Cara Membuat Bumbu Dasar Putih Praktis

Dipublikasikan oleh dhita pada

Kegiatan (Merenung) Berfaedah ala Adhiyaksa’s

Anak Kupas Bawang Merah

Adek bantuin kupas bawang merah.

“Dek, mau bantuin Bunda kupasin bawang putih ini?” Saya menawarkan kegiatan kepada bocah 3 tahun yang lagi asyik lari-lari.

Si bocah terdiam sebentar lalu teriak, “Mau!”

Yay, jadi Senin kami adalah hari membuat bumbu dasar. Kenapa sih malah bikin bumbu pas awal minggu, bukannya pas akhir minggu biar Seninnya bisa langsung masak? Baiklah, saya izin mengungkapkan sesuatu pada kalian.

Sabtu, 17 November 2018 pukul 9:24 WIB. Bocahku terbaring di kasur. Badannya serupa panci yang baru saja selesai menjerang air. Saya galau. Duh, demam ya Allah. Cepat-cepat saya cari termometer merah di laci lemari. Setelah beberapa menit menunggu, angka 39 koma membuat saya syok.

“Aku kudu kepriwe?”

Jujur, saya lupa merawat anak demam dengan teknik apa saja. Saya hanya ingat paracetamol, memberi cairan yang banyak plus berendam air hangat. Tapi, teknik itupun samar-samar saat saya merecall lagi ingatan saya.

Seharian anak saya demam. Enggak langsung saya bawa periksa sih. Menurut IDAI, anak di atas 36 bulan ditunggu sampai 3 hari perkembangannya. Jika masih demam, bisa langsung di bawa ke dokter. Namun, jika suhunya sudah 40 atau lebih, sebaiknya langsung diperiksa. Nah, saya rawat dulu di rumah nih. Qodarullah, esok paginya anak saya kembali dalam suhu normal.

Nah, karena dalam hasilnya semua anak akan berbeda ya, jadi kisah saya tidak bisa jadi pegangan. Yang mau saya bagi di sini adalah alasan anak bisa demam. Sebenarnya sih, cuma Allah yang tahu kebenarannya. Tapi, saya sebagai ibunya jadi banyak merenung. Muhasabah diri. Ikhtiar apa yang belum saya jalankan ya selama ini? Bisa jadi kan, sakit anak saya itu teguran bagi saya dan suami.

Di dalam perenungan, qodarullah uang yang tersisa tinggal beberapa. Kalau dihitung secara hitungan manusia, hanya bisa dipakai untuk satu hari makan. Hayoloh, anak baru sembuh eh dapat ujian lagi. uang yang saya rencanakan untuk hidup bulan ini sudah saya pakai untuk membeli makanan kesukaan anak pas sakit. Kalau kata teman saya, memuliakan anak sama dengan memuliakan Pencipta-Nya. Jadi, bagaimana saya merencanakan uang yang hanya bisa sehari jadi seminggu? Tunggu ya, saya belum ketik. Hahaha. Ngetik cara membuat bumbu dasar dulu, biar yang tanya-tanya tinggal baca saja di sini.

Yuk Siapkan Diri Bebikin Bumbu

Bumbu dasar putih ini saya buat karena saya ingin lebih praktis dalam memasak. Kalau yang saya tahu dari cerita mamak lain, bumbu ini ajaib. Bisa jadi bumbu dasar sebagian masakan Indonesia. Duh, sampai sini saya udah enggak tahan lagi buat berbagi. Nah, kalian tau kan, memasak itu lumayan bikin ngos-ngosan dalam meracik bumbu? Jadi, selain menghemat tenaga, saya juga ingin memasak praktis yang nantinya bisa dimakan anak dan suami. Saat kebutuhan dasar (makanan) terpenuhi, saya yakin Allah akan meridai saya dengan doa-doa dari suami dan anak. Meleleh!

Alhamdulillah, semua bahan untuk membuat bumbu tersedia, kecuali kemiri 100 gram ding! Yuk, saya bocorkan resepnya ya. Resep ini saya ambil dari tulisan MakYas di cookpad.com (link) dengan sedikit modifikasi.

Bahan-bahan:

  1. Bawang merah 250 gram
  2. Bawang putih 150 gram
  3. Kemiri sangrai 112 gram
  4. Ketumbar bubuk 26 gram
  5. Merica 1 sendok makan
  6. Garam 1 sendok makan
  7. Air 200 ml (saya pakai gelas belimbing)
  8. Minyak untuk menumis (kira-kira)

Untuk penimbangannya, saya pakai timbangan ini nih.

img_20181120_020030

Timbangan dapur legend bertuliskan si bungsu

Oke next alat-alatnya. Ini penting saya pisah dari bahan karena saya pas awal bikin bingung. Kudu pake blender macam mana? Dll.

Alat-alat:

  1. Mangkok 2 buah (satunya buat wadah bawang yang belum dikupas, satunya buat sampah kulitnya. Ini penting bagi saya. Saya lagi ngumpulin sampah organik buat pupuk organik).
  2. Pisau
  3. Blender dengan jar ukuran besar (yang biasa dipakai ngejus, tadinya mau pakai yang khusus bumbu tapi ternyata enggak muat).
  4. Wajan teflon
  5. Gelas belimbing (mengukur volume air)
  6. Alat penimbang

Oke, setelah semua bahan dan alat terkumpul, dengan basmallah saya mulai ngeraciknya. Untuk bawang putih sudah dikupas pas saya beli di pasar. Bawang merah saya kupas dulu dibantu sama anak. lumayan pegel ternyata ngupas 250 gram bawang putih. Jadi saran saya, kalau ada yang sudah kupasan, mending yang itu saja.

Cara Buat:

  1. Sangrai sebentar kemiri di atas Teflon sampai warnanya kecoklatan.
  2. Masukkan bahan nomor 1-7 ke dalam jar dan blend.
  3. Saat semua bahan sudah tercampur, panaskan teflon yang sudah terisi minyak untuk menumis.
  4. Panaskan dengan api sedang. Jika sudah panas, masukkan bahan campuran tadi ke dalamnya.

    img_20181119_181648.jpg

    Apinya sedang saja, biar enggak gosong. Sambil diaduk ya!

  5. Masak sampai kering (tandanya bahan bumbu sudah tidak meletup-letup).
  6. Saat memasak, sering-seringlah mengaduk bahan agar bagian bawahnya tidak gosong.
  7. Setelah selesai, pindahkan langsung ke wadah yang terbuka agar lekas dingin.
  8. Simpan bahan yang sudah matang ke dalam jar kecil (ini lebih praktis memasukkannya namun kemungkinan terkontaminasinya besar) atau plastik klip (bisa diambil satu bungkus untuk satu kali pemasakkan, namun memasukannya penuh perjuangan).

    img_20181119_195423

    Nah, ini hasil bumbu matang yang bikin pegel tapi mengasyikkan. Lebih suka masukin jar atau plastik klip, nih?

  9. Bahan yang sudah masuk kulkas bisa bertahan 1 bulan (atau malah lebih jika masuk ke freezer).

Bikin, Yay or Nay?

Setelah lama merenung, akhirnya saya menghasilkan satu bumbu dasar ini. sebenarnya, dulu saya pernah bikin baceman bawang putih yang pengerjaannya lebih praktis. Enggak perlu pakai numis, Cuma geprek dan tuang minyak saja. Tapi, saya pengen coba, siapa tahu bumbu dasar ini lebih jos rasanya. Kapan-kapan saya review deh penggunaannya untuk apa saja dan tahan berapa bulan di kulkas saya.

Setelah baca tulisan saya, mau coba enggak kira-kira nih bumbu dasar putih ajaib ini?

Boleh banget nanya-nanya ya yang belum dimengerti di kolom komentar.

Tulisan by @dhita_erdittya

Foto by @dhita_erdittya (HP Xiaomi Note 3)

Kategori: Parenting

dhita

Seorang ibu dengan dua kesatria. Guru anak-anak. Berkarya dari rumah. Sedang belajar less waste, apalagi plastik.

10 Komentar

Vika Kurniawati · 21 November 2018 pada 9:35 am

catet catet catet

Sapti nurul hidayati · 21 November 2018 pada 1:29 pm

Saya tu juga pgn bikin bumbu dasar putih, merah, kuning, gitu.. Tapi sayang blender cuma 1 dipakai buat blender buah. Ntar deh beli blender lagi.. Hihi..

Riana Dewie · 22 November 2018 pada 9:07 am

Wah tipsnya asik bgt Mb. Jadi praktis setiap kali mau memasak ya.

Nisya Rifiani · 22 November 2018 pada 10:56 am

Mbakk.. aku juga sering nyetok bumbu dasar kayak gini lohh… asyique kalo masak-masak lebih praktis…

Arry Wastuti · 22 November 2018 pada 7:55 pm

Kalo dibaca, kayaknya gampang. Kalo dipraktekin kayaknya gak segampang kalo dibaca. Qiqiqi

tamasyaku.com · 23 November 2018 pada 6:34 am

Waahh aku malah udh mbayangin pas mba Dhita numis bumbu ini setiap kali masak. Aaaahh, pengharum ruangan yg tiada duanya sedapnya.

Dewi Krisna · 23 November 2018 pada 7:41 am

blendernya akurat yg khusus blender bumbu ya mb kaya nya?

innaistantina · 23 November 2018 pada 7:50 am

Penting banget ini memang punya persediaam bumbu dasar, biar kegiatan perdomestikan di rumah lebih ringkes kesss

Agata Vera · 23 November 2018 pada 8:30 am

Wah rajin banget bikin bumbu dasar ya mbakk, ga mengurangi rasa masakan ya mbak, hhahahha aku kepikirnya kalau bumbu lama disimpan trus aromanya nguap kwkwkwk

Hanifa · 23 November 2018 pada 10:00 am

Next time mau coba juga aaahhh kayanya enak nih

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com