Usia 26 Tahun Baru Berani Bermimpi? Why Not!

Dipublikasikan oleh dhita pada

IMG-20170923-WA0009.jpg

Me and my dream partner. Kamu pasti tahu, Ibu dalam tulisan ini, yang mana.

Bermimpi saat usia tak lagi belasan tahun? Baru sadar bahwa selama ini ada potensi diri saat sudah menjadi Ibu? Memiliki passion akan sesuatu saat yang lain sudah mapan berkarir? Hey! Itu bukan masalah besar. Itu bagian hidupmu.

Suatu hari, seorang Ibu beranak banyak (suami keitung ya, yang bahkan sama manjanya dengan buah hati, hahaha), merasakan kejenuhan yang amat mendalam. Bangun pagi, tugas dapur melambai minta ‘dikecup’. Belum anak yang minta sarapan. Suami nimbrung titip minuman hangat. Yes, dunia ibu rumah tangga yang legend!

Karena sudah merasakan titik kurang memberdayakan potensi diri, maka keluarlah sang Ibu mencari informasi. Siapa tahu ada kursus yang bisa membuat dirinya berkarya. Mungkin menjahit, menyulam, dan lain sebagainya. But, apa mau dikata, semua kursus mengharuskan dirinya pergi dari rumah. Bukan minggat, tapi ke luar sementara untuk belajar.

“Bagaimana dengan buah hati saat aku pergi?” Begitu terus pertanyaan sang Ibu saat dirinya berniat hendak mecoba mengasah keterampilannya.

Akhirnya, belajar suatu keterampilan urung dilakukan. Pun dia belum memiliki passion ke arah itu. Akhirnya, hanya doalah yang bisa dia panjatkan. Meminta sang Ilahi memberinya suatu jalan agar dapat berkarya dari rumah. Tulisan kecil penyemangat ditempelkannya di dinding. Sebuah motivasi diri yang membuatnya tak berhenti bermimpi, walau harus ditunda sementara.

“Ya, suatu saat nanti pasti ada caranya. Sabar saja. Tunggu aku, dunia,” sugesti diri Ibu tersebut.

Instagram terkadang jadi pelariannya. Loh, siapa tau ada inspirasi di sana. Lama sekali dia follow seseorang yang menjadikannya ‘kuat’. Namanya Sri Jayanti. Gadis manis asal Palembang ini sering posting kalimat ajaib yang membuatnya teduh. Berasa disayang dan diperhatiin sama dia. Padahal belum pernah ketemu sekalipun. Getarannya sampai ke lubuk hati.

Eh, Jee (nama panggilan Sri Jayanti) bikin kelas menulis nih. Gumam sang ibu saat Jee posting beberapa saat yang lalu. Ibu itu lupa detail ajakannya menulis, namun dia masih ingat gambar diri Jee laiknya sedang menanti seseorang di kafe. Ada secangkir kopi di meja dia duduk. Kutunggu kalian yang mau belajar bersama untuk menulis ya. Batch 1 sudah berjalan, semoga kamu menjadi keluarga kami juga. Kalau tak salah, Jee mengajak seperti itu.

Duh, ikut enggak ya? Ibu itu mencoba untuk mengirim DM (Direct Message) kepada Jee. Bertanya apa saja syaratnya? Ada biaya investasinya. Kalau tak salah di bawah 100rb, antara 80-70rb. Jujur, saat itu mengeluarkan uang sebanyak itu masih membuatnya berpikir-pikir. Ya, tak lain karena penghasilan hanya dari suami. Kala itu beliau masih bekerja magang bagian operasional. Gajinya belum sampai UMR kota, baru bisa mencukupi kebutuhan makan dan rumah tinggal.

Wah, aku kudu mencari ke mana ya? Gumam Ibu tersebut.

Sedih. Tinggal beberapa jam lagi pendaftaran tutup. Ibu itu yang masih lugu tentang dunia online, takut terlambat belajar. Sekarang Ibu itu baru sadar bahwa nantinya akan ada batch 3, 4 dan seterusnya. Eh, tapi si Ibu bersyukur, bukankah semakin cepat belajar semakin banyak waktu yang kupakai untuk trial dan error. Akhirnya, ada secercah harapan, seseorang yang terkasih meminjamikannya setelah dia cerita bahwa dia kepingin belajar lagi.

***

Akulah sang Ibu.

Di sinilah, kelas menulis pertamaku, aku bertemu banyak kawan yang sama-sama ingin menulis, suka menulis dan sudah terbiasa menulis. MasyaaAllah, berasa kupunya saudara baru. Entah, saat itu aku merasa kami benar-benar keluarga. Yang lama tak berjumpa dan dipertemukan lagi di grup WAG kelas menulis itu. Ah, awalnya aja udah menggembirakan gini, belum Jee yang sangat keibuan. Jurusan yang ia ambil dulu sedikit banyak membuatnya menjadi pribadi yang lembut dan ‘ngayomi’.

FYI, tadinya aku merasa aku terkena baby blues, lho. Masuk dalam lingkaran positif ini membuatku kembali baik. Tak seperti kemarin. Aku merasa mendapatkan angin segar. Tiap harinya, kami – para peserta – di kelas menulis diharuskan menulis. Tema apa saja. Setelah lama mengikuti, aku baru sadar kalau ini adalah pembiasaan baik. Selama 30 hari, kami diharuskan menulis tanpa ‘bolong’. Setelahnya, kami disuruh upload tulisan di Instagram. Ini untuk memberikan kami rasa percaya diri bahwa kami bisa berkarya dari hal-hal yang kecil. Sambutan baik datag juga dari aturan untuk mengomentari tulisan antarteman. Selain dukungan, sekarang aku tahu bahwa hal ini mengakibatkan view postingan naik. Hahaha.

Tak hanya di kelas Jee, aku bertualang ke kelas-kelas menulis lain yang harganya lumayan pas di kantong. Malah aku sampai mendapatkan hak mengikuti kelas dengan harga jutaan rupiah secara GRATIS. Suatu wujud prestasi yang akhirnya aku dapatkan setelah sekian lama mengerjakan hal yang itu-itu saja. Ya, bukan suatu prestasi yang WAH sih. Aku berhasil menjual 50 eks buku penulis yang juga seorang mentor menulis. Selain aku dapat komisi menjualkan, aku pun bisa ikut kelas.

Alhamdulillah, jikalau kita berpikir bisa, maka Allah akan sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Tak hanya online, komunitas offline pun aku jabanin. Sekarang, aku sudah setahun ikut di Temu Penulis Yogyakarta (TPY). Setelah setahun kami – para anggota TPY – belajar teori, dari bulan September-Desember, kami didorong untuk menulis sebuah naskah buku. Oh ya, buku pertamaku yang rilis dari kelas jutaan tadi, akan aku coba kembangkan lagi di komunitas ini. Harapannya, aku bisa nerkarya lagi. Bisa berdayakan diri lagi. Bisa bermanfaat bagi kamu dan kamu, iyaaa, kamu.

Jadi, bermimpi di usia yang harusnya kita sudah mapan, atau sudah punya banyak anak, sah-sah aja! Yang penting, do your dream and pray for it!

Salam dari Ibu yang akhirnya bisa punya mimpi di usia 26 tahun.

 

 

 


dhita

Seorang ibu dengan dua kesatria. Guru anak-anak. Berkarya dari rumah. Sedang belajar less waste, apalagi plastik.

18 Komentar

garndys.mawarni · 26 Oktober 2018 pada 9:57 am

Aaaaak so deep heart banget kayaknya nulis ini. Loveyouuuu bundit

Elisabeth Murni · 9 November 2018 pada 11:03 am

Dulu saya selalu berpikir, selepas dari usia 25an, akankah saya tetap bisa bermimpi? dan ternyata jawabannya bisa. Sekarang saya baru menginjak 31, dan ya, ad abanyak mimpi baru yang menanti untuk dihidupi serta diwujudkan. Pokoknya harus #BeraniBermimpi 🙂

Semangat Mbak Dhita!

Dian Farida Ismyama · 9 November 2018 pada 11:08 am

Wah aku baru tahu kalau Mbak Dhita masih usia 26 tahun. Berasa tua nih aku. Hebat lho sudah jadi bukunya solo lagi. Aku pesan satu ya Mbak bukumu yang Diary of Mahmud:)

agata vera · 9 November 2018 pada 12:39 pm

Aku setuju dengan kata2 do your dream and pray for it! yak bener selama masih ada kesempatan sikat aja kesempatannya ya mbak

Vika Kurniawati · 9 November 2018 pada 2:15 pm

Jadi semangat lagi setelah baca artikelnya. Usia muda tapi pantang menyerah.

Yoanna Fayza · 9 November 2018 pada 10:03 pm

Gak ada kata terlambat buat bermimpi ya mbak, yang penting kita jangan keasyikan tidur terus sampai lupa bangun buat mewujudkan mimpinya 🙂

Ety Abdoel · 10 November 2018 pada 4:07 am

Nggak papa. Saya malah lebih tua lagi ketika berani bermimpi. Semangat terus ya mba.

Kartika Nugmalia · 10 November 2018 pada 2:47 pm

Banyak orang bilang “Life’s begins at forty” jadi kalau baru duapuluhan mah masih bisa pame banget untuk mulai bermimpi. Senang banget lihat anak muda punya mimpi mimpi besar 😍😍😍

Siti hairul · 10 November 2018 pada 6:19 pm

Semangat mbak, semoga bukunya segera rilus ya

agi pranoto · 10 November 2018 pada 8:30 pm

mimpi itu kan ngga ada batasan umurnya mbaaaa huahahahaha entah udah ibu ibu apa udh punya cucu tetep boleh dong bermimpi dan mewujudkan mimpinya hehehe

dismonimo · 10 November 2018 pada 11:02 pm

Katanya mimpi itu bukan dilihat dari umur seseorang mb, tapi dari usaha orang tsb mewujudkannya. Tsah.

innaistantina · 10 November 2018 pada 11:04 pm

Aku hampir 40 tahun juga baruuuu nemu kembali passion lama yang bersemiiiii 😍

Riana Dewie · 11 November 2018 pada 1:00 am

Kata orang bemimpilah setinggi2nya. Mumpung gratis 🤣🤣

Arry Wastuti · 11 November 2018 pada 6:47 am

Aku yg udah kepala 4 aja masih punya banyak mimpi kok mbak. Entah kebanyakan kepengen aja kali ya kalo aku mah. Hahaha

NisyaSetyawan · 11 November 2018 pada 7:05 am

bener say, ak setuju dgn kalimat di awal2 paragrafmu…
dan sampai kapan pun kita nggak boleh berhenti mewujudkan mimpi…

Hanifa · 11 November 2018 pada 10:04 am

Waaaa semangat mengejar mimpiii. Usiaku juga 26 dan aku baru aja ngalamin kejadian2 yg bikin hati dan hidup rada2 down. Tapi life must go on dan aku pilih buat nggak settle dulu. Tetep kejar terus mimpi2 kita :’)

Ririe Khayan · 11 November 2018 pada 1:01 pm

Usia 26 menurutku masih muda dan tdk terlambat untuk bermimpi. So far, tdk ada kata terlambat untuk bermimpi. Karena sebuah impian yang menemukan jalannya, akan hadir mimpi baru selanjutnya. Let’s keep moving.

tamasyaku.com · 14 November 2018 pada 10:03 am

Semangat yaaa, masih muda 26 th. Sepanjang usia masih dibolehkan bermimpi kok say. Hanya bedanya, kl usia menuju 40, mimpinya harus bisa direalisasi, biar ga menyiksa kalau ketinggian angan2. ^_^

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com