Karena Saat Kalian Tiada, Ke Mana Aku Meminta Cinta Bapak dan Ibu (Lagi)

Bahwa saat orang lain sudah tak berbapak ibu, saat itulah aku sadar, tak selamanya aku selalu memiliki kalian di dunia ini.

w644
Karena Bapak Pun Menjadi “Bapak” untuk Pertama Kalinya

Bapak, Ibu.

Aku dulu membenci kalian. Entah dalam beberapa tahun berlalu, bara itu ada di hati. Aku tak sadar pada awalnya. Namun, saat aku terlalu meledak bagaimana menceritakan hal menyebalkan yang kalian lakukan, aku sadar. Saat aku tak merasa bersemangat untuk membahas rasa cinta untuk kalian, aku tahu. Bahwa aku tak memiliki sesuatu, yang orang lain miliki untuk orang tuanya. Cinta terhadap Bapak Ibunya.

Beberapa bulan ini, aku merampungkan sebuah buku. Di sana adalah catatan yang pernah aku rasakan dari pola asuh kalian. Bagaimana aku kecewa, bagaimana aku merasa tertinggal karena kalian, bagaimana aku merasa tak seutuhnya dicintai.

Tahukah kalian, aku sudah merasa mengobati luka itu. Aku sudah merasa memaafkan kalian. Bahkan, aku sudah merasa bahwa hubungan kita baik-baik saja. Namun, ternyata itu hanya pikiran sadarku saja. Di pikiran bawah sadarku, aku masih mengutuk.

Padahal, aku tak tahu bagaimana perjuangan kalian dulu membesarkanku. Bahwa aku sekarang seorang ibu. Aku tahu bagaimana lelahnya merawat anak, apalagi saat kenyataan tak sejalan dengan harapan. Tangisan yang memekakkan telinga, permintaan aneh saat pikiran dan hati lelah, atau hal yang sudah jelas dilarang tapi masih dilakukan sang buah hati. Dan aku, masih saja merasa aku ini orang tua hebat dan memandang sebelah mata atas berpuluh tahun rawatan tangan kalian membelaiku.

Bahwa saat orang lain sudah tak berbapak ibu, saat itulah aku sadar, tak selamanya aku selalu memiliki kalian di dunia ini.

Sungguh. Beribu maaf takkan bisa kugantikan dengan semua kelakuan nakalku, dengan semua ucapan kasarku, dengan semua pertentangan dan sikap durhakaku.

Bapak, Ibu. Dengan semua itu, masihkah kallian membuka kesempatan untukku membalas jasamu. Walau aku tahu, jasamu takkan terbalas.

Bapak, Ibu, aku merindukan kalian. Doaku selalu menyertai setiap langkah kalian. As always.