Aku, Ibu yang Buruk?

Aku Ibu yang Buruk
Saat merasa menjadi ibu yang buruk, ingatlah apakah kamu masih peduli akan anakmu?

Sudah ke sekian kalinya, anakku, Akhtar menangis. Merengek bahkan sering meneriakiku, ibunya. Dulu, bocah kecil ini tidak begini. Saat usianya baru 1 tahun, ia adalah anak yang gampang sekali menurut. Tak banyak drama dalam mengasuhnya. Saat ibu lain mengeluhkan anaknya yang selalu begadang, Akhtar dengan antengnya akan tidur setelah magrib dan bangun paling gasik saat subuh.

Memang pernah sih dia mengalami growth spurt, yang ditandai dengan bayi menyusu terus dalam masa perkembangannya yang sedang tinggi. Jadi dia akan menyusu terus sampai aku tidak bisa melakukan aktivitas lain. Sampai makan pun, aku harus disuapi suami sambil menyusui. Itu terjadi saat Akhtar berusia 30 hari dan 3 bulan. Hanya itu.

Namun, Akhtar yang kukenal dulu dan sebentar lagi berusia 3 tahun, seperti hilang. Aku, ibu baru, yang pastinya awam akan asuh mengasuh benar-benar kewalahan dengan segala tangis yang berujung tantrum. Sebenarnya, teori tentang parenting, aku banyak mendapatkannya, misalnya dari theAsianparent. Tapi, saat menghadapi bagaimana Akhtar tantrum, hatiku menciut dan akalku seperti hilang. Emosi meledak-ledak.

“Yang sabar. Dibilangin aja biar kooperatif ya, Dek.”

Begitu kata suami kalau aku curhat kepadanya tiap beliau pulang kerja. Aku pun tahu sebenarnya apa yang harus dilakukan. Aku hanya muak jika Akhtar benar-benar sulit diatasi.

“BUUUUUUU, PIPIIIIIIIIIS!”

Saat itu matahari baru sepenggalah. Aku sedang menikmati tugasku yang menumpuk. Di depan laptop, aku merasa aku tak mau diganggu.

“Sama Ayah, sana! Ibu sedang kerja,” sergahku cepat karena saat itu adalah waktu suami meng-handle anak. Aku tak mau dia terus merengek, karena ini akan memperlambat kerjaan.

“SAMA IBUUUUUUUU!” teriaknya sambil menangis.

“Mulai lagi!”

Aku menghembuskan napas kasar. Sebenarnya bukan maksudku membuat situasi lebih rumit. Tapi otak reptil ini lebih menguasai pikiranku saat itu. Bola mataku seperti akan keluar. Aku hanya ingin membuat Akhtar diam. Tapi nyatanya, aku malah semakin sakit. Bukan saat itu, tapi saat tangisannya sudah berhenti. Penyesalan itu datangnya belakangan!

Bukan sekali dua kali, situasi aneh ini membuatku harus ekstra hati-hati saat bersamanya. Seperti seorang cowok yang nggak mau ceweknya ngambek. Seribu dugaan ada dalam pikiran. Apakah saat aku melakukan ini, Akhtar akan suka? Atau dia lebih suka aku menyikapi hal itu dengan begini? Ah, rumit!

Hingga suatu hari, tanpa ampun aku menghukumnya yang tak mau menghabiskan makanan yang telah kumasak. Aku yang dulu bahkan sangat sabar membersamainya makan, hari itu kalap.

“NASINYA DIMAKAN! SAYUR JUGA!”

Aku yang sudah tak tahan lagi memberitahu, tidak, tepatnya membentak Akhtar karena dia hanya memakan lauk yang kusiapkan. Padahal di dalam piringnya, masih ada nasi yang hanya dimakan sesuap dan sawi yang bahkan dilirik pun tidak.

Ke mana anakku yang dulu suka sayur? Ekspektasiku saat itu sangat tinggi. Teramat tinggi. Aku lupa bahwa anak cenderung memilih apa yang hanya dia sukai di usianya sekarang. Aku yang berharap banyak dengan meluangkan waktu memasakkan sup ayam kesukaannya harus kecewa dengan penolakan anak bertumbuh tambun itu.

Hatiku mencelos. Aku meninggalkannya sendirian di kursi makan. Aku ancam bahwa dia tak boleh keluar dari kursi sebelum aku melepasnya. Buruk, benar-benar ibu yang buruk, pikirku. Namun, aku tetap pada kemarahanku.

Tapi apa yang terjadi, setelah aku menenangkan diri di ruangan lain, Akhtar malah tersenyum menyambutku.

“Ibu sudah nggak marah!” pekiknya kegirangan. Mengalahkan girangnya para suporter bola yang timnya mendapat angka karena membobol gawang lawan. Seperti tabuh genderang para suporter, dia sangat bahagia bahkan setelah aku sakiti secara batin.

Ibu macam apa aku? Kenapa hal sepele saja membuatku jahat begini? Aku hanya bisa menangis semalaman. Mencoba mengingat kembali, apa sebenarnya motif di balik semua kemarahanku ini. Atau aku yang tak becus jadi ibu?

Aku menarik diri. Semua pekerjaan kudelegasikan ke ahlinya. Mencuci ke tukang laundry, makanan kubeli di warung, Akhtar kutitipkan ayahnya. Aku benar-benar harus membereskan hatiku. Aku takut, aku malah akan memberi dampak buruk kepada anakku.

Aku memutuskan pergi keluar, menyusuri jalanan kota yang sudah kutinggali selama 8 tahun. Sampai aku berhenti di depan warung internet multimedia. Warnet legend yang sering kutumpangi saat aku harus mengerjakan skripsi dulu. Aku yang tanpa rencana, akhirnya memasuki warnet itu.

“Ibu yang buruk, tak akan menyesali perbuatan buruknya kepada anaknya. Ibu yang buruk tak akan terusik, dan ia tak akan menangis dan meminta maaf kepada buah hati setelah menyakitinya. Ibu yang buruk tak akan belajar dari kegagalan untuk kesuksesan pengasuhannya.”

Sebuah tulisan tentang ibu yang buruk, masuk di beranda media sosialku. Setengah jam di warnet, gundukan air di pelupuk mata semakin menggelayut. Dengan susah payah, aku menahan tangi dan hanya bisa sesenggukan.

Pokoknya, setelah ini, aku akan pulang memeluk Akhtar dengan hangat. Iya, aku bukan ibu yang buruk, Nak. Semoga kau mau menerima permintaan maaf dari ibumu yang kemarin gagal menghadapimu.

Dengan cepat, aku mematikan komputer dan berlari kecil menuju kasir. Aku tak sabar bertemu denganmu, pangeran kecil. Tunggu aku, tunggu ibumu!

Baca juga: Kisah Nyata Pesta Dadakan dan Wafer Tumpuk

9 pemikiran pada “Aku, Ibu yang Buruk?”

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com

error: Content is protected !!