Tips Membersamai Anak Aktif agar Sehat saat Rekreasi

Halo, Bunda, Halo, Ayah!

Selama ini merasa enggak sih kalau anak-anak kita—apalagi yang usianya balita—sangat aktif. Bentar-bentar lari, ngomong terus, ketawa terbahak-bahak, dlsb.

Tadinya duduk di sebelah pojok mainin mainan A, eh, beberapa saat lagi udah pindah tempat sambil maninan yang lain. Kalau kata teman-teman saya, anak balita tuh selalu full charge. Enggak pernah kehabisan energi. Kecuali kalau dia ngantuk. Sama enggak, ya?

Alhasil, kita para Bunda yang kewalahan. Yang sudah jadi ibu bekerja, lalu di rumah anak masih saja full melakukan banyak aktivitas. Ibu rumah tangga yang menyelesaikan kerjaan, plus kudu nemenin anak setiap waktu. Capek?

Semakin besar, saya merasa semakin pusing dengan keaktifan anak saya yang berusia 3,5 tahun. Pernah sekali waktu, saya akhirnya memilih diam melihat rumah yang super berantakan. Tadinya, saya lebih memilihi selalu membereskan apa yang anak mainkan. Agar selalu rapi rumahnya.

Ternyata, ekspektasi itu terlalu tinggi, Bun! Rumah tak akan rajin sebelum anak-anak beranjak besar, kata ibu saya saat saya bilang rumahku kayak kapal pecah. Ah, lalu kapan saya bisa nyantai melihat rumah rapi dan membaca buku dengan tenang?

Tapi, lama-lama saya jadi tahu alur kegiatan anak setelah membaca artikel dari dr. Grace Judio-Kahl M.Sc M.H, seorang pemerhati gaya hidup dalam republika.

Anak yang bergerak aktif itu baik untuk kesehatan fisik juga jiwanya.

Wah, ternyata Allah sudah menciptakan sedemikian rupa manusia sesuai usianya agar bisa bertumbuh dengan baik. Anak-anak akan otomatis selalu bergerak aktif ya karena mereka butuh stimulasi tersebut.

Dulu saya sering dengar sih kalau anak-anak tetangga saya selalu dipenging (dilarang) jangan lari-lari nanti jatuh. Duduk diem aja, manut (penurut) dan lain-lain. Stereotipe dari lingkungan sekeliling saya membawa pikiran saya jadi lelah saat anak bergerak. Untungnya sih, saya tidak sampai melarang. Hanya rasa sebel gitu dalam hati.

Lalu, saya sering menemukan fakta jika anak saya diajak jalan keluar reaksinya excited. Walaupun hal remeh seperti menemani saya beli sayur di warung, lihat air di sungai, lihat sapi di kandang tetangga, dll. Dari situlah, saya mulai membuat jadwal berpergian dengan anak tiap hari. Berdua ya, kalau bersama suami saat beliau sedang libur saja.

Kenapa sih setiap hari? Begini, saat saya menemukan fakta anak excited pergi jalan, saya lihat jam tidurnya lebih cepat dan tidurnya lebih nyenyak. Mungkin karena energi besar di dalam tubuhnya dimaksimalkan keluar semua.

Oya, kata Grace, anak berbeda dengan orang dewasa. Kaki anak itu jika diregangkan akan lebih pendek jaraknya daripada kita, orangtuanya. Maka, saat kita berjalan, kita melihat seperti anak lebih banyak bergerak atau bahkan berlari. Ini karena anak mengimbangi langkah kita saat berjalan.

Belum lagi, kita orang dewasa belajar dari mengamati, banyak membaca, browsing, dll. Nah, anak kita dalam masa krusial golden age, banyak belajar dari lingkungannnya. Dia harus aktif bergerak dengan semua panca inderanya. Lalu, dengan bergerak, berarti anak sedang mengolah raganya. Yaps, berolahraga.

Dari semua fakta tersebut, saya akhirnya membuat jadwal rutin untuk nge-date saat hari libur ayahnya. Kita semua keluar di hari Minggu. Entah hanya ke alun-alun kidul Yogyakarta, lihat bus di terminal, ke Taman Pintar, dll.

Maka, sebelumnya saya selalu memberikan briefing sebelum berangkat. H-1 adalah hari di mana saya bilang bahwa besok kami mau ke mana dan jam berapa. Saya akan menyiapkan keperluan kami sekeluarga. Paling penting adalah kebutuhan dasar, makan-minum, baju ganti dan keperluan ibadah.

Nah, sebelum berangkat biasanya pagi saat anak bangun. Saya akan menyambutnya dengan salam lalu mengabarkan bahwa hari ini hari jalan-jalan kita. Lalu, saya akan membantu anak mandi. Menyiapkan kebutuhan dasar dan memastikan lagi semua urusan di luar lancar dengan berdoa sebelum melakukan kegiatan.

Nah, kami sekeluarga menyebut jalan-jalan kami dengan kata rekreasi. Kenapa rekreasi? Rekreasi menurut Wikipedia berasal dari bahasa Latin re-creare. Kata ini mengandung arti secara harfiah ‘membuat ulang’. Jika dijabarkan, rekreasi itu bermakna penyegaran kembali kegiatan jasmani dan rohani seseorang. Nah, ini pas banget sama misi kami sekeluarga, juga kegiatan anak.

Untuk menyegarkan diri, kami tak luput dari kata kesenangan saja. Saya dan suami memberikan rasa aman dan nyaman di sana. Pun edukasi juga kami hadirkan. Maka, inilah tips membersamai anak aktif agar sehat ala kami saat rekreasi. Karena kami keluarga Adhiyaksa, boleh lah ya saya tulis ala Adhiyaksa. Hihihi.

Bermainlah Layaknya Kita Teman Anak

Ini tips pertama kami. Dulu, saya membiarkan anak kami bermain di semua wahana yang ada. Namun, karena anak kami sendirian, dia merasa perlu seseorang yang bisa bermain dengannya.

Maka, saya atau ayahnya akhirnya terjun bermain dengannya. Walau terkadang, anak akhirnya bertemu teman sebayanya dan bisa main bareng, tips ini tetap kami pakai sewaktu-waktu saat dibutuhkan.

Biarkan Anak Mencoba Sesuatu yang Baru dan Amati

Ada kalanya, anak mengeksplorasi lingkungan rekreasi dengan aktif dan inginnya sendiri. Tak apa. Kita sebagai orang bisa ‘melepas’ anak dengan mengamati dari jauh.

Lihat dulu wahana bermain anaknya, jika aman, kita bisa duduk di dekatnya sambil mengawasi.

Biarkan Anak Bereksplorasi dan Bimbing Temani Saat Dia Belum Mampu

Nah, ada kalanya juga anak enggak mau sendirian. Maunya ditemani di sisinya. Tak apa juga, anak kan masih beradaptasi. Semakin sering latihan, anak akan menyimpan memori cara bermain di sana.

Selain itu, anak akan merasa aman dan nyaman saat orangtua memberikan kepercayaan penuh saat berada di sisinya. Jika mau mengembangkan kepercayaan diri anak agar berani bermain sendiri, lakukan perlahan.

Jelaskan tentang permainan yang Dia Mainkan dengan Sederhana

Sering saya menemui anak bermain tapi bingung bagaimana caranya. Nah, di sini kita bia terjun menjadi pembimbing. Jelaskan sesuai bahasa yang mudah anak tangkap.

Misalnya saat saya bermain katrol dengan anak. saya coba dahulu caranya dengan menarik talinya. Lalu, saya ajak anak menghitung jumlah katrol sambil menunjuk katrolnya.

Bermain Peran saat Membersamai

Biasanya, anak suka imajinasi. Anak usia balita mengembangkan imajinasinya dengan cara bermain peran. Anak saya suka sekali dengan hal ini, apalagi jika saya atau ayahnya ikut berperan di dalamnya.

Misalnya ada bus besar yang bisa dinaiki, kami naiki bersama. Kami menyetop bis lalu menaiki dan duduk di sana. Saya mencoba menunjuk pemandangan dan bilang ke anak di sana ada apa? Nanti anak akan merespon sesuai kesukaannya. Di sana ada pohon, Nda. Misalnya.

Siapkan kebutuhan dasar anak. Siapkan makan dan minuman yang praktis dan sehat.

Nah, ini adalah hal yang tak kalah penting. Saat anak bermain, semua energi kimia di dalam tubuhnya akan dibakar menjadi energi gerak. Lama-lama, anak akan capek dan memerlukan asupan nutrisi.

Saya biasanya menyediakan camilan dan minuman bernutrisi. Karena dulu di keluarga saya saat MPASI lebih berprinsip untuk berikan gulgar (gula dan garam) seminimal mungkin, saya mencari susu UHT full cream tanpa gula garam. Alhamdulillah, saya menemukannya. Salah satunya adalah susu UHT #IndomilkUHTKidsFullCream.

Senyum manisnya mau minum susu UHT Indomilk Kids Full Cream 🙂

Selain, tanpa gula dan garam, susu ini cocok untuk anak di atas 1 tahun, loh. Alhamdulillah juga, anak saya cocok dengan laktosanya.

Jadi, biasanya saya akan menyediakan camilan sehat sekali hap di snack time. Ini saya berikan 2 jam sebelum jam makan. Tadinya, saat saya memberikan susu yang berisi gula garam, anak sering menolak makan siang. Mungkin selain air sudah memenuhi perut, gulanya juga memberikan rasa kenyang.

Asupan Bernutrisi untuk Anak #AktifituSehat didapat dari susu UHT ini. Kandungan kalsiumnya juga tinggi, pas sekali kan untuk anak yang terus bergerak aktif. Tiap kami rekreasi, camilan dan susu UHT ini menjadi ‘teman’ bagi anak saya.

Karena berkemasan, kami yang sedang minim sampah selalu membawa pulang kemasan mini susu UHT ini. Jadi, enggak kami buang di temoat sampah saat rekreasi. Kemasannya akan kami daur ulang menjadi tempat aksesoris. Nantinya, saya akan bikin tutorial DIY dari kemasan mini susu UHT Indomilk Kids Full Cream ini di akun youtube

Nah, karena saya ingin berbagi juga kepada para blogger yang memiliki anak berusia 2 sampai 5 tahun, saya ingin ajak kalian untuk mengikuti lomba blog competition dengan review Indomilk UHT Kids Full Cream, nih.

Silakan ya kepoin di sini untuk syarat dan tata caranya. Semoga kalian menjadi salah satu yang beruntung.

Pakai Interlac, Probiotik Bebas Laktosa untuk Kesehatan Saluran Cerna Anak

Baru empat hari usia anakku saat itu. Jemarinya yang mungil masih menggenggam. Mata keciilnya menatap dengan samar. Namun, anehnya perutnya semakin membesar.

“Anak Ibu belum BAB sampai hari ketiga ini. Kami pantau lagi ya, Bu, semoga esok sudah bisa BAB.”
Aku tertohok. Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya selalu gumoh setelah menyusu. Semua ASI yang masuk lewat kerongkongannya, kembali menuju mulut. Pun ditambah permasalahan belum BAB ini.

Ya Rabb.

Keesokan harinya, si bayi mungil itu dirawat inap di NICU PICU. Selama satu minggu. Setelah aku runut pengalaman ini, aku mulai paham bahwa bayi mengalami hal ini karen kekurangan probiotik.

Probiotik dan Interlac

Senada dengan pernyataan dr. Intan Dewi, probiotik adalah bakteri baik yang dapat hidup di saluran cerna dan memegang peranan penting dalam kesehatan dan pencegahan penyakit pada manusia.

Alhamdulillah, saya bisa berkesempatan mengikuti talkshow bertajuk Tips Menjaga Kesehatan Saluran Cerna Anak oleh Interlac di hari Ibu. Qodarullah. Di sana, saya benar-benar tercerahkan.

Dalam penelitian, ditemukan bahwa bayi yang lahir melalui operasi caesarian cenderung minim terpapar probiotik alami. Probiotik alami ini dihasilkan paling banyak dari lubang vagina ibu. Jalan lahir janin untuk keluar menemui dunia! MasyaAllah. Allah menciptakan segala sesuatunya sempurna.

Kalau kita kekurangan bakteri baik di vili-vili usus, makanan yang diserap akan cenderung susah diserap dan diproses menjadi sisa makanan atau feses (BAB).

Maka, selain serat khusus, bakteri baik sangan berperan dalam kesehatan sistem pencernaan.
Sebenarnya, manusia normal memiliki bakteri baik loh di dalam ususnya.

Nah, Interlac sendiri adalah nama produk bakteri baik ini. Probiotik yang digadang-gadang dengan kemampuan super yang teruji klinis. Bahkan, Interlac adalah satu-satunya produk probiotik di Indonesia yang mengandung Lactobacillus reuteri Protectis.

Manfaat Interlac

Interlac punya versi untuk bayi baru lahir loh. Namanya Interlac Drops. Ini nih manfaat Interlac drop:

  1. Mencegah dermatitis atopic
  2. Membantu mencegah infeksi (demam, influenza, diare)
  3. Menaikkan imunitas bayi terhadap alergi.

FYI, Diare, Gumoh, Konstipasi dan Kolik pada Bayi, bisa kita ikhtiar memakai Interlac ini.

Untuk Interlac secara umum, banyak banget manfaatnya. Pertama, membantu memelihara kesehatan saluran cerna, terbukti efektif mengatasi diare dan sembelit juga efek samping dari antibiotik.

Apa Saja Varian Produk Interlac?

Interlac Drops

By: Dhita Erdittya

Untuk varian ini, aturan pakai 1×5 tetes per hari. Jadi, anak diminumkan 5 tetes sekali saja dalam sehari.

Untuk penyimpanan di suhu ruang sebelum tutupnya dibuka. Kalau sudah dibuka, disarankan simpan dalam kulkas.

Kocok dulu ya sebelum diminumkan, lalu tuang ke sendok makan. Rasanya netral (plain), kok. Satu botolnya berisi 125 tetes dan bisa digunakan untuk 25 hari.

Interlac Sachet

Varian sachet ini, aturan pakainya 1 sachet per hari. Boleh dilarutkan dengan sedikit air. Diusahakan habis agar tak ada yang terbuang. Netral, kok, rasanya.

Untuk penyimpanan disarankan simpan dalam kulkas.

Interlac Tablet Kunyah Strawberry dan Lemon

Kalau yang ini, bisa dikonsumsi pada anak yang sudah pandai menangani makanan padat. Anak saya suka banget varian ini. Rasanya seperti permen strawberry.

Ada juga varian lain untuk tablet, rasa lemon. Dikunyah aja kok cara minumnya. Penyimpanan di dalam kulkas ya.

Ngepoin dan Beli Interlac di Mana?

Duh, anakku sembelit nih. Dikasih probiotik apa ya yang tak ada efek samping?

Interlac dong. Iya, hasil penelitian menyatakan Interlac aman. Bahkan untuk bayi baru lahir. Interlac tidak mengandung laktosa, cocok untuk anak yang alergi susu sapi.

Nah, kalau mau kepoin tentang Interlac, mereka punya sumber informasi lengkap di sini:

Website : www.interlac-probiotics.com
Instagram : @interlacprobiotics
Facebook : interlacprobiotics

Jadi, mau beli nih? Saya bisikin ya tempatnya, Bun. Interlac dapat dibeli secara offline di Guardian, Viva Health, baby shops dan secara online di Mothercare.co.id, JD.ID dan Orami.

Akhtar dan Sahabatnya, Interlac Tablet

Anakku menamainya permen bakteri. Interlac tablet setelah talkshow saya tawarkan ke anak. saya sounding kalau di dalam perut butuh bakteri baik agar perutnya sehat. Jika perut sehat, maka Akhtar bisa BAB sendiri.

Maka, setiap pagi, dia mengambil sendiri permen bakterinya. Lalu dia akan izin membuka kemasannya. Tablet yang rasanya strawberry ini emang berasa kayak permen. Jadi, anak-anak yang sudah dalam usia 3 tahun seperti Akhtar, pasti suka.

Alhamdulillah, setelah mengonsumsi Interlac, saya juga memberi treatment sesuai petunjuk dr. Intan dengan memberinya minum 1 L air/hari, rutin mengajak ke toilet dan jongkok sampai dia berasa ingin BAB di jam yang sama.

Eh, selain ikhtiar dengan Interlac, saya juga memberikan makanan serat seperti sayur dan buah. Tak hanya memberikan probiotik saja, kita sebagai orang tua juga bisa berikhtiar maksimal dengan membiasakan pola hidup sehat secara rutin.

Sumber: Talkshow