Karena Saat Kalian Tiada, Ke Mana Aku Meminta Cinta Bapak dan Ibu (Lagi)

Dipublikasikan oleh dhita pada

Bahwa saat orang lain sudah tak berbapak ibu, saat itulah aku sadar, tak selamanya aku selalu memiliki kalian di dunia ini.

Bapak, Ibu.

Aku dulu membenci kalian. Entah dalam beberapa tahun berlalu, bara itu ada di hati. Aku tak sadar pada awalnya. Namun, saat aku terlalu meledak bagaimana menceritakan hal menyebalkan yang kalian lakukan, aku sadar. Saat aku tak merasa bersemangat untuk membahas rasa cinta untuk kalian, aku tahu. Bahwa aku tak memiliki sesuatu, yang orang lain miliki untuk orang tuanya. Cinta terhadap Bapak Ibunya.

Beberapa bulan ini, aku merampungkan sebuah buku. Di sana adalah catatan yang pernah aku rasakan dari pola asuh kalian. Bagaimana aku kecewa, bagaimana aku merasa tertinggal karena kalian, bagaimana aku merasa tak seutuhnya dicintai.

Tahukah kalian, aku sudah merasa mengobati luka itu. Aku sudah merasa memaafkan kalian. Bahkan, aku sudah merasa bahwa hubungan kita baik-baik saja. Namun, ternyata itu hanya pikiran sadarku saja. Di pikiran bawah sadarku, aku masih mengutuk.

Padahal, aku tak tahu bagaimana perjuangan kalian dulu membesarkanku. Bahwa aku sekarang seorang ibu. Aku tahu bagaimana lelahnya merawat anak, apalagi saat kenyataan tak sejalan dengan harapan. Tangisan yang memekakkan telinga, permintaan aneh saat pikiran dan hati lelah, atau hal yang sudah jelas dilarang tapi masih dilakukan sang buah hati. Dan aku, masih saja merasa aku ini orang tua hebat dan memandang sebelah mata atas berpuluh tahun rawatan tangan kalian membelaiku.

Bahwa saat orang lain sudah tak berbapak ibu, saat itulah aku sadar, tak selamanya aku selalu memiliki kalian di dunia ini.

Sungguh. Beribu maaf takkan bisa kugantikan dengan semua kelakuan nakalku, dengan semua ucapan kasarku, dengan semua pertentangan dan sikap durhakaku.

Bapak, Ibu. Dengan semua itu, masihkah kallian membuka kesempatan untukku membalas jasamu. Walau aku tahu, jasamu takkan terbalas.

Bapak, Ibu, aku merindukan kalian. Doaku selalu menyertai setiap langkah kalian. As always.


dhita

Seorang ibu dengan dua kesatria. Guru anak-anak. Berkarya dari rumah. Sedang belajar less waste, apalagi plastik.

13 Komentar

tamasyaku.com · 19 Oktober 2018 pada 12:21 pm

Semoga Bapak Ibu mba Dhita membaca tulisan ini ya. Doa seorang anak akan selalu sampai untuk kedua org tuanya. In sha Alloh.

    dhitaerdittya · 19 Oktober 2018 pada 12:35 pm

    Aamiin ya Rabb. Makasih ya Mbak sudah membaca. 😘

Ardiba · 19 Oktober 2018 pada 2:08 pm

Kalau ada pola asuh ortu yg kurang tepat, dijadikan koreksi buat kita mengasuh anak2, tp biar gimana, ortu tetaplah orang yang paling menyayangi kita.

Yoanna Fayza · 19 Oktober 2018 pada 2:17 pm

Peluuuk.. ikut berdoa untuk bapak dan ibunya ya mba.. 🙂

Hanifa · 19 Oktober 2018 pada 2:37 pm

Bapak dan Ibu… Walau kadang mereka berbuat salah dan aku merasa mereka jahat padaku, tapi aku selalu bersyukur telah menjadi putri mereka :’)

Dian Farida Ismyama · 19 Oktober 2018 pada 2:40 pm

Huaa, Mbak Dhita, semoga segera terobati ya rasa sedih dan kecewanya. Aamiin

Ririe Khayan · 19 Oktober 2018 pada 3:02 pm

Seringkali anak-anak baru akan merasakan betapa hebatnya orang tua ketika sdh menjalani peran menjadi orang tua.

Saya yakin, fitrah setiap orang tua adalah memberikan yg terbaik utk buah hatinya tanpa perduli kesah dan letih.

Salam kagem bapak Ibuk Mbak Dhita, semoga beliau selalu dalam bahagia di masa kehidupan di dunia maupun setelahnya. Aamiin

Agata · 19 Oktober 2018 pada 5:01 pm

Terharu jadi kangennn bapak ibuuuu hiksss

supplierjilbabjogja · 19 Oktober 2018 pada 9:43 pm

Auto terharu deh kalau ngomongin soal orang tua. Apalagi ditambah quote dari drama 1988. Hiks hiks

agi pranoto · 20 Oktober 2018 pada 12:06 am

netes aku bacanya mba, memang jasa orangtua begitu besar kita nggak akan pernah bisa membayarnya…

innaistantina · 20 Oktober 2018 pada 5:42 am

Ya Allah, berdesirrr mb baca postingan ini. Doa anaklah yang paling terbaik untuk kedua orang tuanya ya mbaaa. Pastinya ortu seneng banget kalo bisa baca tulisan ini

akhiharuni · 20 Oktober 2018 pada 10:20 pm

Siapa yang naruh bawang di sini? 🙁
(Buru-buru peluk babe enyak)

Riana Dewie · 21 Oktober 2018 pada 9:51 am

Kasih sayang orang tua takkan terbalas sampai kapanpun. Mengharukan mb 😢😢

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com