Berbagi Kebahagiaan Bangun Rumah bersama PruVolunteer di Selopamioro Bantul

Awal Berbagi Kebahagiaan

PruVolunteer Bangun Rumah

Banyak para alim atau orang bijak yang mengatakan bahwa jika kita ikhlas menolong orang lain dalam urusan kebaikan maka nanti Allah Swt. yang akan memudahkan urusan kita. Caranya terkadang enggak bisa kita duga-duga. Dalam kitab suci pun, kebaikan seberat zarah (quark dalam teori fisika) pun kelak akan diberikan balasan.

Seperti tulisan saya sebelumnya tentang Allah Menolongku Lewat Ngantar Anak Yatim, keajaiban demi keajaiban berbagi sepertinya akan tetap menjadi satu kebahagiaan. Kebahagiaan yang kalau mau diucapkan saja susah. Bahwa dalam dunia ini, bukan kekayaan yang ditumpuk yang mendamaikan hati namun senyum seseorang yang mendapatkan sesuatu dari kita. Konsep berbagi apa pun yang kita miliki ini menjadi amal yang tak terputus walau kita kembali kepada-Nya.

Di Greenhost Hotel Kami Bertemu

Seperti hari itu, saat saya dan kawan-kawan bloger diundang oleh Community Investment CSR Prudential untuk menjadi salah satu volunteer pembangunan rumah. Desa Selopamioro Bantul menjadi destinasi kami. Sebelumnya, kami berkumpul dahulu di Greenhost Hotel untuk briefing dan memakai seragam berupa kaos volunteer.

Jajaran tim Prudential di Greenhost Hotel Jogja

Alhamdulillah, setelah sarapan di hotel yang dijamu oleh pihak Prudential, aku mengucap basmallah dan bersiap-siap memasuki mobil jemputan. Ada 4 mobil yang membawa kami ke Selopamioro. Tim Prudential dengan tiga mobilnya, termasuk Jens selaku President Director. Dan kami para blogger di mobil nomor tiga.

Perjalanan ke sana seperti lagu Naik-naik ke Puncak Gunung, kiri kanan kulihat saja banyak pohon. Tapi bukan cemara, kebanyakan pohon yang berdiri itu Jati. Tipikal pohon yang tumbuh di daerah kapur. Sumber air dari mata air yang disalurkan memakai selang. Tak ada sumur, tanah tak bisa dibor. Selain itu, provider yang paling terkenal luas jaringannya saja tak mendapat sinyal. Tepatlah pihak Prudential menetapkan daerah Selopamioro menadi dareah yang layak dibantu.

Ke Selopamioro Bantul, Kami Mengabdi

Sampai sana, jam menunjukkan pukul 9:30 kami menginjakkan kaki di Selopamioro. Kami disambut hangat oleh Lurah Pamioro dan diberikan sambutan bahwa mereka berterima kasih atas prakarsa Prudential yang membantu 30 KK untuk mendapatkan rumah layak huni. Pembangunan rumah ini juga bekerja sama dengan Habitat for Humanity.

Welcome Volunteer!

Setelahnya, kami berolahraga pagi dibantu Pak Lurah. Stretching gitu. Memang, kami akan membantu dalam pembangunan rumah. Maka, setelahnya tim Prudential dan blogger dibagi menjadi tujuh tim. Tim 1 sampai 3 akan membantu dalam wailing. Tugasnya menyaring pasir, mencampur semen dan pasir tadi, membangun tembok, dan membuat cakar. Untuk tim 4 sampai 7 akan berjalan kaki menuju rumah-rumah yang lumayan dekat dengan titik kumpul. Tim ini akan mengecat rumah yang sudah jadi.

Pak Lurah Selopamioro Bantul (batik biru) menyambut tim PruVolunteer.

Saya mendapat bagian wailing di tim tiga. Bersama Mbak Sapti dan Mas Aan selaku blogger, kami berkumpul dengan para karyawan dan eksekutif Prudential. Sepanjang perjalanan, suasana ramah di dalam mobil membuat kami enggak bosan. Sesampainya di calon rumah tim tiga, kami langsung berkenalan dengan calon pemiliknya. Namanya Mas Slamet dan Mbak Susan.

Bagian merah adalah daerah yang mendapat bantuan pembangunan rumah dari Prudential dan Habitat for Humanity.

Menjadi Salah Satu Sebab Senyum Mereka

Mengabadikan pertemuan dengan Mas Slamet dan Mbak Susan, calon penghuni rumah. Serta para teman baru dari Prudential dan Habitat for Humanity

“Anak saya dua, Mas. Satunya usia 7 tahun dan yang kecil usia 3,” jawab Mas Slamet saat salah satu tim Prudential  bertanya. Kami disuguh pisang yang ranum-ranum dan teh hangat. Suasana desa terasa sekali saat menyambut kami. Tidak lama, kami langsung berkumpul sebelum bekerja. Briefing dijelaskan oleh Mas Pandi, selaku ketua tim tim tiga. Beliau juga perwakilan dari Habitat for Humanity.

“Aku mau nembok,” ujarku saat tugas mulai dibagi. Mbak Sapti sesama blogger juga mengambil tugas yang sama. Dulu saat saya kecil, saya pernah bantuin Pak Tukang yang membangun rumah orangtua saya. Jadi, saya pikir ini pengalaman yang bisa membangkitkan memori baik di masa kecil. Namun, saya tak mengira bahwa batako yang menjadi bahan rumah tersebut beratnya melebihi bata merah. Benar-benar seperti sedang latihan beban lengan. Hahaha.

Nukang dulu bersama tim, termasuk Mbak Sapti di sebelah saya (kerudung merah).

Saya ditemani Mas Wanto, tukang yang membangun rumah di sana. Yah bisa dibilang supervisor saya, hahaha. Saat saya kehabisan campuran semen pasir (kalau di tempat saya namanya jenang), Mas Wanto sigap mengambilkan isinya. Pun saat saya kurang telaten menaruh jenang tadi di atas lapisan tembok, Mas Wanto merapikannya.

Saya baru teringat saat membangun tembok, batako akan disusun secara selang-seling. Jadi lapisan pertama akan memakai batako utuh sampai selesai satu lapisan. Setelahnya, lapisan atasnya akan memakai batako yang dibelah untuk sisi paling pinggir. Jadi, saat tembok selesai akan terjadi perbedaan letak batako tiap lapisannya.

Sampai pukul 11:15 siang, saya dibantu Mas Wanto sudah berhasil menyelesaikan empat lapisan. Alhamdulillah sesuai target. Selesai itu pula, mobil jemputan kami datang. Karena tim ada yang laki-laki, mereka akan bersiap salat Jumat. Kami, para perempuan beristirahat dan makan. Setelahnya, laki-laki pulang jumatan dan makan.

Ayo tim!

Serah Terima 30 Kunci Rumah

Jens Reisch (kedua dari kanan) selaku President Director Prudential Indonesia menyerahkan simbolis 30 kunci rumah kepada Bupati Bantul Drs. H. Suharsono.

Tim Prudential menjadwalkan acara sampai sore. Nantinya akan ada acara serah terima secara simbolis berupa kunci 30 rumah yang dibangun.

PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) yang bekerjasama dengan Habitat for Humanity Indonesia menyerahkan 30 kunci rumah kepada perwakilan warga di Dusun Kajor Wetan, Desa Selopamioro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kegiatan ini, selain merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, juga merupakan implementasi Leadership Immersion Programme dari PRUuniversity sebagai upaya Prudential Indonesia membantu karyawan menjadi profesional, salah satunya dengan memperkokoh sifat-sifat kepemimpinan yang berlaku di seluruh bisnis Prudential.

Jens Reisch selaku President Director Prudential Indonesia menjelaskan, “Prudential berkomitmen untuk selalu memberikan dampak nyata dan mendukung masa depan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Sebagai perwujudan sifat kepemimpinan yang ditanamkan dalam Leadership Immersion Programme, sebanyak lebih dari 370 rekan-rekan PRUsynergy turut berkontribusi dan bekerja sama dalam menuntaskan target pendirian 30 rumah.”

 “Atas nama pemerintah daerah Bantul, kami menyampaikan terima kasih atas inisiatif yang dilakukan Prudential Indonesia dengan Habitat for Humanity Indonesia dalam membangun rumah-rumah warga. Kami mengapresiasi dukungan Prudential terutama sejak tahun lalu di mana Prudence Foundation mendirikan satu gedung PAUD dan lima rumah, dilanjutkan dengan diserahkannya 30 hunian layak huni hari ini, yang kami yakin sangat bermanfaat bagi warga Dusun Kajor Wetan, Desa Selopamioro, Bantul, dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.” sambut positif Drs. H. Suharsono, Bupati Bantul saat serah terima.

Tentang Prudential Indonesia

PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) didirikan pada 1995 dan merupakan bagian dari Prudential plc, London – Inggris. Di Asia, Prudential Indonesia menginduk pada kantor regional Prudential Corporation Asia (PCA), yang berkedudukan di Hong Kong. Dengan menggabungkan pengalaman internasional Prudential di bidang asuransi jiwa dengan pengetahuan tata cara bisnis lokal, Prudential Indonesia memiliki komitmen untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

Sejak meluncurkan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (unit link) pertamanya pada 1999, Prudential Indonesia merupakan pemimpin pasar untuk produk tersebut di Indonesia. Prudential Indonesia telah mendirikan Unit Usaha Syariah sejak 2007 dan dipercaya sebagai pemimpin pasar asuransi jiwa syariah di Indonesia sejak pendiriannya.

Hingga 31 Desember 2018, Prudential Indonesia memiliki kantor pusat di Jakarta dengan 6 kantor pemasaran di Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan, dan Batam serta 404 Kantor Pemasaran Mandiri (KPM) di seluruh Indonesia. Sampai akhir 2018 Prudential Indonesia melayani lebih dari 2,1 juta nasabah yang didukung oleh lebih dari 250.000 Tenaga Pemasar berlisensi.

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:
Luskito Hambali as Chief Marketing Officer
PT Prudential Life Assurance
Prudential Tower Jl. Jend. Sudirman Kav. 79 Jakarta 12910
Phone / Fax : 021 2995 8888 / 021 2995 8855
E-mail : luskito.hambali@prudential.co.id

Allah Menolongku Lewat Nganter Belanja Anak Yatim

Dua tahun yang lalu, kami nganter belanja anak yatim yang bahagia.


Tika. 15 menit yang lalu.

Besok, kami akan mengajak anak-anak yatim buat belanja kebutuhan pindahan mereka untuk pondok baru. Dana dari donator sudah ready, siapa nih yang berbaik hati nganter mereka belanja? Siapa tahu ada mobil yang nganggur, syukur-syukur mau nyopirin. Hehe.

Pagi itu aku membaca status milik temanku, Tika, yang memang menjadi founder salah satu komunitas yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Mengumpulkan informasi calon penerima donasi (para teman yang butuh pertolongan, ada yang dhuafa, anak yatim, dan banyak lagi), lalu membuka kesempatan para donator untuk membantu calon penerima, begitulah kira-kira mekanismenya.

Hari itu, akulah yang tergerak. Bukan karena aku sedang ada uang, aku malah terkejut karena pas sekali aku sedang meminjam mobil Ibu untuk keperluanku berangkat tes guru kontrak di Semarang.

***

Status whatsapp teman yang kunamai Tika muncul di pemberitahuan beberapa menit yang lalu. Status meminta pertolongan kendaraan dan mengantarkan anak yatim belanja.

Status dari Tika itu kucerna baik-baik. Mobil yang kupinjam dari Ibu masih ada di Jogja, terparkir di depan rumah. Suami berencana mengembalikan saat hari Minggu tiba, hari liburnya.

“Ay, ini ada temanku butuh mobil besok pagi. Pondok anak yatim Ada yang mau pindahan dan perlu belanja kebutuhan. Kamu besok pagi free kan? Nanti mobil ibu dipakai saja daripada menganggur. ”

“Jam berapa, Nda?”

“Jam 9 pagi sudah sampai di pondok lama mereka.”

“InsyaAllah, Nda.”

Aku yang memang ingin sekali membantu teman dan anak yatim tersebut bersorak dalam hati. Ternyata kemudahan tak hanya dirasakan olehku saat Ibu meminjamkan mobilnya, mereka (anak pondok) pun dimudahkan dengan adanya kesempatan baik ini, pikirku.

Aku yang bahagia bisa sedikit membantu dengan tenaga suami untuk menyetir dan tenagaku untuk menemani anak-anak yatim belanja, segera mengirim pesan ke Tika. Semenit kemudian, Tika berterima kasih di kotak percakapan kami dan meminta untuk datang ke alamat yang diberikan.

Sebenarnya, kami bukannya sedang banyak uang. Hanya saja, kami ingin membantu karena kebetulan ada mobil. Itu saja. Sungguh, kalau dihitung-hitung, uang kami bahkan hanya cukup untuk kebutuhan dua hari ke depan, termasuk beli bensin mobil. Ya Allah, cukupkan.

Keesokan harinya, hari petualangan kami datang. Aku, suami dan anak sudah siap menjemput. Kami menjemput anak-anak yatim dengan total 4 orang anak perempuan seusia adik kandung bungsuku. Juga ada satu bapak pengasuh bernama Pak Habibi. Kami sampai di pondok sesuai janji dan langsung meluncur ke supermarket besar dengan wahana mainan di lantai teratasnya. Tika dan satu teman lainnya sudah menunggu di sana.

“Assalamu’alaikum, Tik.”

Setelah parkir mobil dan masuk ke supermarket, aku menemukan Tika yang sedang duduk menunggu kami di bawah eskalator.

“Wa’alaikumsalam, Mbak.”

Senyum Tika seperti senyum sebelumnya pernah kutemui. Pancaran wajahnya tergambar bahwa ia senang mengetahui ada penolong untuk calon penerima donasi dari komunitas yang ia dirikan. Aku pun ikut senang bisa berbagi tenaga. Setelah kami berdoa bersama sebelum melakukan belanja, Tika memimpin briefing kecil-kecilan. Dia membagi tugas siapa yang membeli barang-barang kebutuhan sesuai catatan dan siapa yang mencatat apa yang sudah dibeli juga harganya.

Ada Bunga, Zaski, Sofia dan Novi. Mereka keempat anak yang kami temani belanja. Keempat anak itu adalah anak yatim dari daerah Bengkulu. Tetangga dari Pak Habibi yang diajak hidup di Jogja agar hidupnya lebih terjamin. Sebenarnya ada 12 anak, tapi 8 lainnya menunggu di pondok. Aku dan Tika serius mencari barang yang akan dibeli dan anak-anak mengikuti ke mana pun kami pergi dengan patuh. Memilih barang yang harganya cocok dan mencatatnya. Bunga dan Novi memasukkan barang ke dalam keranjang, sementara Zaski dan Sofia mencatat harganya.

Setelah selesai belanja, anak-anak juga diajak main wahana roller coaster. Saat anak-anak pergi berkeliling, aku menawari Tika untuk memakai kartu bermainku di zona bermain itu. Tapi ternyata, anak-anak sudah antre beli, dan aku terlambat memberikan kartu depositku. Sesampainya di wahana, kebahagiaan terpancar. Anak-anak yang memang baru pernah bermain wahana ini, antusias sekali. Kupotret mereka dari smartphone-ku. Anakku pun ikut antusias melihat teman barunya bermain. Sayangnya, dia tidak bisa ikut mencicipi karena usianya masih 2,5 tahun. Setelah dua kali putaran, anak-anak nyengir dan bercerita bahwa mereka ngeri sekaligus senang naik wahana ini. Alhamdulillah.

“Terima kasih atas kesediaan Mbak Dhit dan suami ya, anak-anak senang sekali bisa main ke sini. Mereka baru pernah menyambangi supermarket sebesar ini.”

Begitulah yang aku dengar berulang-ulang dari Pak Habibi. Padahal aku dan suami serta anak sudah biasa main ke sana. Mungkin sebulan sekali atau dua kali, hanya cuci mata atau sekedar membeli mainan untuk anak. Tapi ternyata kegembiraan kecil bagiku, beda bagi mereka yang baru ke sana pertama kalinya. Ada rasa aneh yang tertinggal di hati selepas kami pamit dari pondok. Kami mengantarkan anak-anak dan Pak Habibi setelah makan siang yang juga didapat dari donasi. Setelah kegembiraan tersebut, aku pulang dengan hati yang riang.

***

Keesokan harinya, aku terkejut karena gas untuk memasak habis. Bagaimana kami bisa sarapan? Kalau uang kebutuhan kami pakai untuk membeli gas, tak akan cukup. Sempat sejenak aku menyayangkan hari kemarin telah memakai uang untuk beli bensin. Astaghfirullah. Kok malah aku mikir begini ya?

Cepat-cepat kutepis perasaan negatifku itu. Lalu, aku mencopot selang gas dan memeriksa kompor. Beneran habis, nih. Suami kupanggil dan sekalian meminta tolong dirinya untuk membelikan gas. Ternyata, semua toko kehabisan stok gas. Suami yang sudah menanyai setiap toko yang ditemuinya, pulang dengan gas kosong.

Apalagi ini? Uang makan sisa untuk beli bahan makanan. Eh, ini malah gas habis. Terpaksa, kami harus membeli makanan dari luar. Duh! Kami membeli makanan yang murah sambil menghitung lagi uang yang dimiliki untuk besok.

Menurut perhitungan, ya uangnya enggak cukup. Aku galau. Entah kenapa aku malah membersihkan kompor gas yang sudah kupakai 9 tahun lamanya. Sudah banyak noda minyak di permukaan kompor. Bagian knop pemutar api pun sudah mulai keras. Aku lalu berpikir untuk membeli saja yang baru. Ya, walaupun kami belum ada uang, aku memulai saja pencarian kompor gas dua tungku dengan harga yang murah di salah satu aplikasi daring. Daripada stres, window shopping aja. Kan bisa dimasukkan keranjang dulu, pikirku.

Wah, ini murah banget. Sebuah kompor gas dua tungku yang persis seperti milik adik kandungku dijual dengan harga diskon. Aku mengucap salawat dan berharap agar bisa memiliki kompor gas itu. Teringat pesan Ust. Yusuf Mansyur dulu, saat ia ingin sesuatu, salawatlah, berikan doa terbaik untuk Rasulullah. Aku pun berdoa, semoga kompor gas ini menjadi jalanku melayani anak dan suami.

Aku pun tak sadar telah memencet tombol pesan barang dan sudah terkonfirmasi pula untuk membayar barang tersebut saat pengiriman. Aku yang baru pernah memakai aplikasi belanja daring itu baru mengetahuinya 2 hari setelah tanggal konfirmasi.

***

Seperti biasa, siang hari setelah selesai mengurus tetek bengek pekerjaan rumah, aku kembali menatap layar laptop. Dengan bermodalkan internet dari thetering smartphone, aku yang bekerja menjadi editor freelance memulai untuk menyunting artikel. Artikel-artikel yang sudah disunting tersebut, nantinya akan di-publish di laman media sesuai jadwal tayangku.

Sembari membuka laman media, aku mengecek surel. Siapa tahu ada kiriman permintaan suntingan juga dari temanku. Astaghfirullah, aku menemukan surat surel yang sangat mengejutkan.

Dari: **.ID

Terima kasih telah mengonfirmasi pesanan barang berupa kompor gas merek S dengan total harga Rp229.000,00. Anda bisa membayar saat kurir datang.

Aku panik. Kulihat tanggal pemesanan, dan itu adalah 2 hari yang lalu. Ah, aku ingat, saat itu aku mencari kompor. Ternyata, tanpa sengaja aku mengonfirmasi pembelian. Aku memang baru pernah memakai aplikasi belanja daring ini. Kukira aku hanya menyimpan data pembelian dan sewaktu-waktu bisa kukonfirmasi saat ada uang. Ya Allah, bagaimana ini, kami belum punya uang. Harga kompor tersebut memang akan menjadi murah saat kami merencanakannya, tapi ini di luar kehendak kami. Uang sebanyak itu tak bisa sekonyong-konyong disisihkan begitu saja. Kami harus menunggu gajian suami beberapa minggu lagi. Itu artinya saat kompor gas datang, kami belum bisa membayar. Tombol cancel pun tak ada untuk proses pembatalan.

Seharian aku galau. Suami belum kuceritakan perihal ini. bagaimana nanti reaksi suami ya? Duh, kok aku bisa nggak sadar sudah klik tombol konfirmasi ya? Nanti kalau barangnya datang, aku bayar pakai apa? Banyak sudah pertanyaanku yang kutujukan kepada diriku sendiri. Menyesali kelalaianku, mencoba berpikir akan jalan keluarnya nanti.

***

Malamnya suami pulang dari kantor. Aku sudah mantap bercerita. Aku mengumpulkan keberanian setelah aku mengadu pada-Nya.

Aku menyiapkan makanan yang kubeli di warung makan dekat rumah. Aku persilakan suami untuk makan dahulu, mengenyangkan perutnya agar dia bisa berpikir jernih.

“Ay, aku mau cerita. Tapi kamu jangan marah ya?”

Aku mulai meminta waktunya setelah dia selesai makan.

“Eh, ada apa? Kok minta aku nggak marah?”

Suami kaget dengan permintaanku. Aku pun mulai bercerita perihal kompor gas yang tiba-tiba sudah dalam perjalanan. Suami sibuk mendengarkan. Aku pun menunjukkan laman aplikasi akunku yang menandakan bahwa pesanan sudah berada di gudang. Kemungkinan besok atau lusa, barang akan datang.

“Ya sudah Ay, mungkin itu rezeki kita. Pengganti sedihmu yang kemarin.”

Suami menghiburku dengan senyum jahilnya. Aku terkejut, dia kok nggak marah malah meledek? Apa dia punya uang untuk membayar?

“Kamu ada uangnya apa, Ay?”

Aku yang penasaran langsung menembaknya dengan pertanyaan. Suami malah menjahiliku dengan mimik muka serius. Tak ada jawaban di sana.

Duh, apa lagi ini?

“Sudah, berdoa saja yang banyak. Aku saja yang mikir uang kompor gas itu.”

Hanya itu pesan suami. Aku yang penasaran hanya bisa memanyunkan bibir. Sambil meminta maaf atas kelalaianku.

***

Hari ini aku harap-harap cemas. Setelah percakapanku semalam dengan suami, aku tambah khawatir. Bagaimana tidak, nanti kalau barang pesananku datang, aku harus bilang apa sama kurirnya? Aku yang cemas mulai berpikiran yang tidak-tidak, pikiranku mengembara ke mana-mana. Lagi, suami tak memberikanku kepastian bagaimana tentang kompor gas itu. Aku yang sudah pasrah, akhirnya berpikir untuk meminjam dahulu uangnya kepada ibu atau tanteku.

Baru saja aku mau membuka chat, chat datang dari suami.

“Gimana, barangnya datang kapan?”

“Di status masih di perjalanan, Ay. Bisa jadi nanti sore. Atau besok. Gimana, kamu ada uangnya?”

“Oya sudah, semoga besok baru datang ya. Nanti malam  kuceritakan.”

Wah, apa ini? Suami dapat bonuskah?

Malamnya, sesampainya di rumah, suami kutodong. Dia hanya tersenyum sambil memberikan amplop. Dadaku berdesir.

“Ini apa, Ay?” tanyaku menyelidik.

“Sudah buka dulu saja.”

Aku lalu membuka amplop tersebut. Ada sejumlah uang dengan 2 lembar Rp100.000, selembar Rp50.000, lalu selembar Rp20.000 dan beberapa uang Rp1.000. Kuhitung semuanya dengan total Rp278.000. Uangnya bahkan melebihi harga kompor gas yang kupesan. Ya Allah, rezeki kami juga untuk kebutuhan hidup sebelum suami gajian.

“Ini uang dari mana ay? Kamu pinjam?”

“Dari SHU. Ini kan awal tahun, semua karyawan dapat pembagian dari Koperasi.”

Alhamdulillah. Mukaku langsung sumringah. Tak ada kegalauan lagi, besok aku bisa membayar kompor gas pesanan yang salah klik itu.

***

Setelah diantar, kompor gas yang tadinya hanya iseng-iseng kulihat sudah nangkring di atas meja dapur. Meja dapurnya kecil, jadi membuat semakin sempit. Namun, aku puas. Aku bisa membayar saat barang datang dan aku mendapat hadiah setelah kekecewaanku kemarin tak lolos tes. Aku mulai mencoba kompornya dan semua berfungsi dengan baik. Aku pun masih agak merasa bahwa itu mimpi. Ada nggak ya orang lain sepertiku yang salah klik di saat tidak ada uang? Aku tertawa menyadari kelalaianku.

Malamnya, suami mengajak mengobrol tentang kompor gas itu. Lalu, di tengah obrolan kami, aku ingat sebuah doa yang dipanjatkan oleh anak-anak yatim dan pengasuhnya.

“Ya Allah, mudahkanlah urusan Mbak Dhita dan suami.”

Doa itu memang terus diucapkan berulang-ulang oleh Pak Habibi, saat kami dulu mengantarkan anak-anak pondok. Doa itu sangat mujarab ternyata. Saat aku dan suami kesusahan untuk membayar kompor gas, pertolongan yang dibayar dengan doa itulah yang menyelamatkan kami.

Maka, janganlah takut berbagi. Ya, walau aku sempat menyesali, ternyata Allah beri aku bukti.

Seperti www.dompetdhuafa.org yang datang dengan “Jangan Takut Berbagi”, aku percaya bahwa berbagi itu bukan mengurangi jatah kita. Tapi, berbagi itu menolong kita sendiri.

Tolonglah orang lain, maka Allah akan menolongmu. Ya, aku percaya itu. Kamu juga kan?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”.

Salam dari Temu Inklusi 2018 untuk Indonesia Inklusif

IMG_20181024_141129.jpgMas Eko, meracik kopi di booth Barista Inklusi

“Bunda, Om ini enggak punya tangan?” Si bungsu menanyai saya lagi. Matanya melebar, dia takjub melihat video seorang Om, salah satu difabel yang meracik kopi saat temu inklusi, bisa membuat kopi.

“Hebat ya, Nda!” begitu katanya. Inilah oleh-oleh berharga bagi saya saat diundang ke sebuah acara. Pengalaman dan hikmah yang menyertainya. Untuk apa? Untuk saya bagi lagi dengan orang-orang di sekitar saya. Termasuk anak-anak.

Pagi sebelum cahaya mentari menggerogoti, saya berjalan keluar rumah. Melewati gang demi gang, lalu berbelok ke kanan. Di depan masjid dekat rumah, saya menunggu Mas ojek online datang menjemput. Ya, hari itu saya akan pergi sendiri. Jalan-jalan tipis sementara waktu. Saya dan beberapa kawan blogger diundang dalam sebuah acara akbar pada tanggal 24 Oktober 2018. Temu Inklusi 2018 ke-3 di desa Plembutan, Gunungkidul yang berlangsung dari tanggal 22 sampai 26Oktober 2018 ini.

Berbekal tas biru tua rajutan dan ransel abu-abu, saya menapakkan kaki di parkiran Abu Bakar Ali. Di sanalah meeting point kami. Sebuah mobil long body berplat AB menanti kami berkumpul. Mobil dan pak supir ini akan membawa kami ke daerah baru. Bismillah, starter mobil dinyalakan dan kami pun jalan.

Sebelum sampai tempat, saya sudah sedikit riset tentang inklusi difabilitas. Tadinya saya hanya paham apa itu disabilitas. Nah, sebenarnya apa itu difabilitas? Apa bedanya dengan disabilitas?

Difabilitas dan Disabilitas, Bedanya Apa?

IMG_20181024_085014

Acara Temu Inklusi #3 di Desa Plembutan

Difabilitas berasal dari bahasa Inggris yaitu difable (different ability-kemampuan berbeda). Dalam Wikipedia.org yaitu seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjalankan aktivitas berbeda bila dibandingkan dengan orang-orag kebanyakan. Dalam hal ini, bukan berarti cacat atau disabled ya. Nah, untuk disabilitas sendiri berasal dari kata disability yaitu seseorang yang belum mampu berakomodasi dengan lingkungan sekitarnya.

Jadi kalau bisa saya perjelas, kata difabilitas itu lebih smooth. Memperhalus kata disabilitas yang asalnya ketidakmampuan tubuh sebagaimana orang normal. Difable yang merupakan akronim different abilities ini ditujukan untuk menyebut orang-orang yang memiliki kelainan dan kekurangan fisik. Di ranah internasional kata disability ini masih mengundang kontroversi, maka seringnya mereka memakai kata-kata people with mobility problem, dll.

Di balik semua kontroversi tersebut, acara temu inklusi ketiga ini hadir membuka cakrawala luas kepada khalayak ramai. Temu inklusi yang diadakan di desa Plembutan, Kecamatan Playen, Gunungkidul ini adalah acara yang menyebarkan tentang inklusi kepada stakeholder, baik pmerintah daerah, pemerintah pusat juga LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Acara dua tahunan ini diinisiasi oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB). Acara yang diselenggarakan di desa Plembutan ini karena menjadi desa menuju inklusi sosial #IDInklusif. Dilihat dari pembangunan gedung balai desa yang bertema inklusi seperti jalan masuk kursi roda dan toilet geser yang mudah untuk dimasuki kursi roda.

Media dan Difabilitas

IMG_20181024_090556

Di balai Dukuh Papringan, Forum Diskusi Media dan Difabilitas diselenggarakan

Forum diskusi yang diselenggarakan oleh temu inklusi ini ada banyak tema. Kami dibagi menjadi tiga grup kecil untuk mengikuti tiga tema. Saya kebagian mengikuti tema Media dan Difabilitas. Dalam forum diskusi ini saya ketemu pembicara keren-keren. Ada mas Ken Karta founder dari Lingkarsosial.org  asal Malang dan dari pihak AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) ada Mas Tomi. Forum berjalan lancar dan kami mendapatkan banyak hikmah dari sana.

IMG_20181024_092215

Mas Ken Kerta sedang membagikan pengalamannya membuat media khusus isu difabilitas.

Media saat ini banyak menampilkan hal-hal yang berhubungan dengan mayoritas (umum). Para difabilitas yang notabene adalah masyarakat minoritas kurang mendapat sorot. Untuk memberi informasi akan difabel, media bisa menjadi salah satu sarana tercepat menyebarkan isu-isu ini. maka, media bisa digunakan untuk menyuarakannya. Berawal dari sanalah Mas Ken Kerta memberitakan isu-isu difabilitas. Laman lingkarsosial.org adalah media yang aktif memberitakan hal ini.

Namun sayangnya, para difabilitas masih merasa kurang bersahabat dengan media. Merasa kurang percaya diri membagikan apa-apa yang menjadi inspirasi dan hikmah dari dirinya. Maka dari forum diskusi tersebut, kami semua mengharapkan dari stakeholder mampu memfasilitasi para difabilitas untuk bisa menyuarakan dan memberi tahu akan kehidupannya dari media. Entah dalam pelatihan khusus teknologi informasi untuk para difabilitas atau membuat gebrakan-gebrakan baru dalam mendukung para minoritas.

Aliansi Jurnalis Indonesia yang diwakili Mas Tomi membagikan informasi tentang kegiatan para jurnalis memberitakan isu terkini. AJI juga sudah sering wara-wiri berdiskusi dengan para difabilitas. Ada hal-hal yang memang harus mendapat perhatian untuk stakeholder menyikapi isu difabiltas. Para difabel pun di-support untuk tak lelah berjuang menyuarakan haknya. Media yang bisa dipakai bisa dari blog gratisan, dan media sosial seperti facebook, instagram atau twitter.

Bahwa yang Kita Lihat Kurang, Itulah yang Lebih

IMG_20181024_141303

Booth Barista Inklusi #IDInklusif

Seperti hukum keseimbangan dalam ilmu alam, bahwa suatu energi yang mengalir ke tempat yang kurang untuk membuat lingkungannya seimbang. Seperti itu juga para difabel yang saya temui. Mereka yang saya kira tak mampu menafkahi dengan cara yang orang normal lakukan, ternyata bisa membuat kopi yang nikmatnya lebih dari yang bsia saya buat. Hahaha.

Di salah satu booth yang disediakan, saya memasuki Barista Inklusif. Sebuah booth yang menyediakan kopi yang diracik dari biji kopi giling dan mempunyai tagar #KarenaKopiKitaSetara. Dengan kedua lengannya, dia sibuk menyiapkan gelas-gelas platik. Seorang temannya menimbang biji kopi yang nantinya akan digiling. Mas Eko dengan sigap menuang air kopi yang telah digiling dan menambahkan susu.

Saya memesan kopi V-60 dengan es dan susu. Sungguh nikmat di tengah teriknya mentari siang itu. Kami para pembeli, duduk di depan booth #BaristaInklusif menanti Mas Eko meracik satu demi satu pesanan kami tanpa lelah. Barista inklusi ini sendiri adalah program kerja sama dari Program Peduli (www.programpeduli.org), @staracoffee dan Pusat Rehabilitasi Yakkum Yogyakarta. Mas Eko merupakan salah satu peserta dari pelatihan program tersebut.

Seperti yang anak saya katakan, bahwa Mas Eko tadi hebat. Tidak seperti kami yang memiliki tangan utuh dengan jari-jarinya. Mas Eko berjuang berkarya dengan lengannya tanpa lelah. Bahwa apa yang Allah firmankan itu benar adanya. Dia takkan memberikan sesuatu yang hamba-Nya tak mampu. Seperti itulah, keterbatasannya tak menyurutkan langkahnya meracik kopi. Bahwa beliau mampu, dengan semua kelebihannya yang tidak semua orang punya. Tekad yang kuat.

Menuju Masyarakat Inklusi

Dari semua hal yang sudah saya dapatkan dari acara ini, masyarakat inklusi itu nyata. Walaupun ranahnya seperti bayi yang belajar berjalan. Pelan-pelan dan bertahap demi langkahnya yang pasti. Ada harapan besar di sana, di mana nantinya dunia ini mengakui ada difabilitas.

Di mana nantinya semua memberikan trotoar yang ramah difabel, ketersediaannya jalan ramah difabel dan banyak fasilitas yang mendukungnya. Bahwa perbedaan itu bukan untuk dihindari, tapi untuk dirangkul. Bahwa kita semua setara, apapun latar belakangnya.