Berbagi Kebahagiaan Bangun Rumah bersama PruVolunteer di Selopamioro Bantul

Awal Berbagi Kebahagiaan

PruVolunteer Bangun Rumah

Banyak para alim atau orang bijak yang mengatakan bahwa jika kita ikhlas menolong orang lain dalam urusan kebaikan maka nanti Allah Swt. yang akan memudahkan urusan kita. Caranya terkadang enggak bisa kita duga-duga. Dalam kitab suci pun, kebaikan seberat zarah (quark dalam teori fisika) pun kelak akan diberikan balasan.

Seperti tulisan saya sebelumnya tentang Allah Menolongku Lewat Ngantar Anak Yatim, keajaiban demi keajaiban berbagi sepertinya akan tetap menjadi satu kebahagiaan. Kebahagiaan yang kalau mau diucapkan saja susah. Bahwa dalam dunia ini, bukan kekayaan yang ditumpuk yang mendamaikan hati namun senyum seseorang yang mendapatkan sesuatu dari kita. Konsep berbagi apa pun yang kita miliki ini menjadi amal yang tak terputus walau kita kembali kepada-Nya.

Di Greenhost Hotel Kami Bertemu

Seperti hari itu, saat saya dan kawan-kawan bloger diundang oleh Community Investment CSR Prudential untuk menjadi salah satu volunteer pembangunan rumah. Desa Selopamioro Bantul menjadi destinasi kami. Sebelumnya, kami berkumpul dahulu di Greenhost Hotel untuk briefing dan memakai seragam berupa kaos volunteer.

Jajaran tim Prudential di Greenhost Hotel Jogja

Alhamdulillah, setelah sarapan di hotel yang dijamu oleh pihak Prudential, aku mengucap basmallah dan bersiap-siap memasuki mobil jemputan. Ada 4 mobil yang membawa kami ke Selopamioro. Tim Prudential dengan tiga mobilnya, termasuk Jens selaku President Director. Dan kami para blogger di mobil nomor tiga.

Perjalanan ke sana seperti lagu Naik-naik ke Puncak Gunung, kiri kanan kulihat saja banyak pohon. Tapi bukan cemara, kebanyakan pohon yang berdiri itu Jati. Tipikal pohon yang tumbuh di daerah kapur. Sumber air dari mata air yang disalurkan memakai selang. Tak ada sumur, tanah tak bisa dibor. Selain itu, provider yang paling terkenal luas jaringannya saja tak mendapat sinyal. Tepatlah pihak Prudential menetapkan daerah Selopamioro menadi dareah yang layak dibantu.

Ke Selopamioro Bantul, Kami Mengabdi

Sampai sana, jam menunjukkan pukul 9:30 kami menginjakkan kaki di Selopamioro. Kami disambut hangat oleh Lurah Pamioro dan diberikan sambutan bahwa mereka berterima kasih atas prakarsa Prudential yang membantu 30 KK untuk mendapatkan rumah layak huni. Pembangunan rumah ini juga bekerja sama dengan Habitat for Humanity.

Welcome Volunteer!

Setelahnya, kami berolahraga pagi dibantu Pak Lurah. Stretching gitu. Memang, kami akan membantu dalam pembangunan rumah. Maka, setelahnya tim Prudential dan blogger dibagi menjadi tujuh tim. Tim 1 sampai 3 akan membantu dalam wailing. Tugasnya menyaring pasir, mencampur semen dan pasir tadi, membangun tembok, dan membuat cakar. Untuk tim 4 sampai 7 akan berjalan kaki menuju rumah-rumah yang lumayan dekat dengan titik kumpul. Tim ini akan mengecat rumah yang sudah jadi.

Pak Lurah Selopamioro Bantul (batik biru) menyambut tim PruVolunteer.

Saya mendapat bagian wailing di tim tiga. Bersama Mbak Sapti dan Mas Aan selaku blogger, kami berkumpul dengan para karyawan dan eksekutif Prudential. Sepanjang perjalanan, suasana ramah di dalam mobil membuat kami enggak bosan. Sesampainya di calon rumah tim tiga, kami langsung berkenalan dengan calon pemiliknya. Namanya Mas Slamet dan Mbak Susan.

Bagian merah adalah daerah yang mendapat bantuan pembangunan rumah dari Prudential dan Habitat for Humanity.

Menjadi Salah Satu Sebab Senyum Mereka

Mengabadikan pertemuan dengan Mas Slamet dan Mbak Susan, calon penghuni rumah. Serta para teman baru dari Prudential dan Habitat for Humanity

“Anak saya dua, Mas. Satunya usia 7 tahun dan yang kecil usia 3,” jawab Mas Slamet saat salah satu tim Prudential  bertanya. Kami disuguh pisang yang ranum-ranum dan teh hangat. Suasana desa terasa sekali saat menyambut kami. Tidak lama, kami langsung berkumpul sebelum bekerja. Briefing dijelaskan oleh Mas Pandi, selaku ketua tim tim tiga. Beliau juga perwakilan dari Habitat for Humanity.

“Aku mau nembok,” ujarku saat tugas mulai dibagi. Mbak Sapti sesama blogger juga mengambil tugas yang sama. Dulu saat saya kecil, saya pernah bantuin Pak Tukang yang membangun rumah orangtua saya. Jadi, saya pikir ini pengalaman yang bisa membangkitkan memori baik di masa kecil. Namun, saya tak mengira bahwa batako yang menjadi bahan rumah tersebut beratnya melebihi bata merah. Benar-benar seperti sedang latihan beban lengan. Hahaha.

Nukang dulu bersama tim, termasuk Mbak Sapti di sebelah saya (kerudung merah).

Saya ditemani Mas Wanto, tukang yang membangun rumah di sana. Yah bisa dibilang supervisor saya, hahaha. Saat saya kehabisan campuran semen pasir (kalau di tempat saya namanya jenang), Mas Wanto sigap mengambilkan isinya. Pun saat saya kurang telaten menaruh jenang tadi di atas lapisan tembok, Mas Wanto merapikannya.

Saya baru teringat saat membangun tembok, batako akan disusun secara selang-seling. Jadi lapisan pertama akan memakai batako utuh sampai selesai satu lapisan. Setelahnya, lapisan atasnya akan memakai batako yang dibelah untuk sisi paling pinggir. Jadi, saat tembok selesai akan terjadi perbedaan letak batako tiap lapisannya.

Sampai pukul 11:15 siang, saya dibantu Mas Wanto sudah berhasil menyelesaikan empat lapisan. Alhamdulillah sesuai target. Selesai itu pula, mobil jemputan kami datang. Karena tim ada yang laki-laki, mereka akan bersiap salat Jumat. Kami, para perempuan beristirahat dan makan. Setelahnya, laki-laki pulang jumatan dan makan.

Ayo tim!

Serah Terima 30 Kunci Rumah

Jens Reisch (kedua dari kanan) selaku President Director Prudential Indonesia menyerahkan simbolis 30 kunci rumah kepada Bupati Bantul Drs. H. Suharsono.

Tim Prudential menjadwalkan acara sampai sore. Nantinya akan ada acara serah terima secara simbolis berupa kunci 30 rumah yang dibangun.

PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) yang bekerjasama dengan Habitat for Humanity Indonesia menyerahkan 30 kunci rumah kepada perwakilan warga di Dusun Kajor Wetan, Desa Selopamioro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kegiatan ini, selain merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, juga merupakan implementasi Leadership Immersion Programme dari PRUuniversity sebagai upaya Prudential Indonesia membantu karyawan menjadi profesional, salah satunya dengan memperkokoh sifat-sifat kepemimpinan yang berlaku di seluruh bisnis Prudential.

Jens Reisch selaku President Director Prudential Indonesia menjelaskan, “Prudential berkomitmen untuk selalu memberikan dampak nyata dan mendukung masa depan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Sebagai perwujudan sifat kepemimpinan yang ditanamkan dalam Leadership Immersion Programme, sebanyak lebih dari 370 rekan-rekan PRUsynergy turut berkontribusi dan bekerja sama dalam menuntaskan target pendirian 30 rumah.”

 “Atas nama pemerintah daerah Bantul, kami menyampaikan terima kasih atas inisiatif yang dilakukan Prudential Indonesia dengan Habitat for Humanity Indonesia dalam membangun rumah-rumah warga. Kami mengapresiasi dukungan Prudential terutama sejak tahun lalu di mana Prudence Foundation mendirikan satu gedung PAUD dan lima rumah, dilanjutkan dengan diserahkannya 30 hunian layak huni hari ini, yang kami yakin sangat bermanfaat bagi warga Dusun Kajor Wetan, Desa Selopamioro, Bantul, dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.” sambut positif Drs. H. Suharsono, Bupati Bantul saat serah terima.

Tentang Prudential Indonesia

PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) didirikan pada 1995 dan merupakan bagian dari Prudential plc, London – Inggris. Di Asia, Prudential Indonesia menginduk pada kantor regional Prudential Corporation Asia (PCA), yang berkedudukan di Hong Kong. Dengan menggabungkan pengalaman internasional Prudential di bidang asuransi jiwa dengan pengetahuan tata cara bisnis lokal, Prudential Indonesia memiliki komitmen untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

Sejak meluncurkan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (unit link) pertamanya pada 1999, Prudential Indonesia merupakan pemimpin pasar untuk produk tersebut di Indonesia. Prudential Indonesia telah mendirikan Unit Usaha Syariah sejak 2007 dan dipercaya sebagai pemimpin pasar asuransi jiwa syariah di Indonesia sejak pendiriannya.

Hingga 31 Desember 2018, Prudential Indonesia memiliki kantor pusat di Jakarta dengan 6 kantor pemasaran di Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan, dan Batam serta 404 Kantor Pemasaran Mandiri (KPM) di seluruh Indonesia. Sampai akhir 2018 Prudential Indonesia melayani lebih dari 2,1 juta nasabah yang didukung oleh lebih dari 250.000 Tenaga Pemasar berlisensi.

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:
Luskito Hambali as Chief Marketing Officer
PT Prudential Life Assurance
Prudential Tower Jl. Jend. Sudirman Kav. 79 Jakarta 12910
Phone / Fax : 021 2995 8888 / 021 2995 8855
E-mail : luskito.hambali@prudential.co.id

Allah Menolongku Lewat Nganter Belanja Anak Yatim

Dua tahun yang lalu, kami nganter belanja anak yatim yang bahagia.


Tika. 15 menit yang lalu.

Besok, kami akan mengajak anak-anak yatim buat belanja kebutuhan pindahan mereka untuk pondok baru. Dana dari donator sudah ready, siapa nih yang berbaik hati nganter mereka belanja? Siapa tahu ada mobil yang nganggur, syukur-syukur mau nyopirin. Hehe.

Pagi itu aku membaca status milik temanku, Tika, yang memang menjadi founder salah satu komunitas yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Mengumpulkan informasi calon penerima donasi (para teman yang butuh pertolongan, ada yang dhuafa, anak yatim, dan banyak lagi), lalu membuka kesempatan para donator untuk membantu calon penerima, begitulah kira-kira mekanismenya.

Hari itu, akulah yang tergerak. Bukan karena aku sedang ada uang, aku malah terkejut karena pas sekali aku sedang meminjam mobil Ibu untuk keperluanku berangkat tes guru kontrak di Semarang.

***

Status whatsapp teman yang kunamai Tika muncul di pemberitahuan beberapa menit yang lalu. Status meminta pertolongan kendaraan dan mengantarkan anak yatim belanja.

Status dari Tika itu kucerna baik-baik. Mobil yang kupinjam dari Ibu masih ada di Jogja, terparkir di depan rumah. Suami berencana mengembalikan saat hari Minggu tiba, hari liburnya.

“Ay, ini ada temanku butuh mobil besok pagi. Pondok anak yatim Ada yang mau pindahan dan perlu belanja kebutuhan. Kamu besok pagi free kan? Nanti mobil ibu dipakai saja daripada menganggur. ”

“Jam berapa, Nda?”

“Jam 9 pagi sudah sampai di pondok lama mereka.”

“InsyaAllah, Nda.”

Aku yang memang ingin sekali membantu teman dan anak yatim tersebut bersorak dalam hati. Ternyata kemudahan tak hanya dirasakan olehku saat Ibu meminjamkan mobilnya, mereka (anak pondok) pun dimudahkan dengan adanya kesempatan baik ini, pikirku.

Aku yang bahagia bisa sedikit membantu dengan tenaga suami untuk menyetir dan tenagaku untuk menemani anak-anak yatim belanja, segera mengirim pesan ke Tika. Semenit kemudian, Tika berterima kasih di kotak percakapan kami dan meminta untuk datang ke alamat yang diberikan.

Sebenarnya, kami bukannya sedang banyak uang. Hanya saja, kami ingin membantu karena kebetulan ada mobil. Itu saja. Sungguh, kalau dihitung-hitung, uang kami bahkan hanya cukup untuk kebutuhan dua hari ke depan, termasuk beli bensin mobil. Ya Allah, cukupkan.

Keesokan harinya, hari petualangan kami datang. Aku, suami dan anak sudah siap menjemput. Kami menjemput anak-anak yatim dengan total 4 orang anak perempuan seusia adik kandung bungsuku. Juga ada satu bapak pengasuh bernama Pak Habibi. Kami sampai di pondok sesuai janji dan langsung meluncur ke supermarket besar dengan wahana mainan di lantai teratasnya. Tika dan satu teman lainnya sudah menunggu di sana.

“Assalamu’alaikum, Tik.”

Setelah parkir mobil dan masuk ke supermarket, aku menemukan Tika yang sedang duduk menunggu kami di bawah eskalator.

“Wa’alaikumsalam, Mbak.”

Senyum Tika seperti senyum sebelumnya pernah kutemui. Pancaran wajahnya tergambar bahwa ia senang mengetahui ada penolong untuk calon penerima donasi dari komunitas yang ia dirikan. Aku pun ikut senang bisa berbagi tenaga. Setelah kami berdoa bersama sebelum melakukan belanja, Tika memimpin briefing kecil-kecilan. Dia membagi tugas siapa yang membeli barang-barang kebutuhan sesuai catatan dan siapa yang mencatat apa yang sudah dibeli juga harganya.

Ada Bunga, Zaski, Sofia dan Novi. Mereka keempat anak yang kami temani belanja. Keempat anak itu adalah anak yatim dari daerah Bengkulu. Tetangga dari Pak Habibi yang diajak hidup di Jogja agar hidupnya lebih terjamin. Sebenarnya ada 12 anak, tapi 8 lainnya menunggu di pondok. Aku dan Tika serius mencari barang yang akan dibeli dan anak-anak mengikuti ke mana pun kami pergi dengan patuh. Memilih barang yang harganya cocok dan mencatatnya. Bunga dan Novi memasukkan barang ke dalam keranjang, sementara Zaski dan Sofia mencatat harganya.

Setelah selesai belanja, anak-anak juga diajak main wahana roller coaster. Saat anak-anak pergi berkeliling, aku menawari Tika untuk memakai kartu bermainku di zona bermain itu. Tapi ternyata, anak-anak sudah antre beli, dan aku terlambat memberikan kartu depositku. Sesampainya di wahana, kebahagiaan terpancar. Anak-anak yang memang baru pernah bermain wahana ini, antusias sekali. Kupotret mereka dari smartphone-ku. Anakku pun ikut antusias melihat teman barunya bermain. Sayangnya, dia tidak bisa ikut mencicipi karena usianya masih 2,5 tahun. Setelah dua kali putaran, anak-anak nyengir dan bercerita bahwa mereka ngeri sekaligus senang naik wahana ini. Alhamdulillah.

“Terima kasih atas kesediaan Mbak Dhit dan suami ya, anak-anak senang sekali bisa main ke sini. Mereka baru pernah menyambangi supermarket sebesar ini.”

Begitulah yang aku dengar berulang-ulang dari Pak Habibi. Padahal aku dan suami serta anak sudah biasa main ke sana. Mungkin sebulan sekali atau dua kali, hanya cuci mata atau sekedar membeli mainan untuk anak. Tapi ternyata kegembiraan kecil bagiku, beda bagi mereka yang baru ke sana pertama kalinya. Ada rasa aneh yang tertinggal di hati selepas kami pamit dari pondok. Kami mengantarkan anak-anak dan Pak Habibi setelah makan siang yang juga didapat dari donasi. Setelah kegembiraan tersebut, aku pulang dengan hati yang riang.

***

Keesokan harinya, aku terkejut karena gas untuk memasak habis. Bagaimana kami bisa sarapan? Kalau uang kebutuhan kami pakai untuk membeli gas, tak akan cukup. Sempat sejenak aku menyayangkan hari kemarin telah memakai uang untuk beli bensin. Astaghfirullah. Kok malah aku mikir begini ya?

Cepat-cepat kutepis perasaan negatifku itu. Lalu, aku mencopot selang gas dan memeriksa kompor. Beneran habis, nih. Suami kupanggil dan sekalian meminta tolong dirinya untuk membelikan gas. Ternyata, semua toko kehabisan stok gas. Suami yang sudah menanyai setiap toko yang ditemuinya, pulang dengan gas kosong.

Apalagi ini? Uang makan sisa untuk beli bahan makanan. Eh, ini malah gas habis. Terpaksa, kami harus membeli makanan dari luar. Duh! Kami membeli makanan yang murah sambil menghitung lagi uang yang dimiliki untuk besok.

Menurut perhitungan, ya uangnya enggak cukup. Aku galau. Entah kenapa aku malah membersihkan kompor gas yang sudah kupakai 9 tahun lamanya. Sudah banyak noda minyak di permukaan kompor. Bagian knop pemutar api pun sudah mulai keras. Aku lalu berpikir untuk membeli saja yang baru. Ya, walaupun kami belum ada uang, aku memulai saja pencarian kompor gas dua tungku dengan harga yang murah di salah satu aplikasi daring. Daripada stres, window shopping aja. Kan bisa dimasukkan keranjang dulu, pikirku.

Wah, ini murah banget. Sebuah kompor gas dua tungku yang persis seperti milik adik kandungku dijual dengan harga diskon. Aku mengucap salawat dan berharap agar bisa memiliki kompor gas itu. Teringat pesan Ust. Yusuf Mansyur dulu, saat ia ingin sesuatu, salawatlah, berikan doa terbaik untuk Rasulullah. Aku pun berdoa, semoga kompor gas ini menjadi jalanku melayani anak dan suami.

Aku pun tak sadar telah memencet tombol pesan barang dan sudah terkonfirmasi pula untuk membayar barang tersebut saat pengiriman. Aku yang baru pernah memakai aplikasi belanja daring itu baru mengetahuinya 2 hari setelah tanggal konfirmasi.

***

Seperti biasa, siang hari setelah selesai mengurus tetek bengek pekerjaan rumah, aku kembali menatap layar laptop. Dengan bermodalkan internet dari thetering smartphone, aku yang bekerja menjadi editor freelance memulai untuk menyunting artikel. Artikel-artikel yang sudah disunting tersebut, nantinya akan di-publish di laman media sesuai jadwal tayangku.

Sembari membuka laman media, aku mengecek surel. Siapa tahu ada kiriman permintaan suntingan juga dari temanku. Astaghfirullah, aku menemukan surat surel yang sangat mengejutkan.

Dari: **.ID

Terima kasih telah mengonfirmasi pesanan barang berupa kompor gas merek S dengan total harga Rp229.000,00. Anda bisa membayar saat kurir datang.

Aku panik. Kulihat tanggal pemesanan, dan itu adalah 2 hari yang lalu. Ah, aku ingat, saat itu aku mencari kompor. Ternyata, tanpa sengaja aku mengonfirmasi pembelian. Aku memang baru pernah memakai aplikasi belanja daring ini. Kukira aku hanya menyimpan data pembelian dan sewaktu-waktu bisa kukonfirmasi saat ada uang. Ya Allah, bagaimana ini, kami belum punya uang. Harga kompor tersebut memang akan menjadi murah saat kami merencanakannya, tapi ini di luar kehendak kami. Uang sebanyak itu tak bisa sekonyong-konyong disisihkan begitu saja. Kami harus menunggu gajian suami beberapa minggu lagi. Itu artinya saat kompor gas datang, kami belum bisa membayar. Tombol cancel pun tak ada untuk proses pembatalan.

Seharian aku galau. Suami belum kuceritakan perihal ini. bagaimana nanti reaksi suami ya? Duh, kok aku bisa nggak sadar sudah klik tombol konfirmasi ya? Nanti kalau barangnya datang, aku bayar pakai apa? Banyak sudah pertanyaanku yang kutujukan kepada diriku sendiri. Menyesali kelalaianku, mencoba berpikir akan jalan keluarnya nanti.

***

Malamnya suami pulang dari kantor. Aku sudah mantap bercerita. Aku mengumpulkan keberanian setelah aku mengadu pada-Nya.

Aku menyiapkan makanan yang kubeli di warung makan dekat rumah. Aku persilakan suami untuk makan dahulu, mengenyangkan perutnya agar dia bisa berpikir jernih.

“Ay, aku mau cerita. Tapi kamu jangan marah ya?”

Aku mulai meminta waktunya setelah dia selesai makan.

“Eh, ada apa? Kok minta aku nggak marah?”

Suami kaget dengan permintaanku. Aku pun mulai bercerita perihal kompor gas yang tiba-tiba sudah dalam perjalanan. Suami sibuk mendengarkan. Aku pun menunjukkan laman aplikasi akunku yang menandakan bahwa pesanan sudah berada di gudang. Kemungkinan besok atau lusa, barang akan datang.

“Ya sudah Ay, mungkin itu rezeki kita. Pengganti sedihmu yang kemarin.”

Suami menghiburku dengan senyum jahilnya. Aku terkejut, dia kok nggak marah malah meledek? Apa dia punya uang untuk membayar?

“Kamu ada uangnya apa, Ay?”

Aku yang penasaran langsung menembaknya dengan pertanyaan. Suami malah menjahiliku dengan mimik muka serius. Tak ada jawaban di sana.

Duh, apa lagi ini?

“Sudah, berdoa saja yang banyak. Aku saja yang mikir uang kompor gas itu.”

Hanya itu pesan suami. Aku yang penasaran hanya bisa memanyunkan bibir. Sambil meminta maaf atas kelalaianku.

***

Hari ini aku harap-harap cemas. Setelah percakapanku semalam dengan suami, aku tambah khawatir. Bagaimana tidak, nanti kalau barang pesananku datang, aku harus bilang apa sama kurirnya? Aku yang cemas mulai berpikiran yang tidak-tidak, pikiranku mengembara ke mana-mana. Lagi, suami tak memberikanku kepastian bagaimana tentang kompor gas itu. Aku yang sudah pasrah, akhirnya berpikir untuk meminjam dahulu uangnya kepada ibu atau tanteku.

Baru saja aku mau membuka chat, chat datang dari suami.

“Gimana, barangnya datang kapan?”

“Di status masih di perjalanan, Ay. Bisa jadi nanti sore. Atau besok. Gimana, kamu ada uangnya?”

“Oya sudah, semoga besok baru datang ya. Nanti malam  kuceritakan.”

Wah, apa ini? Suami dapat bonuskah?

Malamnya, sesampainya di rumah, suami kutodong. Dia hanya tersenyum sambil memberikan amplop. Dadaku berdesir.

“Ini apa, Ay?” tanyaku menyelidik.

“Sudah buka dulu saja.”

Aku lalu membuka amplop tersebut. Ada sejumlah uang dengan 2 lembar Rp100.000, selembar Rp50.000, lalu selembar Rp20.000 dan beberapa uang Rp1.000. Kuhitung semuanya dengan total Rp278.000. Uangnya bahkan melebihi harga kompor gas yang kupesan. Ya Allah, rezeki kami juga untuk kebutuhan hidup sebelum suami gajian.

“Ini uang dari mana ay? Kamu pinjam?”

“Dari SHU. Ini kan awal tahun, semua karyawan dapat pembagian dari Koperasi.”

Alhamdulillah. Mukaku langsung sumringah. Tak ada kegalauan lagi, besok aku bisa membayar kompor gas pesanan yang salah klik itu.

***

Setelah diantar, kompor gas yang tadinya hanya iseng-iseng kulihat sudah nangkring di atas meja dapur. Meja dapurnya kecil, jadi membuat semakin sempit. Namun, aku puas. Aku bisa membayar saat barang datang dan aku mendapat hadiah setelah kekecewaanku kemarin tak lolos tes. Aku mulai mencoba kompornya dan semua berfungsi dengan baik. Aku pun masih agak merasa bahwa itu mimpi. Ada nggak ya orang lain sepertiku yang salah klik di saat tidak ada uang? Aku tertawa menyadari kelalaianku.

Malamnya, suami mengajak mengobrol tentang kompor gas itu. Lalu, di tengah obrolan kami, aku ingat sebuah doa yang dipanjatkan oleh anak-anak yatim dan pengasuhnya.

“Ya Allah, mudahkanlah urusan Mbak Dhita dan suami.”

Doa itu memang terus diucapkan berulang-ulang oleh Pak Habibi, saat kami dulu mengantarkan anak-anak pondok. Doa itu sangat mujarab ternyata. Saat aku dan suami kesusahan untuk membayar kompor gas, pertolongan yang dibayar dengan doa itulah yang menyelamatkan kami.

Maka, janganlah takut berbagi. Ya, walau aku sempat menyesali, ternyata Allah beri aku bukti.

Seperti www.dompetdhuafa.org yang datang dengan “Jangan Takut Berbagi”, aku percaya bahwa berbagi itu bukan mengurangi jatah kita. Tapi, berbagi itu menolong kita sendiri.

Tolonglah orang lain, maka Allah akan menolongmu. Ya, aku percaya itu. Kamu juga kan?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”.

Resto Wisata Joglo Pari Sewu, Menikmati Kuliner Sambil Bermain di Tepi Sungai

Kalau lagi weekend tuh, rasanya pengen refreshing bareng keluarga. Apalagi saya yang suaminya kerja dari Senin sampai Sabtu, bahkan kadang Minggu. Jadi, kalau ada kesempatan free aja sehari, suami atau saya pasti ngajakin main ke mana gitu.

Resto wisatanya seger banget yaa

Wisata Jogja menawarkan banyak pilihan. Ada pantai seperti Parangtritis atau Krakal, ada gunung seperti Merapi, ada taman bermain pendidikan seperti Taman Pintar, ada juga wahana bermain air dan lain-lain.

Biasanya, saya dan suami memilih tempat wisata yang setidaknya semuanya kejangkau. Yang paling utama tuh tempat bermain anak. Sekalian belajar di lingkungan wisata itu. Anak-anak kan perlu bereksplorasi biar banyak terstimulasi.

Selain bisa belajar, kami pun suka mencari tempat wisata yang aman dan nyaman bagi anak. Misalnya permainan di sana sesuai usia anak. Walaupun diawasi, terkadang anak-anak balita suka nyelonong hahaha. Lari ke sana kemari. Kan butuh banget tempat yang sesuai dengan mereka.

Kalau nyaman, kami memilih tempat yang ada toiletnya, musala/masjid, dan ada yang jual makan hehe. Asyik kan ya, bisa main. Abis itu capek dan laper, kami bisa langsung cus mengenyangkan perut. Apalagi anak kami yang kalau makan enggak bisa ditunda.

Pilihan wisata di Joglo Pari Sewu

Setelah lama enggak main bareng, Sabtu kemarin tanggal 13 April 2019, kami refreshing. Ada undangan ke Joglo Pari Sewu. Tempatnya di Bromonilan, Purwomartani, Kalasan, Sleman. Dari Candi Sambisari, kita bisa terus ke utara.

Kami datang pukul 8 pagi dan di sambut ramah oleh salah satu waitress. Setelah asyik berkeliling, berfoto dan lari-lari (anak saya maksudnya), kami diajak makan bersama dengan konsep yang wah! Kalau kamu mau membayangkan, suasananya kayak di pasar papringan yang ngehits itu. Iya, makannya di bawah rumpun bambu. Namanya Taman Bambu.

Monggo, mau pesan apa?

Uniknya, untuk makan kami hanya perlu bawa vocer. Jadi, saat di kasir, kita bisa menukarkan sejumlah uang dengan vocer tadi. Untuk weekdays, kita bisa menukarkan minimal Rp20.000 dengan empat vocer. Saat weekend, minimal Rp25.000 dengan vocer 5 eks. Jadi kalau dihitung, satu vocer bernilai Rp5000.

Vocer ini bisa dipakai juga untuk memasuki tempat wisata di resto ini. Ada rumah boneka dan naik floating boat kecil maupun besar.

Oya, kalau masih bingung soal pervoceran, di akhir tulisan saya tulis lengkap paket wisata dan biayanya ya.

Berapa sih vocer yang ditukar untuk setiap permainan?

Untuk rumah boneka, kita bisa menukarkan dua vocer per orang. Floating boat kecil hanya dengan tiga vocer dan ukuran besar dengan empat vocer.

Kalau untuk makanan, bagaimana menukarnya?


Nasi sayur buntil plus teri sambal. Lauknya tahu santan dan sate ati. Nyum!

Di area prasmanan, ada satu petugas khusus yang akan memandu kita saat pesan makanan. Begitu juga di area minuman. Yang kemarin saya pesan adalah nasi sayur (maksimal 2 macam sayur) seharga 2 vocer. Kalau ingin tambah lauk, bisa menukar vocer lagi. Saya pesen sate ati dan tahu jadi 1 vocer aja. Suami dan anak pesen sop cakar singkong seharga 1 vocer.


Sop cakar ayam singkong

Wedang Jahe dan Wedang Uwuh favorit!

Untuk minuman, suami pesen wedang uwuh dan saya pesen jahe. Masing-masing sama-sama bernilai 2 vocer. Kalau anak saya pesan jeruk hangat senilai 1 vocer.

Setelah kami mengenyangkan perut, wahana air menyapa untuk dinikmati. Karena anak enggak jadi bawa baju renang, plus kedalaman kolam renang alami sampai 2 meter, ya menikmati sungai yang bening dan berbatu menjadi pilihan. Duh, jadi inget masa kecil dulu ke sungai nyeser (menjaring) ikan. Hahaha.


Menyusuri sungai yang jernih.

Jangan khawatir, toiletnya deket banget kok sama sungainya. Jadi setelah selesai nyemplung, kita bisa langsung berganti pakaian.

Saat kami melewati jalan ke toilet, seorang anak sedang memanah sebuah papan sasaran. Nah, ini dia jemparingan course yang ada di Joglo Pari Sewu. Masih gratis loh kalau mau nyoba memanah.

Setelah asyik menikmati keindahan alam di dekat sungai, kami naik lagi ke dekat kasir. Di sana terdapat Rumah Boneka. Bisa membayangkan ya, apa aja isinya.

Rumahnya para boneka

Saat masuk, anak kami seneng banget memeluk banyak boneka. Apalagi ada temannya yang datang juga ke sana. Mereka main dengan gembira. Saat masuk, kita bakal disapa beraneka jenis boneka. Ada beruang, boneka donat, boneka tokoh kartun. Asyiknya, rumah ini beneran seperti rumahnya para boneka. Mereka semua punya ruang tamu, ruang makan, dapur, hihihi.

Oya, untuk masuk Rumah Boneka hanya dihargai dengan 2 vocer alias Rp10.000. Abis itu kita bisa puas mau foto ala instagram. Ya abis tempatnya emang instagramable sih.

Kenangan indah saat kecil kebanyakan didapat dari interaksi sama keluarga, terutama ayah bundanya. Nah, saat ada waktu untuk quality time, bisa banget kita cari tempat yang semuanya ada. Main, mengabadikan kenanga juga mengenyangkan.

So, resto wisata ini bisa jadi tempat rekomendasi di Jogja utara. Yang mau berknjung silakan kepoin:

  • www.jogloparisewu.com
  • IG: @jogloparisewu
  • FB: Joglo Pari Sewu
  • Twitter: @parisewu

Alamatnya di Bromonilan RT.008/RW.003, Bromonilan, Purwomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55571 .

Nih, saya kasih bonus foto-foto di sana yaa. Selamat menuliskan list tempat refreshing selanjutnya.


Nah, ambil makanan secukupnya aja ya. Jangan ada sisa.

Seneng banget ada resto yang peduli bumi kayak gini.

Area prasmanan makanan. Yuk dipilih-dipilih!

Area makan di bawah pepohonan dan dekat sungai.

Dari sini, kita bisa lihat sungai dari atas.

Paket Wisata
Untuk memudahkan dan memberikan pilihan yang menarik bagi pengunjung, Joglo Pari Sewu mempunyai banyak pilihan paket yang bisa dipilih sesuai kebutuhan pelanggan, dengan sistem pembayaran menggunakan kupon wisata yang bisa digunakan untuk pembayaran makanan, minuman dan keperluan wisata lainnya seperti masuk rumah boneka dan naik floating boat.

Nah, ini janji saya soal paket lengkapnya di Joglo Pari Sewu. Cek yuk!

Penukaran kupon bisa dilakukan di kasir atau meja yang disediakan dengan ketentuan:

  • Weekday : penukaran awal minimal Rp.20rb, mendapat 4 kupon
  • Weekend : penukaran awal minimal Rp25rb, mendapat 5 kupon

Kupon yang sudah didapat hanya berlaku untuk hari yang sama dan tidak bisa diuangkan kembali.

Paket Wisata Pagi Weekday
Paket wisata alam, berfoto di spot wisata alam sepuasnya dan sudah termasuk mendapat 4 kupon, hanya Rp.20.000/orang. Paket Wisata pagi weekday, berlaku di jam 07.00 – 09.00 WIB.

Paket Jajan Weekend

Paket wisata alam, berfoto di spot wisata alam sepuasnya dan sudah termasuk mendapat 5 kupon, hanya Rp.25.000/orang. Jika cuaca memungkinkan, menu makanan akan disajikan outdoor di Taman Bambu. Selain untuk jajan/kuliner, voucher juga dapat digunakan untuk masuk ke rumah boneka dan naik floating boat. Paket jajan Weekday berlaku di jam 07.00 – 10.00 WIB

Paket Wisata Air dan Rumah Boneka
Paket wisata berenang, naik floating boat dan masuk rumah boneka, hanya Rp20rb/orang atau 4 kupon, sangat ekonomis jika dibandingkan beli per tiket yang dikenakan harga normal yaitu:

  • Naik floating boat kecil : 3 kupon/orang/10 menit
  • Naik floating boat besar : 5 kupon/orang/10 menit
  • Masuk rumah boneka : 2 kupon/orang.

Paket Wisata Air dan Rumah Boneka berlaku di sepanjang hari dan jam operasional, 07.00 – 18.00, khusus untuk berenang dan floating boat, hanya sampai jam 16.00.

Berangkat Kajian bareng Anak, Mengapa Tidak?

Dulu, aku sempet bingung kalau mau ajak anak ikut kajian. Di satu sisi, aku pengennya serius ndengerin. Takut kalau anak malah jadi bikin buyar konsentrasinya gitu. Hehe. Lagian, setelah sekian purnama enggak pernah berangkat kajian, rasanya pengen ngerasain sendirian menerima pencerahan.

Tapi ternyata, setelah dipikir-pikir, itu cuma alasanku doang sih biar mundurin terus aksi buat ngaji lagi. Terlalu lama nyaman di rumah, apalagi jarang ke masjid, emang bikin diri itu mualeeees minta ampun kalau ada kajian agama. Ya Rabb, kudu bener-bener dipaksaaa.

Akhirnya, aku cobalah nyari temen yang mau ngancani kajian. Sambil nyari-nyari acara kajian gitu yang setidaknya deket dari rumah, bisa bawa anak, jamnya pas dan juga pas temanya. Hampir berbulan-bulan, aku ngepoin salah satu akun instagram. Berhubung aku di Jogja, aku ikutin tuh @infokajianjogjakarta yang selalu update kalau ada kajian-kajian di sekitaran sini. Bisa follow ya di sini.

Nah, kemarin sore aku ngajakin salah satu temanku (yang udah kenal dekat), untuk ikutan kajian tema Menjadi Kekasih Alquran di Masjid Darunnajah UAD 3. Kalau untuk isi kajian, belum aku share di sini ya. Cuma mau cerita aja, apakah worth it bawa anak di masjid pas kajian?

Balik dulu ke anaknya ya. Anak saya yang balita (usia 3 tahun 10 bulan), fitrahnya dalam mendatangi masjid itu bisa diacungi jempol. Kalau menelisik dari keseharian, aku dan suami biasanya solat di rumah. Nah, pernah suatu ketika, kami mendapat kontrakan yang deket banget sama masjid.

Setelah itu, kami jadi lebih deket kalau mau ke masjid. Kayaknya emang faktor nyari kontrakan itu yang pertama adalah tanyakan apakah rumahnya deket masjid apa enggak. Lebih ke kebiasaan sih, kalau deket, rasa malasnya bisa mulai dipaksa rajin karena alasan jauh enggak ada lagi.

Nah, setelahnya, anak ini kok jadi selalu meminta kami ke masjid tiap azan. Fitrah solatnya anak itu emang belum tercederai ya, menyembah kepada-Nya. Jadilah, sampai hari ini, aku mencoba untuk menyiapkan anak saat akan ke masjid. Misal solat zuhur, solat Jumat dan solat Magrib.

Balik lagi ke kajian, karena anaknya udah biasa ke masjid, dia jadi udah tau adab-adabnya. Misal enggak boleh berisik dan mengganggu. Jadi saat ustaz menyampaikan ilmu, dia asyika aja. Apalagi ada snack sih, hahaha.

Sampai akhir acara, anaknya okay aja sampai solat Magrib sekalian di sana. Alhamdulillah, ini awal yang baik buat kami hijrah bareng-bareng. Doain ya, kami bisa istikamah. Oya, aku mau kasih tips nih buat orangtua yang mau ajakin anaknya kajian, apalagi yang baru pertama kali. Cek di bawah ini ya.

  1. Cek toilet training anak apakah sudah lulus. Biasanya anak sudah bisa bilang kalau dia mau pipis atau pup dan sudah tidak ngompol.
  2. Cek apakah anak lagi fresh. Cukupi makan, minum dan tidurnya. Kalau bisa bawa bekal makan dan minum. Cukupkan jam tidurnya, bisa persiapkan dia tidur dulu sebelum kajian atau pilih kajian yang jamnya tepat untuk anak, misalnya pagi atau sore.
  3. Cek bawaan jika mengendarai sepeda motor. Karena aku pakai motor, jadi kasih tipsnya pada kondisi anak saat di jalan. Pas kemarin, aku bawa jarik yang bisa ngiket anak kalau dia ngantuk. Apalagi jalannya cuma berdua, suami belum bisa nemenin.

Sekian pengalaman kami, semoga bermanfaat ya. Kalau ibu atau ayah sekalian, punya tambahan tips enggak? Atau ada yang punya kumpulan ibu-ibu ngaji bawa anak? Boleh loh aku diajakin.

Wujudkan Anak Unggul Indonesia dengan Modul IYA BOLEH Dancow

Pernah enggak sih terpikir karena rasa protektif kita sebagai orangtua, lalu kita lebih suka ngelarang hal-hal yang anak minta untuk bermain? Misalnya nih, anak lagi suka nggali tanah, lalu dia pakai tangannya sampai warnanya hitam-hitam? Hihihi. Boleh enggak?

Ada orangtua yang jawab Boleh. Ada juga yang enggak ngebolehin. Bisa dipastikan, semua orangtua sayang anaknya. Semua orangtua pasti punya alasannya masing-masing sesuai tujuan pengasuhan keluarga.

Kali ini, kita bahas tentang orangtua yang bolehin aja ya. karena membolehkan itu udah good, but ada hal lain yang perlu disiapkan untuk menuju good ini.

Jadi, selamat dulu nih bagi orangtua yang sudah mau memndukung kebebasan anak bereksplorasi. Dari jawaban IYA BOLEH, kita sudah membuat anak mengembangkan kecerdasan. Tapi, apa iya kita cuma kasih jawaban saja tanpa ada persiapan?

Sebelum kembali ke persiapan, kita ngomongin tentang masa depan suatu bangsa yuk. Dari sumber modul sejuta iya boleh, hal ini ditentukan dari seberapa unggulnya kualitas generasi penerus, termasuk populasi anak.

Apa itu sih Modul Sejuta Iya Boleh? Nanti kita bahas di paragraf terakhir yaa.

Sumber: Modul Iya Boleh

Persiapan anak bebas bereksplorasi dimulai dari tiga pilar utama, yaitu:

Stimulasi

Untuk hal ini, stimulasi anak sesuai usianya. Tiap usia akan berbeda-beda masa tumbangnya (tumbuh kembang).

Dala hal kesehatan fisik, awasi tinggi anak saat usianya 1 tahun. Di sini, anak-anak akan mengalami fase tinggi badannya 1/2 dari masa dewasanya. Pada saat usia ini pun, otaknya mulai berkembang. Dia akan mencapai 80% saat anak 2 tahhun dan terus meningkat pada saat usia 5 tahun sebesar 10%.

Kita dapat mendukung eksplorasinya dengan stimulasi sebagai berikut:

Masa 1 Tahun: ajari anak bermain balok susun, mendengar dan menjawab pertanyaan anak.

Masa 3 Tahun ke atas: ajari anak mencuci tangan dan kaki, ajari anak huruf alfabet, dan ajari anak berlari dan bermain bola.

Usia 5 tahun ke atas: ajari anak bermain sepeda, bantu anak menuliskan namanya, dorong anak membantu pekerjaan rumah.

Cinta


Cinta paling utama adalah dari orangtuanya. Bonding kita dengan anak sangat mempeengaruhi. Biarkan anak belajar lebih banyak. Alih-alih melarang dia bermain tanah, mending kita siapkan secara aman. Jika usianya sudah melepas fase oral (ditandai dengan tidak memasukkan sesuatu ke mulutnya), orangtua bisa ikut menemani anak saat dia bermain. Malah, dukungan orantua yang seperti ini yang dibutuhkan.

Setelah anak sudah terbiasa mencoba, skillnya terasah. Baik skill motorik halus dan motorik kasar meingkat. Anak semakin cerdas karena bebas bereksplor.

Di saat skill motorik meningkat, anak akan fight. Kepercayaan dirinya akan ikut meningkat. Apa yang dia bisa lakukan, akan dia lakukan tanpa disertai kekhawatiran orangtua. Pernah enggak merasa anak ‘kesetrum’? Orangtua badmood, anak ikut rewel. Nah, ini akan terjadi sebaliknya dalam hal positif.

Nutrisi

Tantangan kita saat ini adalah penyakit yang mengancam anak. Dari penelitian, sebanyak 41,9% anak usia 1-4 tahun menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas). Selain ISPA, diare mengancam anak rentang usia ini sebanyak 12,2%. Sebagaimana yang kita tahu, kejadian infeksi yang berulang akan menghambat tumbuh kembang mereka.

Maka, nutrisi yang seimbang merupakan kunci untuk membersamai anak menjadi Anak Unggul Indonesia. Misalnya, probiotik sebagai nutrisi perlindungan bisa didapat dari lactobacillus rhamnosus akan membantu lindungi saluran pernapasan, daya tahan tubuh dan juga saluran cerna.

Untuk memberi makanan bakteri probiotik tadi, inulin berperan besar sabagi prebiotik. Dengan adanya kedua hal tadi, risiko ISPA turun 37%, daya tahan tubuh mrningkat dan risiko diare turun sampai 63%.

Nah, semua manfaat ini bisa kita dapatkan di Netsle Dancow Advanced Excelnutri 1+, 3+ dan 5+. Baru-baru ini, 1 juta orangtua telah menyetujui untuk katakan IYA BOLEH. Dancow pun merespon bangga dengan meluncurkan Modul “Iya Boleh untuk Anak Unggul Indonesia”. Kita bisa mengakses secara online di sini.

Halaman dancow.co.id/dpc
BIsa login dulu, lalu aktivasi by email.

Selain modul, kita bisa mengecek sejauh mana pertumbuhan dan perkembangan anak, stimulasi yang kita bisa lakukan sesuai usianya apa aja, bagaimana kita mencintai anak kita pun dibahas di sana.

Tanggal 8 April 2019 kemarin, saya diundang untuk ikut membagikan informasi ini kepada semua orangtua. Acara dimeriahkan oleh berbagai adik-adik dengan tariannya. Selain itu, ada acara talkshow membahas tentang modul ini.

Asyiknya, dalam laman dancow.co.id, ada kuesioner yang bisa kita isi sesuai apa yang sudah dilakukan anak. Nah, ini hasil dari observasi Akhtar (3 tahun 10 bulan).

Alhamdulillah.

Ayah Bunda juga mau ikutan? Cus langsung ke www.dancow.co.id. Temnukan panduan kita sebagai orangtua, biarkan anak bereksplorasi dengan aman, dan terus pantau tumbuh kembangnya. Jadilah anak unggul Indonesia ya, Nak!