Nyawah Sembari Makan di Omah Sawah Tembi

Dipublikasikan oleh dhita pada

 

img_20181101_163748

“Menikmati pematang sawah, hamparan hijau padi, diikuti semilir angin segar. Pekik gembira anak-anak, meloncat dengan riang di atas susunan bambu. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?”

Hari itu, aku ingat sekali riuhnya perjalanan kami. Bocah tiga tahun dengan keaktifannya bertanya ini, mengalahkan kekritisanku.

“Nda, kita mau ke mana?”

“Mau makan di restoran. Restorannya dekat sawah loh, Dek.”

“Wah, makan.”

“Sama temen Adek juga.”

Dia pun bergembira di sepanjang perjalanannya. Jarak tempuh 10 kilometer dari pondokan kami, tak terasa. Alhamdulillah, kali ini saya mendapat undangan dari Omah Sawah Tembi. Kalau kata Adek mau icip-icip makanan di sana. Lokasi restoran bertema pedesaan ini dekat dengan Rumah Budaya Tembi. Dari sana, kita tinggal menuju ke timur sekitar 100 meter. Jika kalian menemukan pertigaan ke selatan dengan plang hitam bertuliskan Omah Sawah Tembi, silakan menyalakan lampu sein belok kanan. Tak jauh dari situ, sekitar 400 meter, di kanan jalan terpampang plang besar berwarna hijau Omah Sawah Tembi.

Awalnya, saya kesasar! Diundang pukul 15:00 WIB, saya datang setengah jam sebelumnya. Atas arahan teman yang rumahnya di sekitaran situ, saya dengan pedenya masuk ke salah satu restoran dengan nama sama. Jadi, ikutilah denah yang tadi saya kasih ya. Jangan sampe ikutan kesasar macam saya! Hehehe.

img_20181101_173115

Masuk ke area parkiran, bangunan memanjang ke belakang ini menyuguhkan keindahan. HIJAU di sekelilingnya! Benar-benar dikepung oleh sawah. Area parkirannya luas. Bisa diisi empat mobil dan sekitar 20 motor. Masuk ke area resto, hamparan halaman hijau rumput dengan kursi-kursi besi hitam menyapa. Bocahku mulai bergerilya. Didapatkannya kuda-kudaan dan truk kayu yang disediakan pihak resto.

img_20181101_163843

“Nda, gajah!” tunjuknya sambil berteriak.

MasyaAllah, gajah siapa itu di tengah sawah? Ternyata, pihak resto sengaja menaruh patung gajah di tengah-tengah sawah. Agak jauh dari resto, jalan sekitar 100 meter melewati pematang sawah. Saya jadi teringat masa kecil saya saat Mbah Kakung mengajak jalan. Iya, jalan-jalannya ke tempat kerjanya. Sawah! Rasanya senang sekali menjejaki pematang. Apalagi saat pematangnya basah, harus ekstra pelan-pelan jalannya. Lalu, saya akan duduk di pinggir dan melihat Mbah Kakung mencangkuli sawah. Kejadian ini sudah bepuluh-puluh tahun lalu, namun sangat membekas di ingatan.

Semoga, begitu juga dengan bocahku ini. Walau dulu saat masih ngontrak di pondokan dekat sawah, kami juga sering duduk di tepi pematang. Tapi suasana yang ada di resto ini lain. Kekinian banget namun diselingi hal-hal indah tentang sawah.

Selesai briefing, kami dipersilakan mengabadikan suasana resto dan makanan. Enaknya, kami bisa mencicipinya. Ada juga demo membuat sambal matah dari Tupperware. Gilak! Bikin sambal senikmat main gangsing. Bahkan, bocahku juga ikutan bikin tanpa kesulitan.

Icip-icip Time!

IMG_20181101_162909[1]

Setelahnya, acara yang sangat dinanti-nantikan bocahku. MAKAN! Kami mengantre di area prasmanan. Mengambil piring putih yang lebar, saya memutuskan untuk mengambil porsi makan untuk 2 orang. Saya mengambil lele santan, ayam santan, papaya rebus rempah dan telur gulung. Si bocah makan telur gulung yang tidak pedas. Eh malah minta tambah saking enaknya. Telurnya lembut dan enggak bikin enek. Kalau untuk sayur pepayanya bahkan enggak terasa pahit. Pas di lidah semua.

IMG_20181101_163335[1]

Oya, makanan yang paling favorit di resto ini adalah nasi goreng hijau sawah. Dengan sambal matah di atasnya, makanan ini yang paling direkomendasikan di sini. Untuk pemesanan, bisa pakai paketan. Resto ini juga lumayan lengkap. Ada wastafel dan WC juga. Untuk keluarga, resto ini bisa jadi tempat berkumpul setelah bosan dengan rutinitas. Yuk saatnya melihat hijaunya pemandangan biar pikiran fresh!

IMG_20181101_163001[1]

All pictures by @dhita_erdittya

Lokasi: Omah Sawah Tembi

 

Kategori: Parenting

dhita

Seorang ibu dengan dua kesatria. Guru anak-anak. Berkarya dari rumah. Sedang belajar less waste, apalagi plastik.

13 Komentar

Nisya Rifiani · 16 November 2018 pada 1:47 pm

Hyaaa seruuwww banget. Itu ikannya kok looks so yummy yaa, tempatnya juga oke di tengah sawah gitu… kapan-kapan aku agendakan ke sana aahhh,,,

Nurul Mutiara R.A · 16 November 2018 pada 2:10 pm

Suasana hijau sangat. Kalau makan di tempat kayak gitu jadi ingat pernah makan ala suasana desa di Kebumen. Ada sensasi tersendiri kalau menurut aku mbak.

Vika Kurniawati · 16 November 2018 pada 3:18 pm

bikin laper mba foto makanannya

Yoanna Fayza · 17 November 2018 pada 8:59 am

sambel matah di atas nasgor itu keliatan menantaang nyali yaa :))

Arry Wastuti · 17 November 2018 pada 9:03 am

Mbak, itu ikan gorengnya menggoda iman sekali sihhhh

innaistantina · 17 November 2018 pada 3:18 pm

Nasi goreng ijonya
Suksesss bikin kungecesss 😆

agi pranoto · 17 November 2018 pada 6:28 pm

cakep ya omah sawah ini, bikin jadi pengen ngaso-ngaso juga padahal baru liat fotonya (DAN LIATNYA PUN MALEM MALEM WKWKWK)

tapi tempatnya jauhhhh
tapi kepengen…
tapi…

Agata vera · 17 November 2018 pada 7:14 pm

Wahhy si Gajah emang ngehits yaa, bisa jadi mascot itu heheheh

Sapti nurul hidayati · 17 November 2018 pada 7:27 pm

Wah.. View dan menunya menarik sekali.. Sayang pas ada event di sini badan baru ga bisa diajak kompromi. Jadi terpaksa skip deh.. Kapan2 nyoba ah… TFS mb…

Riana Dewie · 18 November 2018 pada 1:11 am

Duh santap makanan ndeso di pinggir sawah. Pasti asik bgt tuh yaaa. 😍

Dewi Krisna · 18 November 2018 pada 7:55 am

Ini tuh deket tmptku mbak.. tp kok aq malah kuper gtw nih t4.. sptnya suasananya asyik.. kalau malem msh buka kak?

tamasyaku.com · 18 November 2018 pada 9:44 am

Pernah denger omah sawah tembi, ooo begini yaaa suasananya. Sip sip kl lewat selatan, pengin mampir..

Hanifa · 18 November 2018 pada 9:45 am

Tempat-tempat makan kayak gini nih yang bikin rileks dan betah buat berlama-lama 🙂

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com