Inspirasi Cinta Bumi pada Grebeg Lebaran PLUT Jogja 2019

Ela, gadis manis yang baru lulus SMA ini ikut memasarkan batik eco-print milik ibunya.

Stan INALU, Batik Eco-Print Ramah Lingkungan

Ela, Gadis Manis Baru Lulus SMA yang Pintar

“Demi gaji, Mbak,” ujarnya sambil meringis saat aku menanyakan apa motivasinya ikut di pameran UMKM ini. Seorang gadis yang baru menginjak usia 17 tahun ini terlihat percaya diri saat saya menanyakan tentang produk eco-print. Ternyata, dagangannya kali ini adalah titipan ibunya.

“Kata Ibu, daripada aku nganggur di rumah. Kan udah lulus dan bebas tanggal 18 Mei kemarin ini. Daripada main HP aja katanya. Ha-ha-ha. Ya, demi gaji kan, Mbak?” Pipi Ela, gadis penjaga stan batik eco-print, merona dan saya pun tergelak. Tak menyangka, gadis penjaga salah satu pameran ini adalah anak seorang pengusaha UMKM.

“Ibu sudah lama berkecimpung di bidang ini, Dek?” tanyaku ingin tahu. “Emmm, sekitar tiga atau empat tahun yang lalu,” ujarnya sambil membetulkan letak kacamata hias di wajah.

“Wah, berarti saat kamu masih akhir SMP atau masuk SMA ya?”

“Iya, Mbak. Saya malah sering disuruh nyoba bikin sama Ibu.”

Hebat, pikirku. Saat remaja seusianya lebih suka main atau bahkan fokus memikirkan si dia, eh, Ela bahkan mau belajar membatik kontemporer ini. Saya terhenyak setelah mendengarkan banyak kisah dari Ela, gadis ini ternyata sangat menguasai produk UMKM yang diikutkan dalam pameran Grebeg Lebaran 2019 siang itu.

Eco-print, Tak Hanya Soal Mencetak

Batik eco-print ternyata memiliki harga jual tinggi. Saat saya bertanya salah satu produk cardigan harganya di atas 400 ribu rupiah.

“Emang mahal, Mbak,” Ela seperti mengerti keheranan saya saat mendapat jawaban harganya. “tapi sebanding dengan proses pengerjaannya,” sambungnya.

Dikutip dari wargajogja.net, batik eco-print pertama kali digagas oleh seorang warga negara Australia bernama India. Popularitas batik eco-print ini naik pesat di Indonesia pada 2017. Salah satu penyebabnya adalah tren gaya hidup masyarakat ramah lingkungan.

Kenapa dikatakan ramah lingkungan? Jika dirujuk dari namanya, eco berasal dari kata ekosistem (alam termasuk yang ada di Bumi) dan print yang artinya mencetak. Lalu diperluas dengan arti bahwa bahan berupa kain ini dicetak dengan bahan-bahan yang berasal dari alam, yaitu daun.

“Daunnya bisa jati, kenikir, dan lain-lain, Mbak. Syaratnya tuh harus berwarna kuning (agak tua),” tukas Ela. Proses pembuatannya diawali dengan pengolahan kain. Kain putih direndam dulu dengan air tawas agar lilin yang menyelubungi kain, bisa luruh. Manfaatnya adalah untuk mempertahankan warna dasar kain dan juga membuka pori-pori kain. Setelahnya, dilanjutkan dengan pengeringan.

Saat pengeringan pun, ternyata tidak boleh dijemur di bawah matahari langsung. “Kudu diangin-anginkan saja, Mbak, dua sampai tiga hari,” kata Ela. Saat saya tanya kenapa hanya dianginkan, ternyata kualitas kain yang dijemur angin-angin lebih baik daripada yang langsung terpapar sinar matahari.

Selanjutnya, proses mencetak daun. Dalam proses ini, terkadang bisa di-skip. Dari butik Inalu ini, pembeli bisa memesan corak batik sesuai keinginan. Maka, saat corak yang dipesan, misalnya, ada corak daun di bahu kanan-kiri saja, maka prosesnya adalah dijahit dulu bahannya. Setelah dijahit, proses mencetak dapat dilakukan sesuai pesanan.

Untuk pameran, Inalu menyiapkan sendiri produk yang akan dipamerkan. Produk inilah yang memakai proses mencetak setelah diangin-anginkan. Daun ditata di satu sisi kain secara abstrak. Setelahnya, kain ditutup plastik lalu digulung. Di sini kita harus teliti agar tetap mempertahankan posisi daun. Kain yang sudah tergulung, diikat kencang.

Tahap ini merupakan tahap yang ditemukan setelah eksperimen Ibunya Ela berkali-kali. Tahapan pengukusan agar warna daun tercetak. Gulungan kain tersebut dikukus selama sepuluh jam, tidak boleh lebih atau kurang. Saat waktu kukus meleset, maka kualitas kain akan menurun. Seperti metamorfosis kupu-kupu pada tahap kepompong ya? Oh ya, daun yang tercetak di kain tergantung pada warna daun asalnya. Untuk daun jati, warna kuning kecoklatanlah yang akan mendominasi.

Dari 2 Juta Disulap Menjadi 300 Juta Rupiah

Para ibu sedang mengunjungi butik Inalu

“Eh, kalau untuk masyarakat Jogja, kayaknya nih, harganya belum terjangkau ya?” tanya saya kepo. Tak dapat dimungkiri, harga produk batik eco-print ini lumayan tinggi. Pashmina yang saya pegang pertama kali di rak Inalu mencapai 200 ribu rupiah. Bandingkan dengan pashmina kain bukan eco-print, paling mahal 99 ribu rupiah.

“Nah, makanya Mbak, kami menjualnya tertarget. Kami menjual di saat musim semi dan panas kepada bule-bule,” ujar gadis campuran Pati-Jakarta ini. Ternyata, E-bay dan Amazon adalah toko daring terlaris butik Inalu. “Selain itu, kami sering ikut pameran di Bali dan Jakarta, di sana kemampuan pembeli lebih tinggi, Mbak.” Ela menjelaskan dengan semangat tinggi.

“Bahkan sebenarnya, kalau kami ikut pameran itu, kami kayak main terus pulangnya bawa duit lebih banyak dari modal main itu.” Ela menarik napasnya dan melanjutkan, “Kemarin kami sekeluarga ke Bali lima hari pakai mobil bawa produk ke pameran. Modalnya 2 juta lah, pulang-pulang bawa 300 juta.”

Dahsyat! Hampir 150 kali lipatnya! Tak bisa dipandang remeh urusan wirausaha batik eco-print ini. Saat tahu celah pelanggan tertarget, kita bisa mendapatkan lebih banyak pesanan. Saat batik ini konsisten dipasarkan, sekitar 25-30 potong produk bisa habis dalam sebulan, di luar penjualan melalui pameran.

Tentang Bolu Thiwul yang Unik

Bolu Thiwul sehat banget

Selain batik eco-print, pameran Grebeg Lebaran ini menyediakan stan penjualan sembako murah, makanan, minuman, tanaman, produk fashion, bahkan alat masak. Nah, saya yang sudah memiliki sembako cukup di rumah, akhirnya mencari jajanan sehat yang bisa dibawa pulang. Pas sekali anak saya lapar.

Di depan panggung untuk pembukaan dan penutupan pameran, ada satu makanan yang menggoda iman, eh, lidah. Terpampang gluten free dalam spanduknya. Bolu Thiwul nama makanannya. Dikemas dalam kotak kemasan berwarna cokelat, terdapat dua varian bolu. Orisinal dan keju parut.

“Akhtar mau yang ini.” Tunjuk anak saya pada bolu thiwul orisinal. “Mau makan sekarang, ya? Boleh?” Anak saya meminta dengan senyum khasnya. Saya mengangguk dan menyelesaikan transaksi.

Makanan ini termasuk makanan sehat. Memakai gula semut organik, bolu ini memiliki citra baik bagi tubuh. Apalagi sematan gluten free, makanan yang berasal dari bahan khas Jogja ini menarik perhatian. Seperti disinyalir bahwa zat berupa tepung akan mengandung gluten. Gluten ini membuat sistem pencernaan bekerja lebih berat.

Nugget Ayam Non MSG, No Micin Euy!

Pengawet adalah musuh besar keluarga kami. Bukan karena rasa gurihnya, tapi karena zat aditif yang bisa merusak kesehatan secara perlahan. Apalagi pengawet bukan berasal dari bahan alami. Maka saat anak saya meminta lauk ayam, saya langsung membelikannya Nugget Ayam Non MSG ini.

Olahan nugget ini tak hanya varian ayam. Kalian bisa menemukan varian ayam sayur dan nugget udang. Kemasannya pun bisa kita pakai ulang. Jadi, saat makan penuh gizi, sampah kemasan pun diminamilisir.

Cao Kelor Pegagan Melegenda

Minuman ini terbuat dari saringan kelor yang dipadatkan. Dalam kemasannya, terdapat dua plastik berisi cao dan gula jawa. Kata Mbak penjualnya, cao ini bisa dinikmati untuk 4 orang. Harganya murah, hanya 10 ribu rupiah per cup, lho. Wah, alternatif cao dari daun cao yang biasa kita beli, ya?

Kelor yang banyak tumbuh di pekarangan ini memiliki banyak manfaat. Selain meningkatkan daya ingat dan konsentrasi, kelor juga mempercepat penyembuhan luka, anti trombosis, sebagai antiseptik, dan juga menstimulasi peredaran darah.

Tips Main ke Pameran Grebeg Lebaran

Eh, jangan salah, mau main ke pameran pun kudu ada tipsnya. Ini nih tips dari saya yang udah main pas hari pertama. Setelah mengingat, menimbang dan memutuskan, ha-ha-ha.

  1. Bawa tas belanja sendiri. Di sini, kita bisa berikhtiar meminimalisir sampah plastik dengan membawa tas belanja sendiri. Alhamdulillah, para penjual di sana memberikan apresiasi saat saya menolak kresek. Tipsnya adalah saat penjual akan mengambilkan kresek, tolak dengan halus. “Mbak, enggak usah pakai kresek. Saya bawa tas kok.” Selain meminimalisir sampah, kita juga membantu penjual dengan mengurangi modal mereka membeli kresek. Iya kan?
  2. Bawa tumbler buat beli minuman. Walaupun saat itu sedang bulan puasa, yang namanya anak belum baligh pasti cepat haus. Apalagi puasanya sampai bedug aja kan, ya? Beli es teh adalah pilihan yang menggoda. Nah, boleh tuh membelinya dengan membawa wadah sendiri. Tumbler dengan kapasitas 500 ml sudah bisa menampung kesegaran khas teh melati.
Begini nih ramainya grebeg lebaran di alun-alun Sewandanan Pakualaman

Review Grebeg Lebaran 2019

Penampakan pameran Grebeg Lebaran PLUT Jogja 2019

Pameran ini dimulai pada tanggal 24 Mei 2019 dan berakhir tanggal 26 Mei 2019. Dibuka pukul 10:00 sampai 17:00 WIB. Saat saya datang, pameran baru saja dibuka. Parkiran motor dan mobil sangat nyaman berada di seberang pameran. Grebeg Lebaran kali ini diselenggarakan di Alun-alun Sewandanan Pakualaman. Lalu lalang pembeli belum seramai saat sore hari. Cuaca yang panas bisa diminamalisir dengan atap teduh yang disediakan panitia. Apalagi ada banyak kursi di depan panggung untuk beristirahat.

Asyiknya, pameran tak hanya soal menjual dan membeli. Pameran pertama hari Jumat, 24 Mei 2019 pukul 13:00 WIB, terdapat edukasi singkat untuk para penjual. Adanya money digital memudahkan transaksi pembeli dan penjual. Salah satu starter up OVO memberikan ide bisnisnya secara gratis. Pun dari salah satu penjual yang sudah memakai OVO setahun lamanya. Dia memberikan insight dengan pengalamannya dengan OVO.

Oh ya, peserta pameran tak hanya dari wirausaha mandiri. BULOG, Aspartan, Tanihub dan masih banyak lagi juga ikut meramaikan Grebeg Lebaran kali ini. Seperti grebeg lebaran lain, harga yang disuguhkan juga tergolong terjangkau. Harga beras per kilo hanya 8.500 rupiah, bahkan daging sapi hanya 80 ribu rupiah per kilo. Ada juga bawang merah yang dihargai 27 ribu rupiah per kilo. Ini sangat membantu di kala semua harga sembako naik pra lebaran.

Makanya, mumpung masih ada waktu esok hari di hari Minggu, 26 Mei 2019, yuk serbu. Pameran buka pukul 10:00 WIB yaa. Nah, alamat Grebeg Lebaran 2019 ini ada sini.

Di Balik Grebeg Lebaran 2019

Tak heran juga, di balik penyelenggara pameran ini adalah PLUT Jogja dan Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. PLUT yang mempunyai visi menjadi Pusat Layanan Terpadu utama yang memampukan Koperasi dan UMKM dalam membangun potensi unggulan daerah. Lihat pula visi Koperasi UKM DI Yogyakarta yaitu “Terwujudnya Peningkatan Kemuliaan Martabat Manusia Jogja”.

Layanan PLUT Jogja berupa Konsultasi Bisnis UMKM, Pendampingan atau Mentoring Bisnis, Fasilitasi akses pembiayaan, dan masih banyak lagi. So, kalian punya usaha dan ingin bergabung? Dilayani, didampingi dan memberi solusi 100% FREE Ini alamat kantornya , siapa tahu butuh.

PLUT-KUMKM DIY, Jalan HOS Cokroaminoto 162 Yogyakarta, Telepon : 0274 552149. Maps Kantor bisa klik di sini.