Cara Mudah Membuat Komposter (Pengalaman 2 Tahun)

Lagi pada #dirumahaja gak nih? Masih setia ngejagain rumah demi kesehatan keluarga kan? Udah pada manfaatin waktunya buat apaan? Masak? Beberes? Atau malah mainan kompos? Hehehe. Kali ini aku mau share cara mudah membuat komposter rumahan.

***Disclaimer: Aku praktisi komposter yang memulai dengan banyak trial dan error. Kalau banyak yang salah di tulisan ini, mohon sudi kiranya berbagi informasi yang valid. Dengan senang hati, aku akan menerima dan belajar lagi!***

Berdasarkan pengalaman hampir 2 tahun mengompos, aku mau buka semua rahasianya. Start awal September 2018 lalu, namun sebelumnya sudah mulai memilah sampah rumah tangga.

Dulu tuh, awal sadar akan pemilahan sampah awal 2018. Tapi karena masih ada jugangan atau lubangan tanah, aku jadi enak aja war wer buang sampah hehe.

Awal mula atau tujuan pembuatan kompos karena terpaksa. Iya, terpaksa. Gak ada petugas kebersihan atau jasa angkut sampah ke TPA. Udah gitu, rumah yang aku tinggali gak ada akses tanah pekarangan untuk sekadar buang sampah.

Kompos Itu Apa? Buat Petani atau Yang Biasanya Nanam Aja Kan?

Sampah yang menggunung dan kecampur sampah organik-anorganik. (Sumber: beritagar.id)

Jangan salah, sekarang udah ada gerakan bikin komposter di rumah loh. Sampah dapur dan makanan kita 50% menyumbang isi TPA (Tempat Pembuangan Sampah Akhir). YA ALLAH, ngeri kalau semua orang numpuk di sana.

Cara membuat pupuk kompos dari daun pun bisa banget dari sampah pekarangan rumah. Jadi aku biasanya memakai bahan dari sampah dapur, sisa makanan dan daun kering.

Awalnya tuh, aku beli tanah! Wkwkwk. Tanah buat starter kompos ini aku beli di toko pertanian. Kalau kalian di Jogja dan mau cari, bisa cari di selatan Gembiraloka. Atau kalau di dekat Patangpuluhan bisa di daerah Bugisan.

Karena pupuk kompos berasal dari campuran nitrogen dan karbon, bahkan perbandingannya 1:25 idealnya agak terjadi fermentasi sempurna, jadi tinggal cari aja yang sesuai.

Kalau aku gak saklek perbandingan kandungan pupuk kompos itu. Itu aja aku baru tahu setelah setahun ngompos. Yang penting sih, banyakin aja karbonnya. Insyaallah, ngompos gak ada gagalnya. Hanya lama atau cepat panennya aja.

Manfaat Kompos Apa Sih?

Komposter pot milikku. (Sumber: foto pribadi)

Kalau menurut aku sih, mengompos itu mengurangi banget sampah keluar. Jadi, setelah dikompos, sampah organik kita bakal jadi tanah lagi. Tanah hitam yang gembur itu loh.

Kalau dikompos, sampah kita gak bakalan jadi sampah lagi juga. Hemat bersihin tempat sampah. Gak usah cuci-cuci tempat sampah atau plastik buat nampung. Bahkan jadi ngurangi plastik juga. Sampah juga gak bakal kecampur satu sama lain.

Gak kebayang kan, sampah plastik nyampur sama kulit mangga dan busuk di dalamnya. Terus tetep ada di TPA, gak bisa regenerasi jadi tanah lagi. Mubazir banget kalau gak dikomposin deh.

Fungsi Kompos yang Sudah Dipanen

Hmm, manfaat sama fungsi hampir sama sih ya. Aku lebih menyoroti hasil komposnya aja deh. Jadi, selama aku ngompos, hasil panennya aku pakai buat:

  1. Jadi starter komposter lagi
  2. Buat media tanam
  3. Buat pupuk kompos berupa pupuk cair (air lindi)
  4. Buat campuran tanah pekarangan biar lebih gembur

Sejauh ini, fungsinya itu aja sih. Belum tau ada fungsi lainnya apa. Kapan-kapan belajar pemanfaatan lain deh dan nanti aku share di sini. Denger-denger bisa buat nutrisi lele di budidaya kolam gitu. Next ya, insyaallah.

Cara Membuat Kompos Sederhana Rumah Tangga ala Aku

Nanem dari media tanam hasil mengompos. Uhui bahagiak! (Sumber: foto pribadi)

Yuk kita mulai masuk cara bikin kompos rumahan. Dijamin rahasia ini bakal bikin kalian gampang mencerna. Niat awal bikin ini, tanamkan dalam hati kalau kalian ingin mengubah mindset tentang sampah.

Sampah BUKANLAH sesuatu yang kalian hindari terus dibuang keluar rumah.

Tapi, ganti dengan mindset ini: AKU BISA BERDAYAKAN SAMPAH AGAR LEBIH BERMANFAAT. Bukankah nanti kita juga diminta pertanggungjawaban dari apa yang kita pernah punya?

Oke, jangan lupa membaca Bismillahirahmanirrahim. Semua terjadi atas izin-Nya. Kalian bisa baca tulisan ini juga Allah yang menggerakkan hatimu. Kita mulai dari alat bahan dulu ya.

Alat dan Bahan Pembuatan Kompos

Aku pakai alat dan bahan standar aja ya. Komposter yang ada di rumah udah pakai berbagai wadah.

Alat:

1. Wadah komposter.

Sejauh ini yang aku tau bisa pakai apapun! Kalau aku pakainya ember bekas, karung, polybag, kardus takakura, pot plastik. Idealnya ada lubangnya untuk komposter aerob ini.

2. Tutup wadah komposter.

Bisa pakai tutup ember, baki besar, karung atau kresek. Prinsipnya adalah tertutup agar suhunya tinggi untuk kondisi ideal fermentasi.

3. Alat pengaduk.

Bahan:

1. Bahan cokelat untuk menyerap air lindi.

Bisa daun kering, sekam mentah atau bakar.

2. Tanah pekarangan.

3. Sampah organik.

Bisa dipisah antara sampah basah dan kering. Sampah organik nabati dan sampah organik hewani.

4. Bahan kandungan karbon.

Bisa daun kering, bubuk cangkang telur, atau hasil serutan kayu.

5. Air cucian beras yang dibiarkan semalam.

Berbagai wadah komposter milikku

Cara Mudah Membuat Komposter

Cara mudah membuat komposter yang aku pakai adalah dengan menaruh satu per satu bahan kompos di wadah komposter.

Urutannya adalah:

  1. Bahan cokelat.
  2. Tanah pekarangan
  3. Sampah
  4. Bahan cokelat
  5. Bahan organik
  6. Tanah
  7. Air leri yang disiramkan merata

Nah, setelah selesai, tinggal tutup rapat. Tunggu 3-7 hari untuk bisa menambahkan sampah organik di rumah. Jangan lupa diaduk ya biar kena oksigen merata dan mempercepat fermentasi.

Oya, tadi aku menyebutkan kompos aerob ya. Jadi ada dua kompos yang bisa dibuat. Kompos aerob dan kompos anaerob. Perbedaan kompos aerob dan anaerob nanti aku bahas di postingan selanjutnya ya.

Cara mudah membuat komposter ini gampang dipraktikkan kan? Alat dan bahan bisa yang ada di rumah sendiri. Coba dulu aja, kalau bingung silakan tanya di kolom komentar ya! Mari kita sharing biar enggak pusing. Hehehe.

10 pemikiran pada “Cara Mudah Membuat Komposter (Pengalaman 2 Tahun)”

  1. Aku ada ayam sama sapi dan kucing, mereka makan juga sampah organik dari rumah. Kalau enggak ya tinggal lempar aja di jugangan. Gak telaten Kak kalau suruh ngompos seperti sampean. Tepatnya masih males belum mau gerak, haha

    Balas
    • Kak, itu yang ke jugangan, udah ngompos loh btw. Malah lebih enak karena langsung di tanah bumi. Kalau ada jugangan pun, aku mending itu. Sekalian bikin lubang biopori.

      Balas
  2. Mantaaaap mbak dhita, gegara liat postinganmu soal regrow juga di instagram aku jadi nyobain regrow loncang dan wortel. Ibuku yang udah sering ngompos, jadi stok pupuk kompos banyak, nanti mau kupake buat nanam si loncang pake bungkus bekas minyak goreng hehhehehe

    Balas
    • Aaaaakkkk aku ikut seneng Mbak! Mantap Ibu Mbak. Salam perkomposan ya dariku. Aku juga lagi coba2 nanem yang lain ini. Tapi sereh hasil regrownya mati. Busuk hahaha.

      Balas
  3. bisa aku praktikan ah nanti di rumah cara-caranya, karena kalau di rumah nanam sayuran atau apa suka langsung di tanah, tapi pernah bantuin yang pakai plastik itu, keren niy Mba Dhita rajin juga bikin kompos ya

    Balas
    • Tenang Mbak. Aku tim yang tadinya males banget abis naruh terus tinggal hahaha. Sejak WFH akhirnya mulai rutin dimanfaatin buat nanem jadi nyandu. Hehehe

      Balas
  4. Aku baru mulai belajar nanem dan cinta tanaman nih sejak WFH, belum belajar bikin komposter sendiri. Tapi lihat cara ini kayaknya mudah dan ternyata bahan dan alatnya bisa dari benda-benda sekitar di rumah, kapan-kapan nyobain dan nanya ke mbak yaa hihihi ~

    Balas

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com

error: Content is protected !!