibilangin aja biar kooperatif ya, Dek.”

Begitu kata suami kalau aku curhat kepadanya tiap beliau pulang kerja. Aku pun tahu sebenarnya apa yang harus dilakukan. Aku hanya muak jika Akhtar benar-benar sulit diatasi.

“BUUUUUUU, PIPIIIIIIIIIS!”

Saat itu matahari baru sepenggalah. Aku sedang menikmati tugasku yang menumpuk. Di depan laptop, aku merasa aku tak mau diganggu.

“Sama Ayah, sana! Ibu sedang kerja,” sergahku cepat karena saat itu adalah waktu suami meng-handle anak. Aku tak mau dia terus merengek, karena ini akan memperlambat kerjaan.

“SAMA IBUUUUUUUU!” teriaknya sambil menangis.

“Mulai lagi!”

Aku menghembuskan napas kasar. Sebenarnya bukan maksudku membuat situasi lebih rumit. Tapi otak reptil ini lebih menguasai pikiranku saat itu. Bola mataku seperti akan keluar. Aku hanya ingin membuat Akhtar diam. Tapi nyatanya, aku malah semakin sakit. Bukan saat itu, tapi saat tangisannya sudah berhenti. Penyesalan itu datangnya belakangan!

Bukan sekali dua kali, situasi aneh ini membuatku harus ekstra hati-hati saat bersamanya. Seperti seorang cowok yang nggak mau ceweknya ngambek. Seribu dugaan ada dalam pikiran. Apakah saat aku melakukan ini, Akhtar akan suka? Atau dia lebih suka aku menyikapi hal itu dengan begini? Ah, rumit!

Hingga suatu hari, tanpa ampun aku menghukumnya yang tak mau menghabiskan makanan yang telah kumasak. Aku yang dulu bahkan sangat sabar membersamainya makan, hari itu kalap.

“NASINYA DIMAKAN! SAYUR JUGA!”

Aku yang sudah tak tahan lagi memberitahu, tidak, tepatnya membentak Akhtar karena dia hanya memakan lauk yang kusiapkan. Padahal di dalam piringnya, masih ada nasi yang hanya dimakan sesuap dan sawi yang bahkan dilirik pun tidak.

Ke mana anakku yang dulu suka sayur? Ekspektasiku saat itu sangat tinggi. Teramat tinggi. Aku lupa bahwa anak cenderung memilih apa yang hanya dia sukai di usianya sekarang. Aku yang berharap banyak dengan meluangkan waktu memasakkan sup ayam kesukaannya harus kecewa dengan penolakan anak bertumbuh tambun itu.

Hatiku mencelos. Aku meninggalkannya sendirian di kursi makan. Aku ancam bahwa dia tak boleh keluar dari kursi sebelum aku melepasnya. Buruk, benar-benar ibu yang buruk, pikirku. Namun, aku tetap pada kemarahanku.

Tapi apa yang terjadi, setelah aku menenangkan diri di ruangan lain, Akhtar malah tersenyum menyambutku.

“Ibu sudah nggak marah!” pekiknya kegirangan. Mengalahkan girangnya para suporter bola yang timnya mendapat angka karena membobol gawang lawan. Seperti tabuh genderang para suporter, dia sangat bahagia bahkan setelah aku sakiti secara batin.

Ibu macam apa aku? Kenapa hal sepele saja membuatku jahat begini? Aku hanya bisa menangis semalaman. Mencoba mengingat kembali, apa sebenarnya motif di balik semua kemarahanku ini. Atau aku yang tak becus jadi ibu?

Aku menarik diri. Semua pekerjaan kudelegasikan ke ahlinya. Mencuci ke tukang laundry, makanan kubeli di warung, Akhtar kutitipkan ayahnya. Aku benar-benar harus membereskan hatiku. Aku takut, aku malah akan memberi dampak buruk kepada anakku.

Aku memutuskan pergi keluar, menyusuri jalanan kota yang sudah kutinggali selama 8 tahun. Sampai aku berhenti di depan warung internet multimedia. Warnet legend yang sering kutumpangi saat aku harus mengerjakan skripsi dulu. Aku yang tanpa rencana, akhirnya memasuki warnet itu.

“Ibu yang buruk, tak akan menyesali perbuatan buruknya kepada anaknya. Ibu yang buruk tak akan terusik, dan ia tak akan menangis dan meminta maaf kepada buah hati setelah menyakitinya. Ibu yang buruk tak akan belajar dari kegagalan untuk kesuksesan pengasuhannya.”

Sebuah tulisan tentang ibu yang buruk, masuk di beranda media sosialku. Setengah jam di warnet, gundukan air di pelupuk mata semakin menggelayut. Dengan susah payah, aku menahan tangi dan hanya bisa sesenggukan.

Pokoknya, setelah ini, aku akan pulang memeluk Akhtar dengan hangat. Iya, aku bukan ibu yang buruk, Nak. Semoga kau mau menerima permintaan maaf dari ibumu yang kemarin gagal menghadapimu.

Dengan cepat, aku mematikan komputer dan berlari kecil menuju kasir. Aku tak sabar bertemu denganmu, pangeran kecil. Tunggu aku, tunggu ibumu!

Baca juga: Kisah Nyata Pesta Dadakan dan Wafer Tumpuk

error: Content is protected !!