Review Kirim Paket Cepat Memakai Jasa Paxel Sameday


Belajar dari pengalamannya bergelut di bidang logistik, Djohari Zein mencari cara lain mengirim barang dengan sistem kilat. Bapak satu ini memang sudah malang melintang dalam menguasai pengiriman, tapi beliau belum merasa maksimal. Maka, lahirlah Paxel ini.

Nah, sebagai penjual online, saya sering memakai jasa pengiriman berupa paket. Beberapa tahun terakhir, beberapa ekspedisi sering telat kirim paket. Jadi jasa baru satu ini bisa jadi alternatif saya.

Bermodalkan jargon Paxel dengan sameday-nya, saya dan teman-teman bloger mencoba simulasi pengiriman lewat Paxel. Kala itu, kami memesan dari tempat berkumpul. Sore yang indah di Linglung Coffee, saya memesan delivery untuk mengantarkan merchandise dari Paxel ke rumah. FYI, Mas kurir yang mengantarkan paket kita bernama Hero. Filosofinya, mereka adalah hero bagi kita dalam misi mengantarkan kebaikan.

Yes, pesanan delivery sudah dibuat. Saya memilih estimated pukul 18.00-20.00 WIB. Asyiknya, saya bisa milih mau dijemput paketnya jam berapa dengan rentang waktu dua jam. Kalau dihitung-hitung, harusnya paket akan sampai pukul 02.00-04.00 keesokan harinya. Sayangnya tak mungkin, Paxel hanya beroperasi dari pukul 08.00-22.00 WIB saja. Ya, demi kemanusiaan ya, biar Mas Hero juga enggak masuk angin, hehehe.

Kali ini saya deg-deg ser menunggu kiriman dari Paxel. Estimasi kedatangan paket yang diberikan adalah pukul 08.00-10.00 WIB tanggal 25 November 2018, artinyakeesokan harinya. Eh, saya baru inget kalau besok ada acara pagi harinya sekeluarga. Duh, nanti yang nerima siapa ya?

Sampai pukul 10 lewat, belum ada kabar dari Mas Hero. Saya maklum sih karena di Jogja sendiri baru ada 5 kurir yang handle kiriman. Artinya kelimanya harus mengirim paket hampir 50 bloger dalam rentang waktu kilat. Nah, ini bisa jadi masukan ke depannya untuk Paxel menambah Hero-nya untuk meng-cover delivery yang pastinya terus berkembang.

“Mbak, ini dari Paxel. Saya sudah sampai masjid dekat rumah Mbak.”

Sebuah chat dari nomor baru masuk ke WA saya. Pukul 13 lewat. Saya langsung membalas kalau saya sedang tidak ada di tempat. Dengan cepat, Mas Hero-nya memberi saran untuk menitipkan ke tetangga. Saya mengiyakan. 

Beberapa menit kemudian, Mas Heronya menelpon bahwa penerima paket saya adalah Bu xxx, tetangga depan rumah saya. Alhamdulillah, respon Mas Heronya cepat sekali.

Dengan tagar #antarakankebaikan, Paxel lahir dari rahim kebermanfaatan. Selagi bisa memberikan ruang berbagi kepada sesama, founder-nya sangat memanjakan customer. Dimulai dari free saldo Rp100.000 saat redeem referal code ‘dhitaerdittya’. Lalu, pengiriman sameday antar kota. 

Untuk keterlambatannya, refund sudah terbukti diberikan. Bahkan, saldo gratis akan terus diaktifkan selama banyak yang mengunduh aplikasi. Semakin banyak pengunduh, berarti semakin banyak kebaikan yang tersampaikan. Itulah mengapa Paxel berada.

Saya cek lagi pelacakan melalui aplikasi. Di sana sudah ada foto paket saya di rumah tetangga. Trusted banget! Tapi, saya masih ragu karena hitungannya telat. Paxel memberi layanan refund untuk paket yang telat dari jam estimasi kedatangan. Saya cek saldo paxel, masih belum ada tanda-tanda  saldo saya menjadi Rp100.000.

Oya, biaya delivery antar Jogja untuk ukuran small hanya Rp18.000. Itupun saya bayar dari saldo hasil redeem referral code. Iya, redeem doang dapat Rp100.000. Kamu mau? Download aja aplikasinya. Nanti masukkan ‘dhitaerdittya’ saat diminta referral code, saldo Rp100.000 akan langsung masuk ke aplikasimu.

Ini dia marchendise dari Paxel yang bekerja sama dengan Omiyago.

Selang sehari setelah mengirim, saya iseng cek saldo Paxel. MasyaAllah, saldo saya utuh kembali bahkan bertambah menjadi Rp150.000. Ternyata salah satu teman saya memakai referral code ‘dhitaerdittya’. Yeay! Bener-bener dikembalikan seutuhnya untuk keterlambatan. Padahal paketnya nyampai ke tangan saya!

Kalau kamu masih bingung cara pakainya, saya kasih tutorialnya ya. Ini dia!

1. Klik ‘Buat Pengiriman’ setelah membuka aplikasi Paxel.
2. Semoga, kamu bisa masukkan alamat pengambilan paket dan alamat penerima. 

Setelah kiriman saya yang pertama, saya coba lagi memaka jasa Paxel untuk antar kota. Kali ini saya memesan frozen food dari Bogor ke Jogja. Biayanya flat Rp35.000 loh ke semua kota. Oya, belum semua daerah ter-cover. Kalau di flyer-nya Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), Bandung, Jogja, Semarang danSolo adalah daerah yang sudah terlacak Paxel. 

Untuk Jogja sendiri, daerah Kota Jogja dan sebagian Sleman yang sudah tercover. Lokasi lain di Jogja akan segera ter-cover sedikit demi sedikit. Seperti pengalaman teman saya yang hari ini memesan ke daerah Jambusari tidak bisa. Lalu keesokan harinya mencoba lagi dan akhirnya bisa.

Oya, untuk pesanan frozen food, saya baru mencoba hari ini. Estimasi kedatangan lebih lama dari Jogja ke Jogja. Untuk Bogor ke Jogja estimasinya 12 jam dan itu sameday. Pukul 8 pagi paket saya diambil dari Bogor, estimasi datang ke Jogja pukul 20.00-22.00 WIB. 

Semoga sampai dengan selamat. Untungnya frozen food yang dipesan sudah dibekukan berhari-hari. Jadi, saya bisa tenang menunggu sebelum makanannya sampai ke tangan.

Nikmati pengalaman baru dengan memakai Paxel, yuk!

Cara Membuat Bumbu Dasar Putih Praktis

Kegiatan (Merenung) Berfaedah ala Adhiyaksa’s

Anak Kupas Bawang Merah
Adek bantuin kupas bawang merah.

“Dek, mau bantuin Bunda kupasin bawang putih ini?” Saya menawarkan kegiatan kepada bocah 3 tahun yang lagi asyik lari-lari.

Si bocah terdiam sebentar lalu teriak, “Mau!”

Yay, jadi Senin kami adalah hari membuat bumbu dasar. Kenapa sih malah bikin bumbu pas awal minggu, bukannya pas akhir minggu biar Seninnya bisa langsung masak? Baiklah, saya izin mengungkapkan sesuatu pada kalian.

Sabtu, 17 November 2018 pukul 9:24 WIB. Bocahku terbaring di kasur. Badannya serupa panci yang baru saja selesai menjerang air. Saya galau. Duh, demam ya Allah. Cepat-cepat saya cari termometer merah di laci lemari. Setelah beberapa menit menunggu, angka 39 koma membuat saya syok.

“Aku kudu kepriwe?”

Jujur, saya lupa merawat anak demam dengan teknik apa saja. Saya hanya ingat paracetamol, memberi cairan yang banyak plus berendam air hangat. Tapi, teknik itupun samar-samar saat saya merecall lagi ingatan saya.

Seharian anak saya demam. Enggak langsung saya bawa periksa sih. Menurut IDAI, anak di atas 36 bulan ditunggu sampai 3 hari perkembangannya. Jika masih demam, bisa langsung di bawa ke dokter. Namun, jika suhunya sudah 40 atau lebih, sebaiknya langsung diperiksa. Nah, saya rawat dulu di rumah nih. Qodarullah, esok paginya anak saya kembali dalam suhu normal.

Nah, karena dalam hasilnya semua anak akan berbeda ya, jadi kisah saya tidak bisa jadi pegangan. Yang mau saya bagi di sini adalah alasan anak bisa demam. Sebenarnya sih, cuma Allah yang tahu kebenarannya. Tapi, saya sebagai ibunya jadi banyak merenung. Muhasabah diri. Ikhtiar apa yang belum saya jalankan ya selama ini? Bisa jadi kan, sakit anak saya itu teguran bagi saya dan suami.

Di dalam perenungan, qodarullah uang yang tersisa tinggal beberapa. Kalau dihitung secara hitungan manusia, hanya bisa dipakai untuk satu hari makan. Hayoloh, anak baru sembuh eh dapat ujian lagi. uang yang saya rencanakan untuk hidup bulan ini sudah saya pakai untuk membeli makanan kesukaan anak pas sakit. Kalau kata teman saya, memuliakan anak sama dengan memuliakan Pencipta-Nya. Jadi, bagaimana saya merencanakan uang yang hanya bisa sehari jadi seminggu? Tunggu ya, saya belum ketik. Hahaha. Ngetik cara membuat bumbu dasar dulu, biar yang tanya-tanya tinggal baca saja di sini.

Yuk Siapkan Diri Bebikin Bumbu

Bumbu dasar putih ini saya buat karena saya ingin lebih praktis dalam memasak. Kalau yang saya tahu dari cerita mamak lain, bumbu ini ajaib. Bisa jadi bumbu dasar sebagian masakan Indonesia. Duh, sampai sini saya udah enggak tahan lagi buat berbagi. Nah, kalian tau kan, memasak itu lumayan bikin ngos-ngosan dalam meracik bumbu? Jadi, selain menghemat tenaga, saya juga ingin memasak praktis yang nantinya bisa dimakan anak dan suami. Saat kebutuhan dasar (makanan) terpenuhi, saya yakin Allah akan meridai saya dengan doa-doa dari suami dan anak. Meleleh!

Alhamdulillah, semua bahan untuk membuat bumbu tersedia, kecuali kemiri 100 gram ding! Yuk, saya bocorkan resepnya ya. Resep ini saya ambil dari tulisan MakYas di cookpad.com (link) dengan sedikit modifikasi.

Bahan-bahan:

  1. Bawang merah 250 gram
  2. Bawang putih 150 gram
  3. Kemiri sangrai 112 gram
  4. Ketumbar bubuk 26 gram
  5. Merica 1 sendok makan
  6. Garam 1 sendok makan
  7. Air 200 ml (saya pakai gelas belimbing)
  8. Minyak untuk menumis (kira-kira)

Untuk penimbangannya, saya pakai timbangan ini nih.

img_20181120_020030
Timbangan dapur legend bertuliskan si bungsu

Oke next alat-alatnya. Ini penting saya pisah dari bahan karena saya pas awal bikin bingung. Kudu pake blender macam mana? Dll.

Alat-alat:

  1. Mangkok 2 buah (satunya buat wadah bawang yang belum dikupas, satunya buat sampah kulitnya. Ini penting bagi saya. Saya lagi ngumpulin sampah organik buat pupuk organik).
  2. Pisau
  3. Blender dengan jar ukuran besar (yang biasa dipakai ngejus, tadinya mau pakai yang khusus bumbu tapi ternyata enggak muat).
  4. Wajan teflon
  5. Gelas belimbing (mengukur volume air)
  6. Alat penimbang

Oke, setelah semua bahan dan alat terkumpul, dengan basmallah saya mulai ngeraciknya. Untuk bawang putih sudah dikupas pas saya beli di pasar. Bawang merah saya kupas dulu dibantu sama anak. lumayan pegel ternyata ngupas 250 gram bawang putih. Jadi saran saya, kalau ada yang sudah kupasan, mending yang itu saja.

Cara Buat:

  1. Sangrai sebentar kemiri di atas Teflon sampai warnanya kecoklatan.
  2. Masukkan bahan nomor 1-7 ke dalam jar dan blend.
  3. Saat semua bahan sudah tercampur, panaskan teflon yang sudah terisi minyak untuk menumis.
  4. Panaskan dengan api sedang. Jika sudah panas, masukkan bahan campuran tadi ke dalamnya.

    img_20181119_181648.jpg
    Apinya sedang saja, biar enggak gosong. Sambil diaduk ya!
  5. Masak sampai kering (tandanya bahan bumbu sudah tidak meletup-letup).
  6. Saat memasak, sering-seringlah mengaduk bahan agar bagian bawahnya tidak gosong.
  7. Setelah selesai, pindahkan langsung ke wadah yang terbuka agar lekas dingin.
  8. Simpan bahan yang sudah matang ke dalam jar kecil (ini lebih praktis memasukkannya namun kemungkinan terkontaminasinya besar) atau plastik klip (bisa diambil satu bungkus untuk satu kali pemasakkan, namun memasukannya penuh perjuangan).

    img_20181119_195423
    Nah, ini hasil bumbu matang yang bikin pegel tapi mengasyikkan. Lebih suka masukin jar atau plastik klip, nih?
  9. Bahan yang sudah masuk kulkas bisa bertahan 1 bulan (atau malah lebih jika masuk ke freezer).

Bikin, Yay or Nay?

Setelah lama merenung, akhirnya saya menghasilkan satu bumbu dasar ini. sebenarnya, dulu saya pernah bikin baceman bawang putih yang pengerjaannya lebih praktis. Enggak perlu pakai numis, Cuma geprek dan tuang minyak saja. Tapi, saya pengen coba, siapa tahu bumbu dasar ini lebih jos rasanya. Kapan-kapan saya review deh penggunaannya untuk apa saja dan tahan berapa bulan di kulkas saya.

Setelah baca tulisan saya, mau coba enggak kira-kira nih bumbu dasar putih ajaib ini?

Boleh banget nanya-nanya ya yang belum dimengerti di kolom komentar.

Tulisan by @dhita_erdittya

Foto by @dhita_erdittya (HP Xiaomi Note 3)

Nyawah Sembari Makan di Omah Sawah Tembi

 

img_20181101_163748

“Menikmati pematang sawah, hamparan hijau padi, diikuti semilir angin segar. Pekik gembira anak-anak, meloncat dengan riang di atas susunan bambu. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?”

Hari itu, aku ingat sekali riuhnya perjalanan kami. Bocah tiga tahun dengan keaktifannya bertanya ini, mengalahkan kekritisanku.

“Nda, kita mau ke mana?”

“Mau makan di restoran. Restorannya dekat sawah loh, Dek.”

“Wah, makan.”

“Sama temen Adek juga.”

Dia pun bergembira di sepanjang perjalanannya. Jarak tempuh 10 kilometer dari pondokan kami, tak terasa. Alhamdulillah, kali ini saya mendapat undangan dari Omah Sawah Tembi. Kalau kata Adek mau icip-icip makanan di sana. Lokasi restoran bertema pedesaan ini dekat dengan Rumah Budaya Tembi. Dari sana, kita tinggal menuju ke timur sekitar 100 meter. Jika kalian menemukan pertigaan ke selatan dengan plang hitam bertuliskan Omah Sawah Tembi, silakan menyalakan lampu sein belok kanan. Tak jauh dari situ, sekitar 400 meter, di kanan jalan terpampang plang besar berwarna hijau Omah Sawah Tembi.

Awalnya, saya kesasar! Diundang pukul 15:00 WIB, saya datang setengah jam sebelumnya. Atas arahan teman yang rumahnya di sekitaran situ, saya dengan pedenya masuk ke salah satu restoran dengan nama sama. Jadi, ikutilah denah yang tadi saya kasih ya. Jangan sampe ikutan kesasar macam saya! Hehehe.

img_20181101_173115

Masuk ke area parkiran, bangunan memanjang ke belakang ini menyuguhkan keindahan. HIJAU di sekelilingnya! Benar-benar dikepung oleh sawah. Area parkirannya luas. Bisa diisi empat mobil dan sekitar 20 motor. Masuk ke area resto, hamparan halaman hijau rumput dengan kursi-kursi besi hitam menyapa. Bocahku mulai bergerilya. Didapatkannya kuda-kudaan dan truk kayu yang disediakan pihak resto.

img_20181101_163843

“Nda, gajah!” tunjuknya sambil berteriak.

MasyaAllah, gajah siapa itu di tengah sawah? Ternyata, pihak resto sengaja menaruh patung gajah di tengah-tengah sawah. Agak jauh dari resto, jalan sekitar 100 meter melewati pematang sawah. Saya jadi teringat masa kecil saya saat Mbah Kakung mengajak jalan. Iya, jalan-jalannya ke tempat kerjanya. Sawah! Rasanya senang sekali menjejaki pematang. Apalagi saat pematangnya basah, harus ekstra pelan-pelan jalannya. Lalu, saya akan duduk di pinggir dan melihat Mbah Kakung mencangkuli sawah. Kejadian ini sudah bepuluh-puluh tahun lalu, namun sangat membekas di ingatan.

Semoga, begitu juga dengan bocahku ini. Walau dulu saat masih ngontrak di pondokan dekat sawah, kami juga sering duduk di tepi pematang. Tapi suasana yang ada di resto ini lain. Kekinian banget namun diselingi hal-hal indah tentang sawah.

Selesai briefing, kami dipersilakan mengabadikan suasana resto dan makanan. Enaknya, kami bisa mencicipinya. Ada juga demo membuat sambal matah dari Tupperware. Gilak! Bikin sambal senikmat main gangsing. Bahkan, bocahku juga ikutan bikin tanpa kesulitan.

Icip-icip Time!

IMG_20181101_162909[1]

Setelahnya, acara yang sangat dinanti-nantikan bocahku. MAKAN! Kami mengantre di area prasmanan. Mengambil piring putih yang lebar, saya memutuskan untuk mengambil porsi makan untuk 2 orang. Saya mengambil lele santan, ayam santan, papaya rebus rempah dan telur gulung. Si bocah makan telur gulung yang tidak pedas. Eh malah minta tambah saking enaknya. Telurnya lembut dan enggak bikin enek. Kalau untuk sayur pepayanya bahkan enggak terasa pahit. Pas di lidah semua.

IMG_20181101_163335[1]

Oya, makanan yang paling favorit di resto ini adalah nasi goreng hijau sawah. Dengan sambal matah di atasnya, makanan ini yang paling direkomendasikan di sini. Untuk pemesanan, bisa pakai paketan. Resto ini juga lumayan lengkap. Ada wastafel dan WC juga. Untuk keluarga, resto ini bisa jadi tempat berkumpul setelah bosan dengan rutinitas. Yuk saatnya melihat hijaunya pemandangan biar pikiran fresh!

IMG_20181101_163001[1]

All pictures by @dhita_erdittya

Lokasi: Omah Sawah Tembi