Cara Mengelola Keuangan UKM dan Keluarga untuk Ibu

“Financial Literacy is just as important in life such as the other basics”.

John W. Rogers, Jr.

Ke Mana Uang Usaha Kita?

“Duh, uang jualan yang kemarin di mana ya? Kok di dompet malah udah abis?”

Sounds familiar enggak, Bu? Uang jualan yang baru masuk dan buat muter beli stok, malah hilang tak bersisa. Aku pernah dan sering. Ternyata untuk mengelola usaha bagi ibu pemegang ekeonomi rumah tangga itu ada ilmunya sendiri.

Salahku juga sih, aku enggak serius juga memulai usaha. Tadinya aku nyoba cuma buat ngisi waktu dan alhamdulillah kalau ada untung. Bisa buat nambah jajab anak. Gitu aja. Tapi kok, lama-lama aku keteteran dan buntung.

Yuk bagikan tips mengelola keuangan kepada orang-orang tersayangdi sekitar Anda #IbuBerbagiBijak (Sumber: Foto pribadi)

#IbuBerbagiBijak, Talkshow dari Visa tentang Edukasi Finansial

Kemarin, aku tercerahkan banget. Alhamdulillah Visa sudah mengundangku menjadi peserta talkshow #IbuBerbagiBijak. Bahasannya cocok buat kita, Bu. Gimana sih cara ngelola uang usaha tapi kita pun ngelola uang rumah tangga?

Acara kemarin menghadirkan Prita Ghozy, edukator keuangan Indonesia. Belia enggak pelit ilmu loh. Makanya, di tulisan kali ini dan selanjutnya, aku bakal bocorin semua ilmu keren darinya. Ada juga Pak Noor Hafid, Kepala Bagian Industri Keuangan Non Bank OJK ikut berbagi cerita tentang investasi.

Tiga Kunci Mengelola Uang Usaha dan Uang Rumah Tangga (Pribadi)

Bahasan keduanya akan aku bagi jadi 3 (tiga) tulisan. Kali ini aku buka dulu dengan ilmu dari Mbak Prita. Setidaknya ada 3 kunci yang kusimpulkan dalam mengelola keuangan UKM.

Kunci pertama yang kudapat adalah, mau usaha apa pun, kita sebagai ibu jangan pernah bikin UKM yang enggak dapat untung! Mbak cantik Prita Ghozy menekankan ini.

Kalau dipikir-pikir, iya juga. Sebagai ibu, kita punya tanggung jawab mendidik anak dan mengurus rumah tangga. Misalnya kita sudah selesaikan prioritas di rumah dan perlu tambahan pemasukan, berarti kita harus serius.

Waktu, tenaga dan uang yang kita keluarkan untuk UKM kan di sela-sela me time, jadi harus berprofit.

Kunci kedua nih, yang tadi aku sebutkan, jangan mencampur uang UKM dengan uang dari suami. Catet! Lah, bukannya itu akhirnya jadi uang kita? Bener, tapi sesuai kunci pertama bahwa kita harus dapat keuntungan dari usaha, kita juga harus serius kelola keuangannya.

Itu berarti, memisahkan uang pun dilakukan dalam rangka merencanakan kelanjutan usaha kita. Pusing kan kalau mau beli stok untuk dijual lagi malah enggak ada uangnya? Bingung kan kalau mau ngitung modal dan untung (atau malah rugi) sudah oke atau belum jika uangnya enggak ada?

Kunci terakhir adalah mengelola keuangan dengan profesional. Ini nanti kita bahas selanjutnya di tulisan berikutnya ya. Bahasannya bakal lebih detail jika dibagi dua bagian. Tapi, aku akan bocorkan sedikit biar bisa membayangkan dulu.

Mengelola Keuangan UKM dengan Profesional

Pemateri Talkshow Visa (Sumber: Foto pribadi)

Seperti tajuk talkshow kemarin, bagikan tips-tips mengelola keuangan kepada orang yang tersayang, aku akan berbagi dengan cuma-cuma dengan kalian, Ibu. Semoga apa yang aku share bisa bermanfaat. Pelan-pelan ya bacanya, kosongkan gelas. Bismillah.

Ini semua materi dari Mbak Prita Ghozie. Aku coba tulis ulang apa yang kudapat. Bahasannya ada 5 bagian, yaitu:

  1. Tantangan Menjadi Pemilik Usaha
  2. Membuat Rencana Usaha
  3. Manajemen Keuangan
  4. Usaha dan Pribadi
  5. Tips untuk Womenpreneur

Tantangan Menjadi Pemilik Usaha

Yuk kita bahas nomor satu dulu. Apa sih yang menjadi tantangan para pemilik usaha? Setidaknya ada tiga tantangan:

  1. Mau Usaha Apa?
  2. Tidak Tahu Untung Versus Rugi
  3. Pertimbangan Lain

Ketiga tantangan itu jika dijelaskan lebih rinci akan menghasilkan ilmu awal memulai usaha. Usaha yang ingin dilakukan apakah merupakan hobi kita? Kalau mau dilakukan, ada enggak pasar atau marketnya nanti? Pas usaha, apakah kita suka dengan jam kerja kita nantinya?

Pertanyaan tadi kudu kita jawab agar kita bisa profesional nantinya. Setelah tantangan pertama, kita berlanjut ke tantangan kedua. Untung atau rugi?

Kadang, karena uang tercampur dengan uang suami, kita enggak tahu nih dapat untung atau buntung? Jadi kunci kedua dariku harus dilakukan, pisahkan keuangan. Kalau bisa punya masing-masing catatan arus kas, baik UKM maupun pribadi.

Lalu tantangan berikutnya, modal UKM dan biaya dari mana? Ini juga harus dipikirkan. Karena nantinya kita kudu mengembalikan modal itu atau bisa juga untuk mengmabangkan usaha kita. Apakah kita mau kerja sendiri atau gotong royong?

Tantangan-tantangan ini harus kita hadapi dan selesaikan untuk menjadi pelaku UKM yang profesional. Bahasan nomor 2 sampai 5, akan aku kulik lebih dalam di tulisan selanjutnya.

Sumber:

Talkshow #IbuBerbagiBijak tentang Edukasi Keuangan Visa oleh Prita Ghozie.

Begini Loh Cara UKM Kreatif Bisa Bikin UKM Maju

Menikmati sebuah cup of cokelat, dengan tajuk “Jajan Tonggo Nglarisi Konco” karya UKM Omah Jogja. (Sumber: Foto Pribadi)

“Aku selalu percaya, kreatif itu dilahirkan dari hal yang kere. Loh kok bisa?”

Me, 2019

Kere dan Aktif

Dulu ibuku pernah bercerita, mungkin lebih tepatnya bercanda. Bahwa kreatif itu berasal dari dua kata, yaitu kere dan aktif. Kalau bahasa Jawanya tuh, kere adalah miskin. Miskin di sini menandakan bahwa seseorang enggak punya sesuatu yang ia butuhkan.

Nah karena kere, dia menjadi aktif untuk memiliki hal tersebut. Pernah ngerasa terdesak karena harus mengerjakan sesuatu yang belum selesai? The power of kepepet inilah biasanya yang datang. Kreatif akan muncul di power ini.

Begitulah bincang siangku tadi bersama Bu Poppy, salah satu peserta pameran yang diselenggarakan Dinas Koperasi UKM di Yogyakarta . Di sebuah halaman Alun-Alun Sewandanan Pakualaman, aku selalu amazing atas kreativitas usahanya dan kemajuan yang sangat pesat.

Namun sebelum kita mengenal lebih dalam inspirasi dari Bu Poppy dan teman-teman UKM lain, mari kita lanjutkan melihat apa saja yang aku temukan di sana tadi siang.

Pelanggan DeHijau yang tertarik membeli makanan organik dan sehat untuk anaknya. (Sumber: Foto pribadi)

Gelar Produk UKM Kuliner

Hari ini tanggal 7 September 2019, aku bergerilya memborong jajan untuk camilan bocah (juga emaknya). Setiap acara gelar produk pelaku UKM Jogja ini, aku sangat excited.

Dulu, saat aku baru mengurus anak dan merasa sendirian, aku selalu mengeksplor ilmu dari media sosial dan internet. Di sana tuh banyak sekali ilmu yang tak aku dapatkan sebelumnya, salah satunya makanan/minuman sehat.

Jauh dari orangtua dan sanak saudara membuat aku dan suami belajar mandiri. Kudu kreatif agar bisa maju, seperti tema gelar produk hari ini. Makanya, ini sungguh relatable sama kehidupanku dan menginspirasiku untuk bercerita apa yang kudapat lebih detail.

Empat produk kreatif Bu Poppy. Dari kiri-kanan, tahap makanan anak dari 6 bulan (Sumber: Foto pribadi)

“DeHijau” by Bu Poppy: Semua Ini karena Kelahiran Prematur

Bu Poppy yang memiliki anak dengan kelahiran prematur dan membuatnya maju untuk usaha.

Seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Apa yang bisa seorang
ibu lakukan, itulah aksi heroiknya sebagai pembawa surga di telapak kaki.
Begitu juga Poppy Amalia. Ibu tiga orang anak ini memulai UKM-nya karena
dorongan cinta.

Sulungnya saat MPASI sangat berhati-hati dalam mengonsumsi makanan. Apa
daya, hanya Allah yang kuasa memberi rezeki kepada hamba-Nya. Bu Poppy pun
harus pasrah merawat anaknya yang lahir prematur.

For your information, anak yang lahir prematur memiliki berbagai pantangan
sebelum ia tumbuh dewasa. Dengan kekebalan tubuh yang tidak semaksimal anak
lahir pada waktunya, Sulung harus menjaga asupan yang masuk ke usus kecilnya.

Sambil memutar otak, beliau mencoba mengambil banyak ilmu dengan mencari.
Makanan organik dan sehat menjadi keharusan. Maka, setelahnya Bu Poppy harus
terjun ke dapur mengolah makanan ini.

Organik adalah alami atau natural. Akhir-akhir ini booming karena banyaknya
orang yang ingin sehat melalui makanan alami. Dari dr. Tan, sehatnya makanan
berawal dari makanan yang didapat dari sumber alami. Cara pengelolaannya tanpa
bahan buatan, misalnya pupuk organik dan lain sebagainya.

UKM Kreatif, UKM Maju

Nah, maka untuk menjadi maju, seseorang berawal dari akronim ‘kreatif’ tadi.
Tak punya kekebalan tubuh yang maksimal, membuat Bu Poppy aktif mencari cara
agar Sulung sehat. Dari godogan kreatif pula, dia bisa maju seperti sekarang.

Bu Poppy adalah sosok Srikandi yang kreatif pula dalam mengembangkan
usahanya. Tak tanggung-tanggung, dirinya selalu berinovasi dalam memanfaatkan potensi
penduduk sekitar Jogja.

“Semua bahan yang saya gunakan hampir organik, Mbak, kecuali cokelat. Cokelat itu semi organik, karena tanah di Jogja tidak mendukung,” tutur ibu lulusan sarjana pendidikan Bahasa Inggris ini.

Menggerakkan perekonomian orang lain berarti turut serta memajukan. Tak hanya itu, dengan bantuan Dinas di Provinsi, beliau maju untuk menambah total kekurangan 58% ekspor kuliner dari Jogja.

Dari total 60% UKM kuliner di Jogja, hanya 2% yang berdaya guna mengekspor produknya,” Bu Poppy membuatku tercengang.

Fi-az by Fifi, Adek SMP yang Berdaya Guna

Adek Fifi dengan sigap melayani.
(Sumber: Foto Pribadi)

Adek kecil kita ini, masih kelas 2 SMP. Namun, di hari Sabtu masa liburnya, dia malah nungguin stan minuman jamu bikinan ibunya.

“Aku lagi libur, Mbak. Jadi bisa bantu nungguin dagangan Ibu,” kata gadis kelahiran 2006 ini.

Selalu terenyuh dengan anak-anak yang mau membantu orangtua. Apalagi dengan keinginan anak itu sendiri. Kreatif seperti adek satu ini. Fifi, adek yang pintar menjawab pertanyaanku, sigap melayaniku.

“Jadi ini buat sampel aja, Mbak. Untuk produk yang dijual, pakai botol yang unik ini,” katanya sambil menyodorkan satu botol dengan harga hanya Rp5.000.

Memajukan usaha berarti mengembangkan sayap. Seperti itulah Fi-az Jamu ini. Selain titik penjualan di pinggir jalan, jamu dapat dibeli di Mirota Kampus.

Jamu yang botolnya unik, apalgi ada masa expired-nya. (Sumber: Foto Pribadi)

Aku suka dengan jamu ini karena produknya menyertakan label tanggal expired. Jarang jamu lain yang menggunakannya, kan? Aku pun jadi merasa aman mengonsumsinya.

Omah Jogja by Bu Cecilia: Kreativitas dalam Tajuk Usahanya

Melewati stan minuman dan langsung amaze sama tajuk “Jajan Tonggo Nglarisi Konco”. Dalam bahasa Indonesia artinya “Jajan ke tetangga, bikin laris teman”.

Omah Jogja dengan tiga varian minumannya, Dark Chocolate, Matcha dan Cokleat Susu, membuatku berhenti dan memesan satu gelas Dark Chocolate hangat. Siang itu Bu Cecil memberikanku semangat lewat senyum dan tajuknya.

Bener banget kalau tetangga adalah orang terdekat kita. Bahkan dalam Islam, tetangga harus kita ayomi, dibuat nyaman dengan keberadaan kita. Banyak konflik tetangga muncul karena tidak mengindahkan petuah Islam ini.

Bu Cecil yang murah senyum, menuang cokelat ke gelas dan mengaduknya untukku. (Sumber: Foto pribadi)

DI balik semua itu, membeli UKM tetangga membuat mereka berdaya. Sering enggak kita beli sesuatu yang sebenarnya ada di toko sebelah, tapi malah larinya ke swalayan kecil jauh dari rumah?

Inilah tajuk yang coba Bu Cecil angkat. Bahwa memberi manfaat dan rezeki ke tetangga membuat mereka maju. Kreatif yang bisa dilakukan karena berdaya dari kita. Setuju?

Ini 5 Cara Kreatif yang Bikin UKM Maju

Dari ketiga cerita Srikandi ini, aku jadi menyimpulkan ada 5 cara agar UKM kreatif lalu bisa maju. Baca satu per satu dengan ikhlas, ya. Walaupun masih belum sempurna, semoga cara-cara ini bisa menginspirasi.

1. Lakukan Dulu

Usaha bukanlah usaha jika ia hanya dalam pikiran saja. Saya sering berdebat dengan Bapak saya soal apa usaha yang akan beliau tekuni. Maklum, Bapak sudah pensiun. Beliau ingin mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan membuka usaha di rumah.

Sayang, beliau hanya merencanakan dan membayangkan. Aksi adalah segalanya. Memang, untuk keberanian orang yang berumur itu beda dengan usia di bawahnya. Dulu, saya malah tidak berpikir akan aksi saya yang nekat menjadi broker konveksi seragam.

Tapi walau begitu, saya selangkah di depan karena sudah mengecap gagalnya usaha. Setidaknya saya bisa lebih tahu bagaimana usaha dijalankan dan apa saja penyebab kegagalannya. Hanya saya memang hanya bertahan dua tahun saja.

Beda dengan Bu Poppy yang bertahan bahkan melejit sampai tujuh tahun dalam usahanya DeHijau ini. Dibangun dengan modal trust dari pelanggan, ia melebarkan sayap.

2. Pelanggan adalah Aset

Jika kamu tidak bisa merawat hubunganmu dengan pelanggan, ia akan menjadi orang yang sambil lalu. Begitu juga dengan UKM yang sedang berjalan tadi.

Adek Fifi dan ibunya dengan membuat banyak titik jualan di pinggir jalan. Ini membuat pelanggan tetap bisa membeli dekat rumahnya. Bu Cecil yang membuat berbagai varian minuman setelah pelanggan memintanya.

Pun dengan Bu Poppy yang akhirnya mengembangkan banyak produk sesuai permintaan. Pelanggan yang loyal akan kembali dan terus kembali. Meningkatkan trust mereka dengan membuat mereka tak lari, misalnya menjaga kualitas makanan tetap sama dengan SOP.

3. Tetangga adalah Modal

Modal sumber daya manusia memang kadang membuat suatu UKM merasa menjadi beban. Bagaimana tidak, jika SDM ini susah didapatkan karena terus menunggu yang terbaik.

Bu Poppy dengan semangat menjadi manfaat, berkeliling Jogja mencari petani bahan organik untuk produk olahannya. Bukan dengan mencari satu sumber, tapi semua sumber beliau sambangi.

Ada pengusaha tepung pisang organik di daerah Srandakan, Bantul; petani cokelat di Kulonprogo, juga petani beras organik di Panggungharjo, Sewon. Ini sebagian kecil orang yang dia ajak untuk bekerja sama.

4. Jangan Lupa Ilmu

Terkadang, seseorang lupa untuk terus meng-update ilmunya. Orang yang ingat untuk terus mengisi adalah orang yang merasa kosong, merasa kurang. Seperti pelaku UKM siang ini.

Bu Poppy, Adek Fifi dan Bu Cecil selalu mencari cara agar usahanya tidak stagnan, atau bahkan tutup. Bermacam komunitas diikuti, seperti PLUT-KMUKM yang telah memberi banyak bantuan terhadap UKM di Jogja agar terus maju.

Kelas yang meng-upgrade pelaku UKM, pelatihan khusus, hingga pameran yang setiap bulan diadakan akan menjadi tangga. Ilmu di dalamnya mahal, karena pemiliknya menambahkan tiap-tiap waktu.

Maka, UKM yang kreatif akan maju dengan ilmu yang dimilikinya. Semakin kuatlah penopangnya dan membuatnya bertahan dengan segala ujian.

5. Berinovasi

Setelah berusaha dengan apa yang sudah ditekuni, Bu Poppy banyak melakukan kemajuan. Bahkan Oktober ini dia dan teman-teman akan mulai menyambangi pelabuhan. Ini dilakukannya untuk menambah jumlah ekspor dari Jogja yang hanya 2%.

Dari 60% UKM kuliner Jogja, 58% hanya sampai di taraf nasional. DeHijau berinovasi untuk memajukan UKM dan berdaya guna bagi negara dengan melebarkan sayap ke ranah internasional.

Ini memang bukan hal yang mudah. Ekspor memiliki banyak syarat yang harus pelaku UKM lakukan agar kualitasnya setara apa yang diinginkan oleh pembeli. Namun, berinovasi akan menjadi pintu bagi para pelaku UKM dalam memajukan usahanya.

Kalau tidak dicoba, tidak akan tahu hasilnya, kan?

Hasil jajan di Gelar Produk Pelaku UKM 6-7 September 2019.
(Sumber: Foto Pribadi)

Lalu, kalau kita masih menjadi pelanggan dan belum menjadi pelaku UKM, bagaimana maju? Bisa banget! Berkaryalah dengan apa yang kau suka, juga apa yang kau bisa. Kreatif dan maju berasal dari diri apa pun medianya.

Bukankah dengan menggeluti apa yang sudah ada dalam diri, lalu menghasilkan dan berdaya beli di UKM lokal, kita bisa berpotensi lebih memajukan perekonomian negara. Semoga, ya!

Hasil memborong camilan dan minumal UKM lokal yang kualitasnya nasional. (Sumber: Foto Pribadi)

Cara Mendapatkan HAKI: Hak Kekayaan Intelektual

Saat main ke Twitter, saya lihat gambar yang menarik tentang Mendoan. Siapa yang belum tahu mendoan? Tempe bermandikan tepung goreng setengah matang dari Banyumas dan sekitarnya.

Tapi bukan karena penampakan produknya, penampakan kocak yang diunggah @personafikasi ini menjadi viral karena gerobak mendoan menggunakan logo brand restoran siap saji.

Pasalnya logo huruf ‘M’ berwarna kuning tersebut terpampang di gerobak miliknya dengan tambahan tulisan ”MenDoan’s” yang dibaca mendoan atau gorengan yang berasal dari olahan tempe. (Hitekno.com)

Nah, kamu tahu enggak kalau gambar viral tersebut menimbulkan potensi aduan perdata, bahkan pidana. Hanya karena nyomot gambar brand secara asal dan dimodif sendiri, ancaman denda beratus juta sampai dipenjara.

Ngeri kan, ya?

Makanya, kita sebagai pemilik usaha atau karya kudu tahu tentang KI. Biasanya dalam karya yang dikomersilkan ada tulisan Copyright. Atau kalau dalam bahasa Indonesia disebut hak cipta. Nah, hak cipta termasum dalam KI atau kekayaannya intelektual

Sumber: Suara.com
Hak Kekayaan Intelektual dibahas dalam Forum Sosialisasi di Yogyakarta

Nah, hari ini saya berkesempatan ikut Forum Sosialisasi Kepatuhan terhadap Hak Kekayaan Intelektual. Forum ini diselenggarakan oleh Kominfo, Kemenhumkam dan Dinas Koperasi UMKM.Dari Hotel Sheraon Mustika Yogyakarta, ketiga narasumber menyampaikan pentingnya perlindungan Kekayaan Intelektual.

Kalau dari fenomena Mendoan’s tadi, kekayaan intelektual ternyata belum viral di masyarakat. Seperti yang disampaikan Pak Handi Nugroho, SH. MH, selaku Kasi Utama Kerja Sama Lembaga Non Pemerintah dan Monitoring Kemenkumham, kurangnya pemahaman masyarakat atas HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) menyebabkan turunnya nilai ekonomis suatu usaha.

Banyak kasus hukum tentang hak cipta, dari tahun 2011-2016 saja sudah ada 662 delik aduan. Dulunya CD dan DVD yang banyak disalin ilegal merajai, kini unduhan dan streming ilegal merajalela. Dalam sebuah penelitian, Indonesia, Srilanka, dan Thailand memiliki ilegal KI sebanyak 90%, yaitu pemalsuan merek. Bahkan tak hanya itu, LPMM UI meneliti bahwa kerugian pemalsuan Rp65,09 T.

Kerugian HAKi sangat besar dan berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Perlu langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran akan haki. Kominfo dan kemen hujan membuat 2015, nota kesepahaman sosialisasi guna mendukung akan hak masyarakat.
Maka dibuatlah forum ini. Sarana edukasi biar masy tau akan haknya dan mendaftarkan

Jenis-jenis HAKI

Secara umum, KI dikelompokkan dalam 2 bagian besar, yaitu:

  1. HAK CIPTA dan HAK TERKAIT;
  2. HAK KEKAYAAN INDUSTRI, yang mencakup: Paten; Merek & Indikasi Geografis; Desain Industri; Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu; Rahasia Dagang; dan Perlindungan Varietas Tanaman (PVT);

-Kekayaan intelektual
Sekumpulan hak-hak hukum
-Semua karya manusia dapat dilindungi
Tidak, hanya yang memenuhi syarat sesuai undang-undang
-Jenis-jenis KI
Hak cipta, paten, desain industri, perlindungan varietas tanaman (oleh Kementerian Pertanian),
-Mengapa perlu dilindungi
Agar bernilai ekonomi (ada nilai ekonominya).

Jika kita sudah tahu tentang HAKI, lalu gimana sih untuk mendaftarkan HAKI tersebut? Yuk kita cek tips pendaftaran HAKI:

Cara memperoleh perlindungan KI
1. Deklaratif
Hak cipta
Hak terkait
2. Konstitutif (sertifikat)
3. Diam-diam
Dijaga/disimpan keharisaan. Contob Rahasia dagang

Asas-asas Umum
1. Hak berlaku Nasional/teritorial (ada Konvensi untuk internasional
2. First to file system (kecuali hak cipta first time publish)
Buku hilang dan orang yang menemukan yang memiliki hak cipta (diumumkan).
3. Mensyaratkan kebaruan dan orisinalitas kec. Merek
4. Ada jangka waktu perlindungan dan tidak bisa diperpanjang kecuali merek (paten sederhana 10 tahun)
Hak cipta 70 tahun
5. Jenis detiknya delik aduan (harus pemiliknya yang mengadu)

Hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif/pengumuman atas karyanya di bidang seni, literatur, dan ilmu pengetahuan.
Tuntut pidana bisa ditahan.

Hak terkait adalah hak Yang terkait dengan hak cipta seperti hak artis (performer), hak produser rekaman (producer of phonogram), hak lembaga siaran (broadcasting organization)
Misal merekam dan mempublikasikannya dari konser dll. Ilegal donloading dan illegal streaming yang paling banyak setalah ilegal DVD.

Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk dia dimensi dan 3 dimensi atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan jasa yang diproduksi oleh orang/badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa.

Membuat merek dagang indomaret misalnya 250jt/gerai/jangka waktu.
80% dari aset adalah merek (KFC, mcd dll).

Tips pendaftaran KI
1. Tentukan jenis KI
2. Lakukan searching terkait KI

Arti penting
1. Sebagai jaminan kepastian hukum dan kepastian berusaha
2. Sebagai alat pengenal bisnis atau brand image
3. Sebagai alat promosi
4. Sebagai alat bisnis intangible
5. Sebagai sumber bisnis baru melalui invensi dan inovasi
5. Sebagai alat untuk meningkatkan daya saing atau posisi tawar perusahaan dalam perdagangan dan investasi.

Dalam 1 menit di dunia ada 347rb yang pakai instagram. Dari 4 dari 10 aktif di medsos. Tak bisa hidup tanpa HP dalam 7menit. Akses internet 8-11 jam. Baca buku 27 halaman pertama tahun (minat baca 60 dari 61)

Ancaman untuk Hoax, radikalisme, penipuan, pornografi, bullying, prostitusi, pelanggaran HKI, SARA, Hate speech

Bulan Mei ada pengaduan dari KI dan ditindaklanjuti. Seperti contoh pelanggaran mengklaim CS kompor Modena. Terbesar hoaks adalah dari medsos.

Dari Ibu Lusi selaku wakil dari Dinas Koperasi UMKM

Karakteristik UMKM
1. Ganti usaha sewaktu-waktu
2. Tempat usaha tidak menetap
3. Cepat puas (tidak mau mengupgrade produk yang bisa meningkatkan nilai ekonomi)
4. Belum melakukan administrasi keuangan dengan baik atau belum memisahkan keuangan keluarga
5. Jiwa wirausaha kurang diolah dan dikembangkan
6. Umumnya belum akses kpd perbankan karena kurang info

#CerdasHukum #forumHKIkominfo_yogya

Inspirasi Cinta Bumi pada Grebeg Lebaran PLUT Jogja 2019

Ela, gadis manis yang baru lulus SMA ini ikut memasarkan batik eco-print milik ibunya.

Stan INALU, Batik Eco-Print Ramah Lingkungan

Ela, Gadis Manis Baru Lulus SMA yang Pintar

“Demi gaji, Mbak,” ujarnya sambil meringis saat aku menanyakan apa motivasinya ikut di pameran UMKM ini. Seorang gadis yang baru menginjak usia 17 tahun ini terlihat percaya diri saat saya menanyakan tentang produk eco-print. Ternyata, dagangannya kali ini adalah titipan ibunya.

“Kata Ibu, daripada aku nganggur di rumah. Kan udah lulus dan bebas tanggal 18 Mei kemarin ini. Daripada main HP aja katanya. Ha-ha-ha. Ya, demi gaji kan, Mbak?” Pipi Ela, gadis penjaga stan batik eco-print, merona dan saya pun tergelak. Tak menyangka, gadis penjaga salah satu pameran ini adalah anak seorang pengusaha UMKM.

“Ibu sudah lama berkecimpung di bidang ini, Dek?” tanyaku ingin tahu. “Emmm, sekitar tiga atau empat tahun yang lalu,” ujarnya sambil membetulkan letak kacamata hias di wajah.

“Wah, berarti saat kamu masih akhir SMP atau masuk SMA ya?”

“Iya, Mbak. Saya malah sering disuruh nyoba bikin sama Ibu.”

Hebat, pikirku. Saat remaja seusianya lebih suka main atau bahkan fokus memikirkan si dia, eh, Ela bahkan mau belajar membatik kontemporer ini. Saya terhenyak setelah mendengarkan banyak kisah dari Ela, gadis ini ternyata sangat menguasai produk UMKM yang diikutkan dalam pameran Grebeg Lebaran 2019 siang itu.

Eco-print, Tak Hanya Soal Mencetak

Batik eco-print ternyata memiliki harga jual tinggi. Saat saya bertanya salah satu produk cardigan harganya di atas 400 ribu rupiah.

“Emang mahal, Mbak,” Ela seperti mengerti keheranan saya saat mendapat jawaban harganya. “tapi sebanding dengan proses pengerjaannya,” sambungnya.

Dikutip dari wargajogja.net, batik eco-print pertama kali digagas oleh seorang warga negara Australia bernama India. Popularitas batik eco-print ini naik pesat di Indonesia pada 2017. Salah satu penyebabnya adalah tren gaya hidup masyarakat ramah lingkungan.

Kenapa dikatakan ramah lingkungan? Jika dirujuk dari namanya, eco berasal dari kata ekosistem (alam termasuk yang ada di Bumi) dan print yang artinya mencetak. Lalu diperluas dengan arti bahwa bahan berupa kain ini dicetak dengan bahan-bahan yang berasal dari alam, yaitu daun.

“Daunnya bisa jati, kenikir, dan lain-lain, Mbak. Syaratnya tuh harus berwarna kuning (agak tua),” tukas Ela. Proses pembuatannya diawali dengan pengolahan kain. Kain putih direndam dulu dengan air tawas agar lilin yang menyelubungi kain, bisa luruh. Manfaatnya adalah untuk mempertahankan warna dasar kain dan juga membuka pori-pori kain. Setelahnya, dilanjutkan dengan pengeringan.

Saat pengeringan pun, ternyata tidak boleh dijemur di bawah matahari langsung. “Kudu diangin-anginkan saja, Mbak, dua sampai tiga hari,” kata Ela. Saat saya tanya kenapa hanya dianginkan, ternyata kualitas kain yang dijemur angin-angin lebih baik daripada yang langsung terpapar sinar matahari.

Selanjutnya, proses mencetak daun. Dalam proses ini, terkadang bisa di-skip. Dari butik Inalu ini, pembeli bisa memesan corak batik sesuai keinginan. Maka, saat corak yang dipesan, misalnya, ada corak daun di bahu kanan-kiri saja, maka prosesnya adalah dijahit dulu bahannya. Setelah dijahit, proses mencetak dapat dilakukan sesuai pesanan.

Untuk pameran, Inalu menyiapkan sendiri produk yang akan dipamerkan. Produk inilah yang memakai proses mencetak setelah diangin-anginkan. Daun ditata di satu sisi kain secara abstrak. Setelahnya, kain ditutup plastik lalu digulung. Di sini kita harus teliti agar tetap mempertahankan posisi daun. Kain yang sudah tergulung, diikat kencang.

Tahap ini merupakan tahap yang ditemukan setelah eksperimen Ibunya Ela berkali-kali. Tahapan pengukusan agar warna daun tercetak. Gulungan kain tersebut dikukus selama sepuluh jam, tidak boleh lebih atau kurang. Saat waktu kukus meleset, maka kualitas kain akan menurun. Seperti metamorfosis kupu-kupu pada tahap kepompong ya? Oh ya, daun yang tercetak di kain tergantung pada warna daun asalnya. Untuk daun jati, warna kuning kecoklatanlah yang akan mendominasi.

Dari 2 Juta Disulap Menjadi 300 Juta Rupiah

Para ibu sedang mengunjungi butik Inalu

“Eh, kalau untuk masyarakat Jogja, kayaknya nih, harganya belum terjangkau ya?” tanya saya kepo. Tak dapat dimungkiri, harga produk batik eco-print ini lumayan tinggi. Pashmina yang saya pegang pertama kali di rak Inalu mencapai 200 ribu rupiah. Bandingkan dengan pashmina kain bukan eco-print, paling mahal 99 ribu rupiah.

“Nah, makanya Mbak, kami menjualnya tertarget. Kami menjual di saat musim semi dan panas kepada bule-bule,” ujar gadis campuran Pati-Jakarta ini. Ternyata, E-bay dan Amazon adalah toko daring terlaris butik Inalu. “Selain itu, kami sering ikut pameran di Bali dan Jakarta, di sana kemampuan pembeli lebih tinggi, Mbak.” Ela menjelaskan dengan semangat tinggi.

“Bahkan sebenarnya, kalau kami ikut pameran itu, kami kayak main terus pulangnya bawa duit lebih banyak dari modal main itu.” Ela menarik napasnya dan melanjutkan, “Kemarin kami sekeluarga ke Bali lima hari pakai mobil bawa produk ke pameran. Modalnya 2 juta lah, pulang-pulang bawa 300 juta.”

Dahsyat! Hampir 150 kali lipatnya! Tak bisa dipandang remeh urusan wirausaha batik eco-print ini. Saat tahu celah pelanggan tertarget, kita bisa mendapatkan lebih banyak pesanan. Saat batik ini konsisten dipasarkan, sekitar 25-30 potong produk bisa habis dalam sebulan, di luar penjualan melalui pameran.

Tentang Bolu Thiwul yang Unik

Bolu Thiwul sehat banget

Selain batik eco-print, pameran Grebeg Lebaran ini menyediakan stan penjualan sembako murah, makanan, minuman, tanaman, produk fashion, bahkan alat masak. Nah, saya yang sudah memiliki sembako cukup di rumah, akhirnya mencari jajanan sehat yang bisa dibawa pulang. Pas sekali anak saya lapar.

Di depan panggung untuk pembukaan dan penutupan pameran, ada satu makanan yang menggoda iman, eh, lidah. Terpampang gluten free dalam spanduknya. Bolu Thiwul nama makanannya. Dikemas dalam kotak kemasan berwarna cokelat, terdapat dua varian bolu. Orisinal dan keju parut.

“Akhtar mau yang ini.” Tunjuk anak saya pada bolu thiwul orisinal. “Mau makan sekarang, ya? Boleh?” Anak saya meminta dengan senyum khasnya. Saya mengangguk dan menyelesaikan transaksi.

Makanan ini termasuk makanan sehat. Memakai gula semut organik, bolu ini memiliki citra baik bagi tubuh. Apalagi sematan gluten free, makanan yang berasal dari bahan khas Jogja ini menarik perhatian. Seperti disinyalir bahwa zat berupa tepung akan mengandung gluten. Gluten ini membuat sistem pencernaan bekerja lebih berat.

Nugget Ayam Non MSG, No Micin Euy!

Pengawet adalah musuh besar keluarga kami. Bukan karena rasa gurihnya, tapi karena zat aditif yang bisa merusak kesehatan secara perlahan. Apalagi pengawet bukan berasal dari bahan alami. Maka saat anak saya meminta lauk ayam, saya langsung membelikannya Nugget Ayam Non MSG ini.

Olahan nugget ini tak hanya varian ayam. Kalian bisa menemukan varian ayam sayur dan nugget udang. Kemasannya pun bisa kita pakai ulang. Jadi, saat makan penuh gizi, sampah kemasan pun diminamilisir.

Cao Kelor Pegagan Melegenda

Minuman ini terbuat dari saringan kelor yang dipadatkan. Dalam kemasannya, terdapat dua plastik berisi cao dan gula jawa. Kata Mbak penjualnya, cao ini bisa dinikmati untuk 4 orang. Harganya murah, hanya 10 ribu rupiah per cup, lho. Wah, alternatif cao dari daun cao yang biasa kita beli, ya?

Kelor yang banyak tumbuh di pekarangan ini memiliki banyak manfaat. Selain meningkatkan daya ingat dan konsentrasi, kelor juga mempercepat penyembuhan luka, anti trombosis, sebagai antiseptik, dan juga menstimulasi peredaran darah.

Tips Main ke Pameran Grebeg Lebaran

Eh, jangan salah, mau main ke pameran pun kudu ada tipsnya. Ini nih tips dari saya yang udah main pas hari pertama. Setelah mengingat, menimbang dan memutuskan, ha-ha-ha.

  1. Bawa tas belanja sendiri. Di sini, kita bisa berikhtiar meminimalisir sampah plastik dengan membawa tas belanja sendiri. Alhamdulillah, para penjual di sana memberikan apresiasi saat saya menolak kresek. Tipsnya adalah saat penjual akan mengambilkan kresek, tolak dengan halus. “Mbak, enggak usah pakai kresek. Saya bawa tas kok.” Selain meminimalisir sampah, kita juga membantu penjual dengan mengurangi modal mereka membeli kresek. Iya kan?
  2. Bawa tumbler buat beli minuman. Walaupun saat itu sedang bulan puasa, yang namanya anak belum baligh pasti cepat haus. Apalagi puasanya sampai bedug aja kan, ya? Beli es teh adalah pilihan yang menggoda. Nah, boleh tuh membelinya dengan membawa wadah sendiri. Tumbler dengan kapasitas 500 ml sudah bisa menampung kesegaran khas teh melati.
Begini nih ramainya grebeg lebaran di alun-alun Sewandanan Pakualaman

Review Grebeg Lebaran 2019

Penampakan pameran Grebeg Lebaran PLUT Jogja 2019

Pameran ini dimulai pada tanggal 24 Mei 2019 dan berakhir tanggal 26 Mei 2019. Dibuka pukul 10:00 sampai 17:00 WIB. Saat saya datang, pameran baru saja dibuka. Parkiran motor dan mobil sangat nyaman berada di seberang pameran. Grebeg Lebaran kali ini diselenggarakan di Alun-alun Sewandanan Pakualaman. Lalu lalang pembeli belum seramai saat sore hari. Cuaca yang panas bisa diminamalisir dengan atap teduh yang disediakan panitia. Apalagi ada banyak kursi di depan panggung untuk beristirahat.

Asyiknya, pameran tak hanya soal menjual dan membeli. Pameran pertama hari Jumat, 24 Mei 2019 pukul 13:00 WIB, terdapat edukasi singkat untuk para penjual. Adanya money digital memudahkan transaksi pembeli dan penjual. Salah satu starter up OVO memberikan ide bisnisnya secara gratis. Pun dari salah satu penjual yang sudah memakai OVO setahun lamanya. Dia memberikan insight dengan pengalamannya dengan OVO.

Oh ya, peserta pameran tak hanya dari wirausaha mandiri. BULOG, Aspartan, Tanihub dan masih banyak lagi juga ikut meramaikan Grebeg Lebaran kali ini. Seperti grebeg lebaran lain, harga yang disuguhkan juga tergolong terjangkau. Harga beras per kilo hanya 8.500 rupiah, bahkan daging sapi hanya 80 ribu rupiah per kilo. Ada juga bawang merah yang dihargai 27 ribu rupiah per kilo. Ini sangat membantu di kala semua harga sembako naik pra lebaran.

Makanya, mumpung masih ada waktu esok hari di hari Minggu, 26 Mei 2019, yuk serbu. Pameran buka pukul 10:00 WIB yaa. Nah, alamat Grebeg Lebaran 2019 ini ada sini.

Di Balik Grebeg Lebaran 2019

Tak heran juga, di balik penyelenggara pameran ini adalah PLUT Jogja dan Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. PLUT yang mempunyai visi menjadi Pusat Layanan Terpadu utama yang memampukan Koperasi dan UMKM dalam membangun potensi unggulan daerah. Lihat pula visi Koperasi UKM DI Yogyakarta yaitu “Terwujudnya Peningkatan Kemuliaan Martabat Manusia Jogja”.

Layanan PLUT Jogja berupa Konsultasi Bisnis UMKM, Pendampingan atau Mentoring Bisnis, Fasilitasi akses pembiayaan, dan masih banyak lagi. So, kalian punya usaha dan ingin bergabung? Dilayani, didampingi dan memberi solusi 100% FREE Ini alamat kantornya , siapa tahu butuh.

PLUT-KUMKM DIY, Jalan HOS Cokroaminoto 162 Yogyakarta, Telepon : 0274 552149. Maps Kantor bisa klik di sini.