Begini Loh Cara UKM Kreatif Bisa Bikin UKM Maju

Menikmati sebuah cup of cokelat, dengan tajuk “Jajan Tonggo Nglarisi Konco” karya UKM Omah Jogja. (Sumber: Foto Pribadi)

“Aku selalu percaya, kreatif itu dilahirkan dari hal yang kere. Loh kok bisa?”

Me, 2019

Kere dan Aktif

Dulu ibuku pernah bercerita, mungkin lebih tepatnya bercanda. Bahwa kreatif itu berasal dari dua kata, yaitu kere dan aktif. Kalau bahasa Jawanya tuh, kere adalah miskin. Miskin di sini menandakan bahwa seseorang enggak punya sesuatu yang ia butuhkan.

Nah karena kere, dia menjadi aktif untuk memiliki hal tersebut. Pernah ngerasa terdesak karena harus mengerjakan sesuatu yang belum selesai? The power of kepepet inilah biasanya yang datang. Kreatif akan muncul di power ini.

Begitulah bincang siangku tadi bersama Bu Poppy, salah satu peserta pameran yang diselenggarakan Dinas Koperasi UKM di Yogyakarta . Di sebuah halaman Alun-Alun Sewandanan Pakualaman, aku selalu amazing atas kreativitas usahanya dan kemajuan yang sangat pesat.

Namun sebelum kita mengenal lebih dalam inspirasi dari Bu Poppy dan teman-teman UKM lain, mari kita lanjutkan melihat apa saja yang aku temukan di sana tadi siang.

Pelanggan DeHijau yang tertarik membeli makanan organik dan sehat untuk anaknya. (Sumber: Foto pribadi)

Gelar Produk UKM Kuliner

Hari ini tanggal 7 September 2019, aku bergerilya memborong jajan untuk camilan bocah (juga emaknya). Setiap acara gelar produk pelaku UKM Jogja ini, aku sangat excited.

Dulu, saat aku baru mengurus anak dan merasa sendirian, aku selalu mengeksplor ilmu dari media sosial dan internet. Di sana tuh banyak sekali ilmu yang tak aku dapatkan sebelumnya, salah satunya makanan/minuman sehat.

Jauh dari orangtua dan sanak saudara membuat aku dan suami belajar mandiri. Kudu kreatif agar bisa maju, seperti tema gelar produk hari ini. Makanya, ini sungguh relatable sama kehidupanku dan menginspirasiku untuk bercerita apa yang kudapat lebih detail.

Empat produk kreatif Bu Poppy. Dari kiri-kanan, tahap makanan anak dari 6 bulan (Sumber: Foto pribadi)

“DeHijau” by Bu Poppy: Semua Ini karena Kelahiran Prematur

Bu Poppy yang memiliki anak dengan kelahiran prematur dan membuatnya maju untuk usaha.

Seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Apa yang bisa seorang
ibu lakukan, itulah aksi heroiknya sebagai pembawa surga di telapak kaki.
Begitu juga Poppy Amalia. Ibu tiga orang anak ini memulai UKM-nya karena
dorongan cinta.

Sulungnya saat MPASI sangat berhati-hati dalam mengonsumsi makanan. Apa
daya, hanya Allah yang kuasa memberi rezeki kepada hamba-Nya. Bu Poppy pun
harus pasrah merawat anaknya yang lahir prematur.

For your information, anak yang lahir prematur memiliki berbagai pantangan
sebelum ia tumbuh dewasa. Dengan kekebalan tubuh yang tidak semaksimal anak
lahir pada waktunya, Sulung harus menjaga asupan yang masuk ke usus kecilnya.

Sambil memutar otak, beliau mencoba mengambil banyak ilmu dengan mencari.
Makanan organik dan sehat menjadi keharusan. Maka, setelahnya Bu Poppy harus
terjun ke dapur mengolah makanan ini.

Organik adalah alami atau natural. Akhir-akhir ini booming karena banyaknya
orang yang ingin sehat melalui makanan alami. Dari dr. Tan, sehatnya makanan
berawal dari makanan yang didapat dari sumber alami. Cara pengelolaannya tanpa
bahan buatan, misalnya pupuk organik dan lain sebagainya.

UKM Kreatif, UKM Maju

Nah, maka untuk menjadi maju, seseorang berawal dari akronim ‘kreatif’ tadi.
Tak punya kekebalan tubuh yang maksimal, membuat Bu Poppy aktif mencari cara
agar Sulung sehat. Dari godogan kreatif pula, dia bisa maju seperti sekarang.

Bu Poppy adalah sosok Srikandi yang kreatif pula dalam mengembangkan
usahanya. Tak tanggung-tanggung, dirinya selalu berinovasi dalam memanfaatkan potensi
penduduk sekitar Jogja.

“Semua bahan yang saya gunakan hampir organik, Mbak, kecuali cokelat. Cokelat itu semi organik, karena tanah di Jogja tidak mendukung,” tutur ibu lulusan sarjana pendidikan Bahasa Inggris ini.

Menggerakkan perekonomian orang lain berarti turut serta memajukan. Tak hanya itu, dengan bantuan Dinas di Provinsi, beliau maju untuk menambah total kekurangan 58% ekspor kuliner dari Jogja.

Dari total 60% UKM kuliner di Jogja, hanya 2% yang berdaya guna mengekspor produknya,” Bu Poppy membuatku tercengang.

Fi-az by Fifi, Adek SMP yang Berdaya Guna

Adek Fifi dengan sigap melayani.
(Sumber: Foto Pribadi)

Adek kecil kita ini, masih kelas 2 SMP. Namun, di hari Sabtu masa liburnya, dia malah nungguin stan minuman jamu bikinan ibunya.

“Aku lagi libur, Mbak. Jadi bisa bantu nungguin dagangan Ibu,” kata gadis kelahiran 2006 ini.

Selalu terenyuh dengan anak-anak yang mau membantu orangtua. Apalagi dengan keinginan anak itu sendiri. Kreatif seperti adek satu ini. Fifi, adek yang pintar menjawab pertanyaanku, sigap melayaniku.

“Jadi ini buat sampel aja, Mbak. Untuk produk yang dijual, pakai botol yang unik ini,” katanya sambil menyodorkan satu botol dengan harga hanya Rp5.000.

Memajukan usaha berarti mengembangkan sayap. Seperti itulah Fi-az Jamu ini. Selain titik penjualan di pinggir jalan, jamu dapat dibeli di Mirota Kampus.

Jamu yang botolnya unik, apalgi ada masa expired-nya. (Sumber: Foto Pribadi)

Aku suka dengan jamu ini karena produknya menyertakan label tanggal expired. Jarang jamu lain yang menggunakannya, kan? Aku pun jadi merasa aman mengonsumsinya.

Omah Jogja by Bu Cecilia: Kreativitas dalam Tajuk Usahanya

Melewati stan minuman dan langsung amaze sama tajuk “Jajan Tonggo Nglarisi Konco”. Dalam bahasa Indonesia artinya “Jajan ke tetangga, bikin laris teman”.

Omah Jogja dengan tiga varian minumannya, Dark Chocolate, Matcha dan Cokleat Susu, membuatku berhenti dan memesan satu gelas Dark Chocolate hangat. Siang itu Bu Cecil memberikanku semangat lewat senyum dan tajuknya.

Bener banget kalau tetangga adalah orang terdekat kita. Bahkan dalam Islam, tetangga harus kita ayomi, dibuat nyaman dengan keberadaan kita. Banyak konflik tetangga muncul karena tidak mengindahkan petuah Islam ini.

Bu Cecil yang murah senyum, menuang cokelat ke gelas dan mengaduknya untukku. (Sumber: Foto pribadi)

DI balik semua itu, membeli UKM tetangga membuat mereka berdaya. Sering enggak kita beli sesuatu yang sebenarnya ada di toko sebelah, tapi malah larinya ke swalayan kecil jauh dari rumah?

Inilah tajuk yang coba Bu Cecil angkat. Bahwa memberi manfaat dan rezeki ke tetangga membuat mereka maju. Kreatif yang bisa dilakukan karena berdaya dari kita. Setuju?

Ini 5 Cara Kreatif yang Bikin UKM Maju

Dari ketiga cerita Srikandi ini, aku jadi menyimpulkan ada 5 cara agar UKM kreatif lalu bisa maju. Baca satu per satu dengan ikhlas, ya. Walaupun masih belum sempurna, semoga cara-cara ini bisa menginspirasi.

1. Lakukan Dulu

Usaha bukanlah usaha jika ia hanya dalam pikiran saja. Saya sering berdebat dengan Bapak saya soal apa usaha yang akan beliau tekuni. Maklum, Bapak sudah pensiun. Beliau ingin mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan membuka usaha di rumah.

Sayang, beliau hanya merencanakan dan membayangkan. Aksi adalah segalanya. Memang, untuk keberanian orang yang berumur itu beda dengan usia di bawahnya. Dulu, saya malah tidak berpikir akan aksi saya yang nekat menjadi broker konveksi seragam.

Tapi walau begitu, saya selangkah di depan karena sudah mengecap gagalnya usaha. Setidaknya saya bisa lebih tahu bagaimana usaha dijalankan dan apa saja penyebab kegagalannya. Hanya saya memang hanya bertahan dua tahun saja.

Beda dengan Bu Poppy yang bertahan bahkan melejit sampai tujuh tahun dalam usahanya DeHijau ini. Dibangun dengan modal trust dari pelanggan, ia melebarkan sayap.

2. Pelanggan adalah Aset

Jika kamu tidak bisa merawat hubunganmu dengan pelanggan, ia akan menjadi orang yang sambil lalu. Begitu juga dengan UKM yang sedang berjalan tadi.

Adek Fifi dan ibunya dengan membuat banyak titik jualan di pinggir jalan. Ini membuat pelanggan tetap bisa membeli dekat rumahnya. Bu Cecil yang membuat berbagai varian minuman setelah pelanggan memintanya.

Pun dengan Bu Poppy yang akhirnya mengembangkan banyak produk sesuai permintaan. Pelanggan yang loyal akan kembali dan terus kembali. Meningkatkan trust mereka dengan membuat mereka tak lari, misalnya menjaga kualitas makanan tetap sama dengan SOP.

3. Tetangga adalah Modal

Modal sumber daya manusia memang kadang membuat suatu UKM merasa menjadi beban. Bagaimana tidak, jika SDM ini susah didapatkan karena terus menunggu yang terbaik.

Bu Poppy dengan semangat menjadi manfaat, berkeliling Jogja mencari petani bahan organik untuk produk olahannya. Bukan dengan mencari satu sumber, tapi semua sumber beliau sambangi.

Ada pengusaha tepung pisang organik di daerah Srandakan, Bantul; petani cokelat di Kulonprogo, juga petani beras organik di Panggungharjo, Sewon. Ini sebagian kecil orang yang dia ajak untuk bekerja sama.

4. Jangan Lupa Ilmu

Terkadang, seseorang lupa untuk terus meng-update ilmunya. Orang yang ingat untuk terus mengisi adalah orang yang merasa kosong, merasa kurang. Seperti pelaku UKM siang ini.

Bu Poppy, Adek Fifi dan Bu Cecil selalu mencari cara agar usahanya tidak stagnan, atau bahkan tutup. Bermacam komunitas diikuti, seperti PLUT-KMUKM yang telah memberi banyak bantuan terhadap UKM di Jogja agar terus maju.

Kelas yang meng-upgrade pelaku UKM, pelatihan khusus, hingga pameran yang setiap bulan diadakan akan menjadi tangga. Ilmu di dalamnya mahal, karena pemiliknya menambahkan tiap-tiap waktu.

Maka, UKM yang kreatif akan maju dengan ilmu yang dimilikinya. Semakin kuatlah penopangnya dan membuatnya bertahan dengan segala ujian.

5. Berinovasi

Setelah berusaha dengan apa yang sudah ditekuni, Bu Poppy banyak melakukan kemajuan. Bahkan Oktober ini dia dan teman-teman akan mulai menyambangi pelabuhan. Ini dilakukannya untuk menambah jumlah ekspor dari Jogja yang hanya 2%.

Dari 60% UKM kuliner Jogja, 58% hanya sampai di taraf nasional. DeHijau berinovasi untuk memajukan UKM dan berdaya guna bagi negara dengan melebarkan sayap ke ranah internasional.

Ini memang bukan hal yang mudah. Ekspor memiliki banyak syarat yang harus pelaku UKM lakukan agar kualitasnya setara apa yang diinginkan oleh pembeli. Namun, berinovasi akan menjadi pintu bagi para pelaku UKM dalam memajukan usahanya.

Kalau tidak dicoba, tidak akan tahu hasilnya, kan?

Hasil jajan di Gelar Produk Pelaku UKM 6-7 September 2019.
(Sumber: Foto Pribadi)

Lalu, kalau kita masih menjadi pelanggan dan belum menjadi pelaku UKM, bagaimana maju? Bisa banget! Berkaryalah dengan apa yang kau suka, juga apa yang kau bisa. Kreatif dan maju berasal dari diri apa pun medianya.

Bukankah dengan menggeluti apa yang sudah ada dalam diri, lalu menghasilkan dan berdaya beli di UKM lokal, kita bisa berpotensi lebih memajukan perekonomian negara. Semoga, ya!

Hasil memborong camilan dan minumal UKM lokal yang kualitasnya nasional. (Sumber: Foto Pribadi)

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com