Review Kondangan Nikahan di Grand Dafam Rohan Jogja

Masa pandemi gini, kondangan banyak yang virtual. Ya, walaupun saya belum pernah diundang kondangan virtual sih.

Tapi saya punya pengalaman kondangan dengan waktu dan tamu terbatas dan protokol kesehatan yang oke di GRAND DAFAM ROHAN JOGJA.

Jadi, ceritanya saya diundang sama sepupu saya dari pihak suami. Akad nikah dan resepsi dilaksanakan dalam 1 hari saja. Bahkan hanya dalam waktu sekitar 3 jam untuk 2 acara sekaligus.

Tamu yang diundang 100 orang. Tamunya juga hanya keluarga dari pihak mempelai perempuan dan laki-laki. Jarak antar tamu juga jauh-jauh karena berada di ballroom yang luas.

Yuk lihat keseruannya!

Ini vlog pertama sebelum kondangan. Isinya tur hotel Grand Dafam Jogja, restoran hotelnya pas sarapan dan lihat dekor wedding party sebelum acara.

Nah, ini vlog part 2 pas kondangan. Bonusnya kami nyobain renang di kolam renang dan main di taman Grand Dafam Rohan.

Aku, Ibu yang Buruk?

Aku Ibu yang Buruk
Saat merasa menjadi ibu yang buruk, ingatlah apakah kamu masih peduli akan anakmu?

Sudah ke sekian kalinya, anakku, Akhtar menangis. Merengek bahkan sering meneriakiku, ibunya. Dulu, bocah kecil ini tidak begini. Saat usianya baru 1 tahun, ia adalah anak yang gampang sekali menurut. Tak banyak drama dalam mengasuhnya. Saat ibu lain mengeluhkan anaknya yang selalu begadang, Akhtar dengan antengnya akan tidur setelah magrib dan bangun paling gasik saat subuh.

Memang pernah sih dia mengalami growth spurt, yang ditandai dengan bayi menyusu terus dalam masa perkembangannya yang sedang tinggi. Jadi dia akan menyusu terus sampai aku tidak bisa melakukan aktivitas lain. Sampai makan pun, aku harus disuapi suami sambil menyusui. Itu terjadi saat Akhtar berusia 30 hari dan 3 bulan. Hanya itu.

Namun, Akhtar yang kukenal dulu dan sebentar lagi berusia 3 tahun, seperti hilang. Aku, ibu baru, yang pastinya awam akan asuh mengasuh benar-benar kewalahan dengan segala tangis yang berujung tantrum. Sebenarnya, teori tentang parenting, aku banyak mendapatkannya, misalnya dari theAsianparent. Tapi, saat menghadapi bagaimana Akhtar tantrum, hatiku menciut dan akalku seperti hilang. Emosi meledak-ledak.

“Yang sabar. Dibilangin aja biar kooperatif ya, Dek.”

Begitu kata suami kalau aku curhat kepadanya tiap beliau pulang kerja. Aku pun tahu sebenarnya apa yang harus dilakukan. Aku hanya muak jika Akhtar benar-benar sulit diatasi.

“BUUUUUUU, PIPIIIIIIIIIS!”

Saat itu matahari baru sepenggalah. Aku sedang menikmati tugasku yang menumpuk. Di depan laptop, aku merasa aku tak mau diganggu.

“Sama Ayah, sana! Ibu sedang kerja,” sergahku cepat karena saat itu adalah waktu suami meng-handle anak. Aku tak mau dia terus merengek, karena ini akan memperlambat kerjaan.

“SAMA IBUUUUUUUU!” teriaknya sambil menangis.

“Mulai lagi!”

Aku menghembuskan napas kasar. Sebenarnya bukan maksudku membuat situasi lebih rumit. Tapi otak reptil ini lebih menguasai pikiranku saat itu. Bola mataku seperti akan keluar. Aku hanya ingin membuat Akhtar diam. Tapi nyatanya, aku malah semakin sakit. Bukan saat itu, tapi saat tangisannya sudah berhenti. Penyesalan itu datangnya belakangan!

Bukan sekali dua kali, situasi aneh ini membuatku harus ekstra hati-hati saat bersamanya. Seperti seorang cowok yang nggak mau ceweknya ngambek. Seribu dugaan ada dalam pikiran. Apakah saat aku melakukan ini, Akhtar akan suka? Atau dia lebih suka aku menyikapi hal itu dengan begini? Ah, rumit!

Hingga suatu hari, tanpa ampun aku menghukumnya yang tak mau menghabiskan makanan yang telah kumasak. Aku yang dulu bahkan sangat sabar membersamainya makan, hari itu kalap.

“NASINYA DIMAKAN! SAYUR JUGA!”

Aku yang sudah tak tahan lagi memberitahu, tidak, tepatnya membentak Akhtar karena dia hanya memakan lauk yang kusiapkan. Padahal di dalam piringnya, masih ada nasi yang hanya dimakan sesuap dan sawi yang bahkan dilirik pun tidak.

Ke mana anakku yang dulu suka sayur? Ekspektasiku saat itu sangat tinggi. Teramat tinggi. Aku lupa bahwa anak cenderung memilih apa yang hanya dia sukai di usianya sekarang. Aku yang berharap banyak dengan meluangkan waktu memasakkan sup ayam kesukaannya harus kecewa dengan penolakan anak bertumbuh tambun itu.

Hatiku mencelos. Aku meninggalkannya sendirian di kursi makan. Aku ancam bahwa dia tak boleh keluar dari kursi sebelum aku melepasnya. Buruk, benar-benar ibu yang buruk, pikirku. Namun, aku tetap pada kemarahanku.

Tapi apa yang terjadi, setelah aku menenangkan diri di ruangan lain, Akhtar malah tersenyum menyambutku.

“Ibu sudah nggak marah!” pekiknya kegirangan. Mengalahkan girangnya para suporter bola yang timnya mendapat angka karena membobol gawang lawan. Seperti tabuh genderang para suporter, dia sangat bahagia bahkan setelah aku sakiti secara batin.

Ibu macam apa aku? Kenapa hal sepele saja membuatku jahat begini? Aku hanya bisa menangis semalaman. Mencoba mengingat kembali, apa sebenarnya motif di balik semua kemarahanku ini. Atau aku yang tak becus jadi ibu?

Aku menarik diri. Semua pekerjaan kudelegasikan ke ahlinya. Mencuci ke tukang laundry, makanan kubeli di warung, Akhtar kutitipkan ayahnya. Aku benar-benar harus membereskan hatiku. Aku takut, aku malah akan memberi dampak buruk kepada anakku.

Aku memutuskan pergi keluar, menyusuri jalanan kota yang sudah kutinggali selama 8 tahun. Sampai aku berhenti di depan warung internet multimedia. Warnet legend yang sering kutumpangi saat aku harus mengerjakan skripsi dulu. Aku yang tanpa rencana, akhirnya memasuki warnet itu.

“Ibu yang buruk, tak akan menyesali perbuatan buruknya kepada anaknya. Ibu yang buruk tak akan terusik, dan ia tak akan menangis dan meminta maaf kepada buah hati setelah menyakitinya. Ibu yang buruk tak akan belajar dari kegagalan untuk kesuksesan pengasuhannya.”

Sebuah tulisan tentang ibu yang buruk, masuk di beranda media sosialku. Setengah jam di warnet, gundukan air di pelupuk mata semakin menggelayut. Dengan susah payah, aku menahan tangi dan hanya bisa sesenggukan.

Pokoknya, setelah ini, aku akan pulang memeluk Akhtar dengan hangat. Iya, aku bukan ibu yang buruk, Nak. Semoga kau mau menerima permintaan maaf dari ibumu yang kemarin gagal menghadapimu.

Dengan cepat, aku mematikan komputer dan berlari kecil menuju kasir. Aku tak sabar bertemu denganmu, pangeran kecil. Tunggu aku, tunggu ibumu!

Baca juga: Kisah Nyata Pesta Dadakan dan Wafer Tumpuk

Dayamaya Gandeng Startup Indonesia Kembangkan Daerah 3T

Startup, sebuah drama Korea yang lagi booming akhir tahun ini. Noongil, sebuah aplikasi yang dibuat oleh Samsan Tech dalam drama tersebut berhasil membantu para tunanetra mengenali benda lewat smartphone.

Seperti Noongil, Dayamaya menggandeng Cakap, Atourin dan Jahitin, startup dari Indonesia membantu komunitas dan UMKM dalam mengembangkan potensi ekonomi digital di daerah 3T.

Daerah 3T dan Dayamaya

Daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) sangat diperhatikan oleh pemerintah. Dari program kesejahteraan hingga pendidikan, daerah 3T tak luput menjadi fokus utamanya.

Untuk mengembangkan potensi digital ekonomi di sana, Badan Aksesbilitas dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika melaksanakan program Dayamaya.

Dayamaya menggandeng startup e-commerce, komunitas, kelompok masyarakat dan UMKM digital bersinergi membuat solusi tepat guna di daerah 3T. Dari program ini diharapkan adanya percepatan kemajuan ke arah yang lebih baik.

Tiga inisiator yaitu Cakap, Atourin dan Jahitin menjadi tonggak awal kontribusi kepada masyarakat.

3 Startup Inisiator di Daerah 3T

Cakap

Cakap adalah partform online pembelajaran bahasa asing. Cakap berkontribusi meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan mendukung pengembangan daerah wisata.

Tak ayal, daerah wisata sangat membutuhkan SDM dengan kemampuan bahasa Inggris agar menarik jumlah wisatawan dan menciptakan pariwisata berkelanjutan.

Cakaptelah menyelanggarakan digital asesment di Kabupaten Sabu Rijua dan Kabupaten Sumba Timur, Provinsi NTT. Program melibatkan 250 pelajar tingkat SMA dengan menggunakan standarisasi CEFR (The Common European Framework of Reference for Language). Kegiatan daring ini diisi oleh guru bahasa Inggris asing (ESL Teacher).

Selain itu, Cakap memberikan pelatihan bahasa Inggris gratis melalui website resmi. Masyarakat pelaku industri dapat mendaftar langsung di sana. Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Bangka Belitung sudah menjadi pendaftar dengan pendaftar terbanyak berada di Sulut dan Kalsel.

Peserta akan mendapatkan akses kelas webinar, e-book materi pembelajaran, video pembelajaran, evaluasi, dan pendampingan guru profesional dan lokal. Hasil akhirnya, peserta akan mendapatkan sertifikat penyelesaian kelas Cakap.

Atourin

Atourin sebagai perusahaan teknologi di sektor pariwisata yang menyediakan jasa dan layanan baik secara online maupun offline untuk industri pariwisata Indonesia.

Pada tahun 2019 lalu berkesempatan menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi pemandu wisata di Natuna
melalui program Dayamaya.

“Di masa pandemi ini, salah satu satu program kami yaitu melakukan pelatihan secara daring bagi pemandu wisata se-Indonesia. Kami ajarkan bagaimana cara membuat tur virtual. Salah satu sektor yang paling terdampak akibat pandemi adalah pariwisata. Dengan pelatihan ini, diharapkan pemandu wisata dapat memanfaatkan internet untuk menghadirkan layanan virtual tour baik kepada wisatawan dalam negeri maupun mancanegara” kata Reza.

Tur virtual, kata Reza, merupakan platform baru, yang dapat
dimanfaatkan untuk jangka waktu panjang, tidak hanya di masa pandemi saja.

Jahitin

Seperti Cakap dan Atourin yang memanfaatkan layanan digital, Jahitin Academy memberdayakan SDM dengan meningkatkan skill para penjahit di Provinsi NTT, khususnya di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Melalui workshop pengolahan limbah kain tenun, Jahitin mengajarkan bagaimana cara mengolah limbah tenun menjadi produk yang bernilai jual, seperti untuk membuat cushion pillow.

Tidak hanya itu, Jahitin juga membantu para penjahit agar dapat lebih mudah mengakses pasar. Dampaknya saat ini penjahit di Sumba sudah mendapatkan akses langsung berhubungan dengan Dinas Perdagangan.

Menurut Asri Wijayanti, masa pandemi ini dia dan tim melakukan pelatihan kepada para penjahit, bagaimana cara membuat masker sesuai dengan standar kesehatan yang difasilitasi oleh BAKTI dan Kementerian Desa, dan Pemberdayaan Daerah Tertinggal.

Hasilnya, para penjahit di Sumba
berhasil mendapatkan orderan membuat 5000 masker!

Baca juga: Begini Inspirasi Cinta Bumi Ala Dhita Erdittya

Harapan Program Dayamaya Bagi Indonesia

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman, dalam membangun daerah 3T pemerintah tentu tidak dapat bekerja sendiri. Untuk itu, peran dari para startup dan komunitas sangat diperlukan untuk bersama-sama bersinergi mempercepat pembangunan di daerah 3T.

Ari Soegeng Wahyuniarti, selaku Kepala Divisi Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Masyarakat menuturkan, dengan merangkul stakeholder strategis, mereka yakin kita akan memiliki daya atau berdaya untuk bersama-sama membawa perubahan di daerah 3T.

Perbaikan dari sisi perekonomian berbasis ekonomi digital menjadi hal utama. Hal ini selaras dengan campaign yang Dayamaya angkat, yaitu Berdaya Bersama.

error: Content is protected !!