Kisah Nyata: Pesta Dadakan dan Wafer Tumpuk

“Nanti sore ke rumahku ya. Ada pesta.”


Begitu kata mulut kecil berusia 9 tahun. Entah angin  apa yang membawanya membuat pesta kecil di rumahnya. Ibunya pasti akan  terkejut jika mengetahui putrinya tiba-tiba mengundang semua teman perempuan sekelasnya datang ke rumah.


Terlintas sebuah ide kreatif, walau sangat sederhana di pikiran penyuka boyband Westlife itu. Roti ulang tahun Wafer! Dengan cara menumpuknya, wafer akan menjadi bahan yang cocok untuk membuat suasana sore nanti meriah.


Digenggamnya uang beberapa ratus rupiah. Berjalanlah ia ke warung dekat rumah. Tak sampai 5 menit, ia sudah berada di ruang tamu dengan 2 bungkus wafer bermerek nama tarian latin.
Ini bagusnya pakai alas baki bunga sepatu itu, gumamnya. Dengan  berlari, ia mencari alas rotinya. Pasti nanti rotiku unik banget deh, pikir anak gadis berkulit sawo matang itu.


Wafer telah selesai ditumpuk. Persis bentuk piramida yang ada di Timur Tengah. Lilin putih sisa penerangan di kala mati listrik membuat hidangan itu pantas diberi nama roti ulang tahun. Setidaknya ini pantas bagi gadis kecil itu.


“Apa? Pesta? Kamu ngundang temenmu datang ke pesta ulang tahunmu?” Terkaget-kaget, ibu berusia kepala tiga itu membelalakkan mata. Ditatapnya putri kecil pertamanya. Ada sebuah harapan di sana.


“Ya, sudah. Nanti yang datang berapa orang? Kamu cuma bikin roti wafer ini aja?” tanya ibu sembari menunjuk roti unik piramid di meja ruang tamu.
“Teman cewek semua, Bu. Kira-kira 14. Iya, cuma itu.” Dhita, nama gadis kecil itu, tersenyum dan menampakkan giginya.


Menghela napas dan mengelus dada menjadi hal yang dilakukan Ibu Dhita. Tapi dengan sigap beliau menyuruh anaknya membelikan semua hal yang dibutuhkan untuk pesta.


Mungkin perempuan yang berprofesi Guru itu berpikir bahwa menyenangkan anak di usianya yang genap 9 tahun ini sekali-kali tak apa. Toh dia sudah bekerja keras mengundang semua temannya dan membeli dua bungkus wafer untuk menjamu mereka.


“Nih, sana, beli jajan. Tiga macam. Jumlahnya 14 ya masing-masing. Nanti Ibu bungkus pakai kresek, untuk oleh-oleh temanmu saat pulang.” Dhita bergegas lari ke warung tempat ia membeli wafer. Kali ini, dia memborong banyak.


“Dhita, selamat ulang tahun.” Azan Ashar baru selesai beberapa menit yang lalu. Satu per satu teman kelasnya datang membawa kado dan memberinya ucapan.

Tibalah di puncak acara, gadis tomboy penyuka celana pendek ini meniup lilin putihnya dengan rasa bahagia. Sebelumnya, anak perempuan berjumlah 14 menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dengan  lirik akhir Tiup Lilinnya. Seperti pesta ulang tahun kebanyakan.


Fuuuhhh!
Tepuk tangan keras mengiringi matinya api lilin. Makan jajan dan minum es sirup menjadi penutup pesta kecil dadakan sore ini. Saat jarum pendek menunjukkan angka 5, teman-teman Dhita mulai pamit sambil membawa tentengan.


Ibu tersenyum bahagia melihat anaknya bahagia pula di pesta dadakannya itu. Kado yang sudah diberikan, ia buka satu per satu. Kado terunik yang dia buka adalah sabun mandi yang wangi seperti di iklan TV.



Dua puluh tahun yang lalu terlewati sudah. Aku mengingat lagi peristiwa yang memang paling unik di kala jumlah usiaku bertambah. Pada 20 tahu  yang lalu, aku tak berpikir banyak untuk membuat sebuah pesta yang kiranya sama dengan pesta ulang tahun kebanyakan.


Jika di usia ini ini aku memiliki ide kreatif lain, pastilah aku akan berpikir banyak untuk mewujudkannya. Apakah dananya mencukupi? Apakah aku harus mengundang semua temenku? Atau teman yang mana yang bakal aku undang?

Terlebih lagi, aku pasti akan berpikir untuk apa aku merayakan pesta ulang tahunku di usia 29 ini? Bahkan sudah hampir beberapa tahun ini, aku jarang sekali membuat pesta, bahkan untuk untuk anakku sendiri.


Akhirnya aku hanya memutuskan, melewatkan  semua pesta dan beralih mensyukurinya dengan mengapresiasi diri.

Kamu sudah bekerja dengan baik, Dhita!
Kamu sudah belajar banyak dari kehidupanmu.
Kamu selalu berjuang untuk lebih baik lagi.

Dan masih banyak lagi kalimat apresiasi untuk diri.
Mengapresiasi diri berarti mensyukuri nikmat Allah. Karena Dia, aku sekarang seperti ini.


Ehm, kali ini, aku punya ide kreatif juga sih sebenernya. Bukan pesta kejutan. Aku hanya meminta kedua laki-lakiku di rumah memotong rambutnya yang sudah panjang agar rapi. Itu saja. Semoga terkabul.

Kalau kalian, bagaimana menyikapi berkurangnya usia?

Bantul, 1 November 2019.

Tulisan ini untuk mengapresiasi diri yang bertumbuh di usia ini (29). Barakallahu fiik.

23 Balasan untuk “Kisah Nyata: Pesta Dadakan dan Wafer Tumpuk”

    1. Aamiin ya Rabb. Makasih Mbak Dian. Setahun ini sudah membersamaiku belajar blog 😘. Semoga Mbak Dian juga sehat juga gangsar lahirannya.

  1. Sebelumnya aku ucapkan selamat ulang tahun Mbak Dit. Semoga usia 29 mu berkah dan membawa bahagia.
    Aku seneng nih kata-kata ketika kita kudu apresiasi pada diri sendiri. kalau bukan kita yang mulai mengapresiasi, siapa lagi?

    1. Aamiin ya Rabb. Makasih Mbak Nurul. Iya Mbak, kadang karena kurang mengapresiasi diri jadi tidak mengenal diri kita sendiri. Padahal itu yang perlu sebelum mengenal orang lain.

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com