Beginilah Support System …

Bismillahirrahmanirrahim.

Aku tidak tahu, apakah keputusan ini benar atau salah dalam hidupku. Apakah ini berpengaruh dengan tujuan hidup yang kupegang atau tidak. Apakah hanya aku yang gampang goyah atau memang kondisiku yang mengharuskan aku mengambil semua ini.

Terlepas dari semua pikiran ruwetku, selalu ada suami yang bisa menjadi teman berbagi unek-unekku. Selalu ada anak yang mengisi hidupku. Selalu ada para ibu yang menyemangatiku. Bukan apa kata mereka namun bagaimana aku mendengarkan mereka tanpa memasukkan apa yang tidak sesuai dengan hatiku. Karena aku mampu memilih mana yang benar dan salah.

Hidup ini tak pernah ideal. Hanya kita bisa memaksimalkan diri untuk mendekati ideal tersebut. Mau bagaimana pun aku berusaha, jika memang Allah takdirkan aku untuk sedikit berikhtiar dan tidak sesuai ideal yang selama ini kujaga. It’s okay. Hidup tidak dipenuhi dengan hal sempurna namun hal yang mendekati sempurna.

Bercerita dan berbagi pikiran bisa jadi latihanku memilah mana yang baik untuk dipilih. Juga mana yang tidak baik untuk tidak diterima. Hidup tak melulu soal hal yang sama, namun bagaimana hidup dalam perbedaan.

Kemewahanku adalah dukungan dari banyak pihak. Dukungan uang jika aku tidak bisa bekerja dalam berkuliah. Dukungan tenaga jika tidak bisa membersamai anak di suatu waktu. Bismillahirrahmanirrahim. Aku titipkan anakku kepada-Mu. Pilihan ini tidak serta merta membuatku melepaskan tanggung jawab kepengasuhan.

Perjalanan Operasi Hisprung Anak Kami Metode Pullthrough bagian 1

Tak banyak informasi detail yang saya dapatkan lewat internet tentang Hisprung. Usia 5 tahun, anak kami harus menjalani operasi pengobatannya. Nah, kebanyakan bayi sebelum 1 tahun sudah menjalaninya. Jadi info untuk Hisprung di usia besar membuat saya mulai menulis ini agar orang tua lainnya bisa memahami proses penyembuhannya.

Kemungkinan, gak semua yang saya tulis akan sama prosesnya. Setiap anak memiliki setiap keadaan. Setidaknya, saya bisa bercerita garis besarnya, ya.

Kok Bisa Anak Saya Kena Hisprung di Usia Besar?

Sebenarnya, tanda-tanda dia kena itu sudah terlihat sejak bayi. Nah, kalau para orangtua sudah merasakan gejala ini pada bayi Anda, mending diperiksakan lebih lanjut. Apa aja?

  • Bayi sulit BAB di awal kelahiran, bisa BAB pertama kali atau di hari-hari awal
  • Kembung besar
  • Muntah atau gumoh (Jawa) setelah menyusu

Tiga gejala di atas adalah gejala yang dialami anak saya. Saat awal lahir, BAB pertama kali (meconium plug) keluar. Anehnya, setiap kali menyusu, dia gagal menelan (muntah susu) walau sudah disendawakan. Kejadian ini berulang terus di usia ke-2 hari sampai 3 hari. Lalu, dokter anak memberi saran kalau di hari ke-3 masih seperti itu, maka anak saya harus menjalani perawatan. Apalagi saat itu tidak ada BAB yang keluar.

Akhirnya, setelah 3 hari menunggu, anak saya tetap dalam kondisi awal. Dokter anak yang menanganinya di RS (saat itu saya masih dalam perawatan pasca SC) merujuknya ke RS lain karena NICU di RS saya tidak lengkap. Saat itu, saya dan suami dipanggil ke ruangan bayi dan menunggu kabar RS mana yang bisa merawat bayi saya. Perawat menelepon beberapa RS yang memiliki NICU di sekitar Jogja. Alhamdulillah, RS Bethesda bisa menerima anak saya.

Karena saya masih dalam masa perawatan, saya tidak bisa mendampingi anak pindah RS. Saya baru bisa keluar di hari ke-7. Sedih sekali rasanya, baru lahiran tapi saya harus berpisah. Qodarullah, ada adik saya yang masih SMA. Jadi dia yang menggendong anak saya di dalam ambulans untuk diantarkan ke RS lain.

Bagian perjalanan ini masih panjang, jadi saya bikin part-part dulu yaa. Untuk selanjutnya, akan saya bahas Apa Saja Perawatan di NICU? di postingan lain.

Baca juga: Cara Cegah Sembelit dengan Lidah Buaya

Upload Gambar Rusak/Error di Media WordPress

Sumber: presslabs

Gambar itu menjelaskan sesuatu lebih detail. Dari gambar, kita bisa membayangkan apa yang penulis ungkapkan. Maka dari itu, gambar sangat mewakili dan berpengaruh besar dalam tulisan. Tanpa gambar, tulisan akan hampa, bagai nasi tanpa lauk.

Nah, pengalaman tanpa gambar ini pernah saya alami. Bukan karena kesengajaan tidak memberi gambar pada tulisan saya. Tapi lebih pada ketidaktahuan saya mengunggah gambar tersebut di media wordpress.

Saat itu, saya sedang share tulisan di grup blogwalking. Eh, ada yang nanya gambar saya ke mana? Wkwkwk. Saat saya buka di peramban dalam HP saya, semuanya baik-baik saja. Saya pun tidak menemukan keanehan saat buka blog di laptop.

Kejanggalan selanjutnya muncul setelah beberapa orang menanyakan hal yang sama. Akhirnya saya coba merenung, apa yang salah? Ketemulah jawabannya. Ini berdasarkan analisis saya sih, enggak tau bener apa enggak hehe. Jadi, saya memasukkan link foto dari Google Foto (GF) di akun saya sendiri. Pantaslah kalau orang lain tidak dapat mengaksesnya.

Kalau ditanya, kenapa dari akun GF itu, enggak upload aja langsung dari memori HP? Ya, HP saya kehabisan memori, jadi saya biasa kosongkan penyimpanan dengan memindahkan semua file gambar dan video ke GF ini. Kapan-kapan saya akan share bagaimana melegakan memori dengan GF ini yaa.

Setelah masalah terdeteksi, saya coba untuk mengunduh lagi foto tadi ke perangkat saya. Beberapa foto saya coba dan unggah ulang ke blog wordpress, tapi kok masih keluar error seperti ini.

Duh, pusing! Hahaha. Jujur, saya belajar ngeblog bener-bener otodidak. Bekalnya coba-coba dan gugling aja. Kadang tanya teman kalau sudah mentok banget! Kalau belum, biasanya saya trial error aja. Ya, seperti gambar yang enggak keluar ini.

Saya bolak-balik mengunggah gambar ke blog sampai dini hari, dan di akhir saya menyerah. Hahaha.

Dan AHA! saya menemukan titik temu saat saya bangun keesokan aginya. Entah kenapa saya kepikiran Microsoft Office yang biasanya membantu saya dalam permasalahan gambar. Jadi, saya ngerasa gambarnya itu kebesaran memorinya. Harus dikompres nih, pikir saya.

Akhirnya saya pindahlah semua gambar ke laptop setelah sebelumnya saya unduh dari HP. Satu per satu, gambar saya kompres ke mode document. Cara ini juga dulu berhasil membantu saya saat kirim gambar untuk persyaratan CPNS. Nah, gambar yang tadinya berukuran dari 1 hingga 3 MB, saya kompres menjadi 100-300 KB.

Saya coba dulu satu gambar, apakah berhasil? Saya agak ragu sih, permasalahan gambar blog saya tak terdeteksi bukan karena ini. Tapi, bismillah, saya kudu coba.

Ya Rabb, ternyata emang gara-gara ukuran foto yang diunggah itu kebesaran. Blog saya tidak bisa menanganinya. Hihihi. Sekarang gak lagi bingung, tinggal kompres saja. Bisa pakai microsoft untuk gambar seperti saya. Atau bisa juga online dengan kata kunci KOMPRES UKURAN FOTO”. Selamat mencoba!

Penghargaan Liebster Award – Akhirnya, Aku Ditantangin Juga!

Halooo, yeorobun (dikeplak pembaca)! Aku mau nulis ala-ala hari ini. Btw, aku nulis random ini ditantang sama Mbak Yustrini buat tukeran backlink dengan menulis post blog. Namanya Liebster Award. Apa sih ini? Yuk lah kenalan lebih dalam!

Liebster Award, Penghargaan buat Blogger ‘Tersayang’

Blogger tersayang lagi, eaaa.

Hahaha, pede sekali ya saya. Jadi, Liebster Award itu (dari hasil riset) adalah penghargaan dengan memberikan gambar secara estafet.

Manfaatnya adalah untuk mempererat persahabatan antar blogger. Makanya aku bilang ‘famous’, terkenal. Ya walaupun terkenal di antara teman sendiri. Jadi, bahagia karena masih ada yang inget aku. Eaaa.

Awalnya muncul penghargaan ini nih karena ada blogger dari Jerman yang menantang 11 teman blogger lain. Setelahnya, ke-11 teman itu nantang orang lain lagi dan menyebar. Sekarang bisa sampai ke Bantul, Indonesia, tempatku ini.

Kata ‘Liebster’ ini dari Jerman btw, artinya tersayang. Uhui, aku salah satunya. Makanya, abis ini aku mau tantang blogger lain yang kusayang. Mau ya ditantangin, plis!

Manfaat Ikutan Liebster Award dan Aturannya, Nih!

Kalau kita menulis dan menitipkan link di blog lain itu akan meningkatkan performa blog. Selain itu kita juga mempererat tali silaturahmi antar blogger (karena kan kita kudu japri orangnya dan minta persetujuannya).

Kalau Liebster Award sendiri sudah resminya ada aturan sendiri, aku kutip langsung dari blog Mbak Yus yaa! Ini dia:

  • Mengucapkan terima kasih kepada pemberi tantangan atau pemberi anugerah Liebster Awards.
  • Menyematkan link tulisan tantangan Liebster Awards dari si pemberi tantangan. Link tulisan ya, bukan hanya alamat blognya saja.  
  • Menuliskan 7 fakta tentang diri sendiri.
  • Menjawab 7 pertanyaan yang diajukan oleh pemberi tantangan Liebster Award.
  • Menantang 7 blogger lainnya untuk melakukan hal yang sama.
  • Memberi 7 pertanyaan kepada 7 blogger yang kita anugerahi Liebster Awards.
  • Menyisipkan alamat blog dari 7 blogger yang kita anugerahi Liebster Awards 
  • Menulis poin 1 sampai 7 tersebut ke dalam blog masing-masing, dan jangan lupa menyisipkan logo Liebster Awards di dalamnya.

Oke aku mulai ya tantangannya. Yang pertama adalah:

7 Fakta Tentang Dhita Erdittya (Aku)

Komposterku.

1. Suka Hal-hal Baru.

2. Ambivert.

3. Sangat Perasa (Emosional).

4. Sedang dalam Tahap Menerima.

5. Penyuka komposter (pernah aku tulis di sini), drakor, editing tulisan dan video, bercerita, membaca, parenting dan semua yang berhubungan dengan rumah tangga.

6. (Berusaha) Hidup Minimalis.

7. Suka hal praktis tapi tidak membebani Bumi (less waste).

Gak perlu penjelasan ya, karena nanti curhaaat jatuhnya. Hahaha.

Oke lanjut tentang jawaban dari pertanyaan Mbak Yus ke aku. Ini dia yang beliau tanyakan.

7 Pertanyaan dari Mbak Yus buatku dan Jawabannya

1. Mengapa kamu membuat blog? Sebutkan alasannya!

Awalnya, blogku ada di https://www.dhitaerdittya.wordpress.com yang dibuat karena tugas kuliah. Isinya tentang pendidikan IPA, sesuai jurusan kuliah waktu itu. Tahun 2010 kalau gak salah bikinnya.

Lalu aku kembangin di 7 tahun berikutnya (ya Allah, lama nganggur) saat ketemu Mbak Dian yang ngajakin ngeblog ‘serius’. Jadilah blog dhitaerdittya.com ini. Karena emang udah terbiasa nulis diary, jadi suka aja nulis walau random. Nah kalau ngeblog serius ini kan ngelatih diri buat nulis yang bisa bermanfaat buat orang lain.


2. Apa yang kamu lakukan untuk bisa mengusir rasa bosan saat di rumah saja?

Nonton drakor pastinya. Selain itu, karena memang fokus ke pengobatan anak (pernah saya tulis di sini), aku lebih banyak upgrade diri tentang kerumahtanggaan.

Misalnya nih, food prep, masak cepet sehat, beberes efektif efisien, belajar tentang tanaman dan komposter, lalu ikut kelas yang berkaitan dengan hal-hal tadi.

Aku dan teman-teman blogger saat event.


3. Apa sih makanan favoritmu?

Aku suka banget sama protein hewani, khususnya ikan keranjang 😍. Cuma gak bagus juga kalau hanya makan itu, jadi aku makan makanan favorit diimbangi sayur dan buah. Sayur favoritku adalah selada mentah, apalagi kalau digado pakai daging sapi sama sambel. Kalau buah favoritku itu pisang ambon.


4. Hal sederhana apa yang bisa bikin kamu bersemangat setiap hari?

Melakukan hal baru dan berkaitan dengan kesukaan. Aku adalah orang yang ‘bosenan’ jadi biar konsisten sesuai track aku kudu bikin hal baru walau cuma nyari resep cara masak cumi dengan metode baru atau gimana caranya lipat pakaian dengan menyenangkan di Google atau YouTube.

Salah satu playlist di YouTube Dhita Erdittya yang bikin aku bersemangat tiap hari.

5. Sebutin sebuah tempat di Indonesia yang paling kamu suka, sampai kamu memiliki impian bisa tinggal di sana.

Sebenarnya gak tau juga sih tempat yang bikin aku kerasan dan akhirnya suka tuh apa. Aku gak pernah banyak keliling kota di Indonesia. Tapi kalau ditanya impian, pasti aku milih Purwokerto. Selain dekat rumah orangtua dan mertua, lokasinya pas aja.


6. Pernah nggak mengalami perbedaan budaya atau yang disebut “culture shock” di sebuah tempat baru? Coba ceritakan.

Sering banget karena aku sering pindah kontrakan. Kalau ditotal dari zaman SMA, aku udah 16x ganti tempat tinggal. Di Purwokerto 3x, di Semarang 2x, di Jogja terbanyak 11x.

Pindahnya ya karena culture shock dan ternyata baru ngeh aku gak bisa adaptasi. Akhirnya gak nyaman, setahun pindah. Atau paling cepet tuh pernah 2 bulan aja pindah. Tapi terlama ya sekarang ini, mau 3 tahun masih di kontrakan yang sama.

Culture shocknya yang paling sepele tuh kebiasaan warga di sekitar. Aku yang anak rumahan (banget), jarang tetangga yang langsung kelihatan dari rumah (dulu rumahku tuh depan SD, kiri warung makan, kanan kebon, dan belakang baru rumah Mbah). Jadi sering kaget kalau ada tetangga yang lewat depan kontrakan. Apalagi kami merantau kan cuma bertiga, gak bisa nebeng nama orangtua di sana buat sapa-sapa. Hihihi.


7. Jika sedang berpergian, barang apa yang wajib banget kamu bawa?

Bawa diri 😅 lalu mukena, tas belanja, botol air isi ulang, wadah makan isi ulang, hand sanitizer, handuk lap kecil, headset, dompet dan HaPe.

7 Pertanyaan Buat Blogger Selanjutnya

1. Punya blog ini karena apa?

2. Apa 1 kata yang kamu banget?

3. Apa benda yang sangat ingin kamu punya? Kenapa?

4. Jika kamu harus pindah dari suatu tempat, satu hal apa yang menyebabkan kamu memilih tempat baru itu?

5. Pernah gak merasa hidupmu ‘belum indah’? Kenapa?

6. Sebutkan orang-orang atau hal yang menginspirasimu?

7. Hal apa yang kamu sukai sampai kamu rela tidak dibayar?

Terima kasih yang mau mengikuti tantangan ini. Aku menantang (baru) 2 orang ini yaitu Mbak Yulia Hartoyo dan Mbak Dian Farida. Kita kenalan bentar ya sama blogger yang kita yang dan dapat Lieber Award dari aku.

Yang pertama, Mbak Yulia ini adalah raw food chef enthusiast. Beliau suka banget bikin makanan yang unik, alami dan sehat dan mewujudkannya di WarungSae agar manfaatnya semakin tersebar. Beliau juga adalah graphoterapi analysist.

Yang kedua adalah Mbak Dian Farida. Beliau adalah traveling blogger yang sudah melalang benua. Terakhir ke Turki, negaranya Pak Erdogan. Selain itu, beliau baru saja rilis buku Parenting tema tantrum loh.

Terima kasih ya sudah mau menerima tantanganku. Soon aku update lagi jika ada teman blogger lain yang mau menerima tantanganku ini.

Pengalaman dan Review Nonton Film Streaming di STRO

Jadi, kemarin saya diundang nonton film bioskop nih. Eh, emang udah gak takut virus, Mbak? Netizen yang kepo pasti bertanya gitu. Tenang, saya nontonnya via HP aja. Wah, penasaran ya caranya?

Sebanyak 1000 partisipan di hari Jumat ceria, tanggal 8 Januari 2021 kemarin nonton bareng live pemutaran film action komedi Indonesia. Acara Online Screening ini kami nonton film streaming Indonesia berjudul Teachers.

Dari 1000 orang yang nonton dikatakan spesial karena yang hadir adalah semua casts & crew dan juga rekan-rekan media & blogger (termasuk saya). Para fans dari komunitas fanbase para pemain dan subsrcibers STRO juga diundang menjadi penonton eksklusif loh!

Apa Itu STRO?

Eh, ngomong-ngomong apa itu STRO? Oya, saya lupa ngasih tau ya. Nah ini rahasianya gimana kita bisa nonton film tanpa harus ke bioskop.

STRO itu aplikasi streaming film yang bisa kita download di Google Play Store bagi pengguna Android atau iOs bagi pengguna Apple juga bisa diakses melalui web stro.tv.com.

Aplikasi ini berbasis subscription (SVOD) dari Stroworld dengan biaya murah abis!

Review Film Teachers

Pemutaran film perdana Teachers sukses mengocok perut saya. Saya sampai berkali-kali ngikutin percakapan menirukan banyolan kata-kata pemainnya sambil ngakak semacam:

Agnes saat menyamar jadi guru olahraga SD: Mulai besok hidup kalian berubah!
Anak SD (dengan polosnya menjawab): Aku mau jadi Hulk! Aku mau jadi Spiderman! Aku mau jadi Superman!
(Wkwkwk)

Oya, film Teachers itu salah satu film orisinal (original movie) kolaborasi antara SAS Film, SKYLAR PICTURES & STRO yang dihadirkan khusus untuk STRO.

Online Screening & Press Conference ini dibuka oleh sambutan Sarjono Sutrisno, sutradara Teachers, dan sepatah kata dari para pemain utama juga beberapa pihak di belakang layar produksi film ini.

Film Teachers merupakan film bergenre action comedy ini dilatarbelakangi polantas kota Batavia yang memiliki rencana mengakap sindikat narkoba yang terselubung di SD. What SD? Hahaha. Di sinilah uniknya.

Kita gak cuma disuguhi akting cast utama Yova Gracia, Estelle Linden dan akting pemain kawakan sekelas Tarzan dan Epy Kusnandar, namun juga tingkah polos anak-anak SD.

Selain itu, Rizki Mocil, Garry Iskak, Teddy Syah, dan masih banyak cameo (cameo terbanyak dari film yang pernah saya tonton) beneran bikin surprise di setiap adegan yang disajikan.

Menilik dari sutradara Sarjono Sutrisno, beliau adalah sosok yang sejak 2008 menggeluti perfilman nasional sebagai executive producer untuk Skylar pictures, Aletta Pictures dan SAS Films.

Bahkan pada saat menceritakan behind the scene, beliau terinspirasi menciptakan film ini dari film latar belakang partner dari Holywood.

Biaya Berlangganan Murah Meriah

Jadi berapa sih nonton film di STRO? Kita cukup merogoh kocek Rp10.000 untuk apps premiumnya STRO! Wow, itu juga sudah termasuk stok film yang banyak banget dari STRO.

Download segera ya! Kuy lah menghibur diri di masa pandemi ini. Gak bakal mati gaya deh karena belum bisa leluasa ke bioskop kalau pakai layanan streaming STRO!

Terima kasih sudah berkunjung ke dhitaerdittya.com. Sangat membahagiakan jika kamu suka review saya dan bisa follow blog ini untuk notifikasi tulisan saya selanjutnya. Kamu juga bisa share tulisan ini ke temen dan kerabat yang membutuhkan.

Baca juga: Review Kondangan Nikahan di Grand Dafam Rohan Jogja

Inilah 5 Tips Menyikapi Anak Saat Dia Memaksakan Kehendaknya

anak menangis
Dok. Pribadi

“Sendiriiiii!”
Dulu, memasuki usia 29 bulan, anak saya mulai meminta dengan keras kepala untuk melakukan semuanya sendiri. Bahkan, dia tidak mau disuapi. Minum pun harus mengambil sendiri dan tak mau dibantu.

Sebenarnya makan dan minum memang sudah dibiasakan mandiri dari usia 6 bulan. Namun, untuk keras kepala, meminta keinginannya harus dikabulkan dengan menjerit, akhir-akhir ini sering.

Mungkin ada orang tua yang mengalami hal yang sama dengan saya. Ada yang sudah merasakannya saat anak memasuki usia lebih muda ataupun baru muncul di saat usianya menginjak kepala dua. Hal ini memang akan menjadi syok terapi bagi para ibu baru. Apalagi saat merasakan anak yang tadinya penurut menjadi keras kepala.

Normalnya, di usia 12 bulan, anak sudah mulai berkembang di aspek sosial emosionalnya. Ini ditandai dengan ketidaksukaan anak dengan perlakuan yang tidak sesuai, misalnya mainannya direbut maka anak akan marah.

Tak apa jika memang anak sudah mulai memiliki keinginan seperti itu. Kita sebagai orang tua lebih fokuslah menjadi pembimbing mereka. Setiap kehidupan selalu ada gejolak, begitu juga sikap anak.

Jangan pusing, itu berat. Lebih baik cermati saja tips
berikut ini:

1. Diam Sesaat

Saat anak sudah mulai mengeluarkan jurus jeritannya, maka diamlah. Tak usah bereaksi marah ataupun kesal. Itu malah akan lebih memancing jeritan lainnya.

Pasang muka datar dan mulai berpikir apa yang akan kita coba untuk
membuatnya kooperatif dengan kita. Tak perlu membuat anak diam, tapi buatlah anak mengikuti kesepakatan yang dibuat bersama.

Misalnya, “Kamu boleh
makan sendiri, tapi selesaikan dulu nangisnya, ya.” Anak akan mengerti bahwa ia harus menyelesaikan tangisannya dulu baru bisa makan.

2. Pelukan Hangat

Menurut hasil penelitian dalam jurnal Psychosomatic Medicine, pelukan hangat dapat melepaskan hormon oksitosin. Hormon yang dapat membantu menghindarkan diri dari rasa sedih, marah dan emosi buruk, bahkan stres.

Oleh karenanya, saat anak sedang sedih dan dipeluk, anak akan merasa lebih rileks dan aman. Anak yang biasa dipeluk akan lebih mudah ditenangkan daripada yang jarang dipeluk.

Alih-alih membentak anak untuk diam atau bahkan melengos saat anak menjerit, rentangkan tangan anak dan ajak anak mendekat ke dada, lalu katakan, “Mau Bunda peluk?”

Anak yang dipeluk juga memiliki waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Hal ini membuat anak jadi bisa merasakan emosinya sendiri sembari memahami bahwa ia boleh menangis saat sedih misalnya, namun ia harus meredakan diri jika sudah capek.

Jadi, sudahkah Anda memeluk buah hati hari ini?

3. Beri Pengertian

Memberi pengertian tidak bisa disamakan dengan memberi perkuliahan yang
panjang. Bukan dengan ngedumel panjang ala emak-emak dan tak selesai-selesai sampai si anak capek menangis.

Namun, biarkan saja dulu ia menangis saat keinginannya belum bisa dituruti sambil dipeluk. Katakan saja bahwa ada bunda di sini menemani.
Setelah tangisan selesai, berilah 1-2 kalimat sederhana untuk memberi
pengertian kenapa tidak boleh.

Misalnya Anda tidak suka ia meminta jajan dari abang jualan yang sering lewat. “Dek, kamu tidak boleh jajan itu. Bunda tidak tahu bahan makanannya apa saja.”
Jika si anak meminta alternatif, ajaklah ia memakan jajan yang sudah Anda
sediakan, atau ganti dengan buah kesukaannya.

4. Latih Terus dan Terus

Sekali, dua kali, tiga kali, Anda masih bisa bersabar. Namun, jika sikap anak
masih saja sama walaupun kita sudah memperingatkan sebelumnya, pasti kita merasa kesal. Begitulah anak, mereka butuh dibimbing terus menerus.

Kita saja sebagai orang dewasa sering melakukan kesalahan. Apalagi anak-anak. Bukankah berlatih terus menerus membuat sesorang ahli?

Nah, kita sebagai orang tua diberikan media belajar gratis dari Tuhan untuk mengelola kesabaran. Semakin banyak berlatih akan membuat kita semakin andal dalam pekerjaan ini,
membersamai buah hati.

5. Beri Apresiasi

Saat anak meminta melakukan sesuatu sendiri dan ia bisa melakukannya
(walaupun misalnya menuangkan minum ke gelas masih tumpah-tumpah), berilah ia apresiasi. Selain mengembangkan rasa percaya dirinya, anak akan dilatih untuk berjiwa pantang menyerah.

Saat kita sudah ikut campur mengambil
gelas untuk kita bantu isikan, anak akan merasa bahwa dirinya tidak bisa dan akan menanam pikiran bahwa ia harus selalu dibantu oleh orang tuanya.

Bukankah kita seharusnya bangga jika anak bisa melakukan keterampilan
hidupnya sejak dini? Nantinya, anak tak kaget jika harus mulai belajar semuanya sendiri dan bisa mengandalkan dirinya untuk situasi yang memerlukan
pemikiran cepat.

Baca juga: Aku, Ibu yang Buruk?

Review Kondangan Nikahan di Grand Dafam Rohan Jogja

Masa pandemi gini, kondangan banyak yang virtual. Ya, walaupun saya belum pernah diundang kondangan virtual sih.

Tapi saya punya pengalaman kondangan dengan waktu dan tamu terbatas dan protokol kesehatan yang oke di GRAND DAFAM ROHAN JOGJA.

Jadi, ceritanya saya diundang sama sepupu saya dari pihak suami. Akad nikah dan resepsi dilaksanakan dalam 1 hari saja. Bahkan hanya dalam waktu sekitar 3 jam untuk 2 acara sekaligus.

Tamu yang diundang 100 orang. Tamunya juga hanya keluarga dari pihak mempelai perempuan dan laki-laki. Jarak antar tamu juga jauh-jauh karena berada di ballroom yang luas.

Yuk lihat keseruannya!

Ini vlog pertama sebelum kondangan. Isinya tur hotel Grand Dafam Jogja, restoran hotelnya pas sarapan dan lihat dekor wedding party sebelum acara.

Nah, ini vlog part 2 pas kondangan. Bonusnya kami nyobain renang di kolam renang dan main di taman Grand Dafam Rohan.

Aku, Ibu yang Buruk?

Aku Ibu yang Buruk
Saat merasa menjadi ibu yang buruk, ingatlah apakah kamu masih peduli akan anakmu?

Sudah ke sekian kalinya, anakku, Akhtar menangis. Merengek bahkan sering meneriakiku, ibunya. Dulu, bocah kecil ini tidak begini. Saat usianya baru 1 tahun, ia adalah anak yang gampang sekali menurut. Tak banyak drama dalam mengasuhnya. Saat ibu lain mengeluhkan anaknya yang selalu begadang, Akhtar dengan antengnya akan tidur setelah magrib dan bangun paling gasik saat subuh.

Memang pernah sih dia mengalami growth spurt, yang ditandai dengan bayi menyusu terus dalam masa perkembangannya yang sedang tinggi. Jadi dia akan menyusu terus sampai aku tidak bisa melakukan aktivitas lain. Sampai makan pun, aku harus disuapi suami sambil menyusui. Itu terjadi saat Akhtar berusia 30 hari dan 3 bulan. Hanya itu.

Namun, Akhtar yang kukenal dulu dan sebentar lagi berusia 3 tahun, seperti hilang. Aku, ibu baru, yang pastinya awam akan asuh mengasuh benar-benar kewalahan dengan segala tangis yang berujung tantrum. Sebenarnya, teori tentang parenting, aku banyak mendapatkannya, misalnya dari theAsianparent. Tapi, saat menghadapi bagaimana Akhtar tantrum, hatiku menciut dan akalku seperti hilang. Emosi meledak-ledak.

“Yang sabar. Dibilangin aja biar kooperatif ya, Dek.”

Begitu kata suami kalau aku curhat kepadanya tiap beliau pulang kerja. Aku pun tahu sebenarnya apa yang harus dilakukan. Aku hanya muak jika Akhtar benar-benar sulit diatasi.

“BUUUUUUU, PIPIIIIIIIIIS!”

Saat itu matahari baru sepenggalah. Aku sedang menikmati tugasku yang menumpuk. Di depan laptop, aku merasa aku tak mau diganggu.

“Sama Ayah, sana! Ibu sedang kerja,” sergahku cepat karena saat itu adalah waktu suami meng-handle anak. Aku tak mau dia terus merengek, karena ini akan memperlambat kerjaan.

“SAMA IBUUUUUUUU!” teriaknya sambil menangis.

“Mulai lagi!”

Aku menghembuskan napas kasar. Sebenarnya bukan maksudku membuat situasi lebih rumit. Tapi otak reptil ini lebih menguasai pikiranku saat itu. Bola mataku seperti akan keluar. Aku hanya ingin membuat Akhtar diam. Tapi nyatanya, aku malah semakin sakit. Bukan saat itu, tapi saat tangisannya sudah berhenti. Penyesalan itu datangnya belakangan!

Bukan sekali dua kali, situasi aneh ini membuatku harus ekstra hati-hati saat bersamanya. Seperti seorang cowok yang nggak mau ceweknya ngambek. Seribu dugaan ada dalam pikiran. Apakah saat aku melakukan ini, Akhtar akan suka? Atau dia lebih suka aku menyikapi hal itu dengan begini? Ah, rumit!

Hingga suatu hari, tanpa ampun aku menghukumnya yang tak mau menghabiskan makanan yang telah kumasak. Aku yang dulu bahkan sangat sabar membersamainya makan, hari itu kalap.

“NASINYA DIMAKAN! SAYUR JUGA!”

Aku yang sudah tak tahan lagi memberitahu, tidak, tepatnya membentak Akhtar karena dia hanya memakan lauk yang kusiapkan. Padahal di dalam piringnya, masih ada nasi yang hanya dimakan sesuap dan sawi yang bahkan dilirik pun tidak.

Ke mana anakku yang dulu suka sayur? Ekspektasiku saat itu sangat tinggi. Teramat tinggi. Aku lupa bahwa anak cenderung memilih apa yang hanya dia sukai di usianya sekarang. Aku yang berharap banyak dengan meluangkan waktu memasakkan sup ayam kesukaannya harus kecewa dengan penolakan anak bertumbuh tambun itu.

Hatiku mencelos. Aku meninggalkannya sendirian di kursi makan. Aku ancam bahwa dia tak boleh keluar dari kursi sebelum aku melepasnya. Buruk, benar-benar ibu yang buruk, pikirku. Namun, aku tetap pada kemarahanku.

Tapi apa yang terjadi, setelah aku menenangkan diri di ruangan lain, Akhtar malah tersenyum menyambutku.

“Ibu sudah nggak marah!” pekiknya kegirangan. Mengalahkan girangnya para suporter bola yang timnya mendapat angka karena membobol gawang lawan. Seperti tabuh genderang para suporter, dia sangat bahagia bahkan setelah aku sakiti secara batin.

Ibu macam apa aku? Kenapa hal sepele saja membuatku jahat begini? Aku hanya bisa menangis semalaman. Mencoba mengingat kembali, apa sebenarnya motif di balik semua kemarahanku ini. Atau aku yang tak becus jadi ibu?

Aku menarik diri. Semua pekerjaan kudelegasikan ke ahlinya. Mencuci ke tukang laundry, makanan kubeli di warung, Akhtar kutitipkan ayahnya. Aku benar-benar harus membereskan hatiku. Aku takut, aku malah akan memberi dampak buruk kepada anakku.

Aku memutuskan pergi keluar, menyusuri jalanan kota yang sudah kutinggali selama 8 tahun. Sampai aku berhenti di depan warung internet multimedia. Warnet legend yang sering kutumpangi saat aku harus mengerjakan skripsi dulu. Aku yang tanpa rencana, akhirnya memasuki warnet itu.

“Ibu yang buruk, tak akan menyesali perbuatan buruknya kepada anaknya. Ibu yang buruk tak akan terusik, dan ia tak akan menangis dan meminta maaf kepada buah hati setelah menyakitinya. Ibu yang buruk tak akan belajar dari kegagalan untuk kesuksesan pengasuhannya.”

Sebuah tulisan tentang ibu yang buruk, masuk di beranda media sosialku. Setengah jam di warnet, gundukan air di pelupuk mata semakin menggelayut. Dengan susah payah, aku menahan tangi dan hanya bisa sesenggukan.

Pokoknya, setelah ini, aku akan pulang memeluk Akhtar dengan hangat. Iya, aku bukan ibu yang buruk, Nak. Semoga kau mau menerima permintaan maaf dari ibumu yang kemarin gagal menghadapimu.

Dengan cepat, aku mematikan komputer dan berlari kecil menuju kasir. Aku tak sabar bertemu denganmu, pangeran kecil. Tunggu aku, tunggu ibumu!

Baca juga: Kisah Nyata Pesta Dadakan dan Wafer Tumpuk

Dayamaya Gandeng Startup Indonesia Kembangkan Daerah 3T

Startup, sebuah drama Korea yang lagi booming akhir tahun ini. Noongil, sebuah aplikasi yang dibuat oleh Samsan Tech dalam drama tersebut berhasil membantu para tunanetra mengenali benda lewat smartphone.

Seperti Noongil, Dayamaya menggandeng Cakap, Atourin dan Jahitin, startup dari Indonesia membantu komunitas dan UMKM dalam mengembangkan potensi ekonomi digital di daerah 3T.

Daerah 3T dan Dayamaya

Daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) sangat diperhatikan oleh pemerintah. Dari program kesejahteraan hingga pendidikan, daerah 3T tak luput menjadi fokus utamanya.

Untuk mengembangkan potensi digital ekonomi di sana, Badan Aksesbilitas dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika melaksanakan program Dayamaya.

Dayamaya menggandeng startup e-commerce, komunitas, kelompok masyarakat dan UMKM digital bersinergi membuat solusi tepat guna di daerah 3T. Dari program ini diharapkan adanya percepatan kemajuan ke arah yang lebih baik.

Tiga inisiator yaitu Cakap, Atourin dan Jahitin menjadi tonggak awal kontribusi kepada masyarakat.

3 Startup Inisiator di Daerah 3T

Cakap

Cakap adalah partform online pembelajaran bahasa asing. Cakap berkontribusi meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan mendukung pengembangan daerah wisata.

Tak ayal, daerah wisata sangat membutuhkan SDM dengan kemampuan bahasa Inggris agar menarik jumlah wisatawan dan menciptakan pariwisata berkelanjutan.

Cakaptelah menyelanggarakan digital asesment di Kabupaten Sabu Rijua dan Kabupaten Sumba Timur, Provinsi NTT. Program melibatkan 250 pelajar tingkat SMA dengan menggunakan standarisasi CEFR (The Common European Framework of Reference for Language). Kegiatan daring ini diisi oleh guru bahasa Inggris asing (ESL Teacher).

Selain itu, Cakap memberikan pelatihan bahasa Inggris gratis melalui website resmi. Masyarakat pelaku industri dapat mendaftar langsung di sana. Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Bangka Belitung sudah menjadi pendaftar dengan pendaftar terbanyak berada di Sulut dan Kalsel.

Peserta akan mendapatkan akses kelas webinar, e-book materi pembelajaran, video pembelajaran, evaluasi, dan pendampingan guru profesional dan lokal. Hasil akhirnya, peserta akan mendapatkan sertifikat penyelesaian kelas Cakap.

Atourin

Atourin sebagai perusahaan teknologi di sektor pariwisata yang menyediakan jasa dan layanan baik secara online maupun offline untuk industri pariwisata Indonesia.

Pada tahun 2019 lalu berkesempatan menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi pemandu wisata di Natuna
melalui program Dayamaya.

“Di masa pandemi ini, salah satu satu program kami yaitu melakukan pelatihan secara daring bagi pemandu wisata se-Indonesia. Kami ajarkan bagaimana cara membuat tur virtual. Salah satu sektor yang paling terdampak akibat pandemi adalah pariwisata. Dengan pelatihan ini, diharapkan pemandu wisata dapat memanfaatkan internet untuk menghadirkan layanan virtual tour baik kepada wisatawan dalam negeri maupun mancanegara” kata Reza.

Tur virtual, kata Reza, merupakan platform baru, yang dapat
dimanfaatkan untuk jangka waktu panjang, tidak hanya di masa pandemi saja.

Jahitin

Seperti Cakap dan Atourin yang memanfaatkan layanan digital, Jahitin Academy memberdayakan SDM dengan meningkatkan skill para penjahit di Provinsi NTT, khususnya di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Melalui workshop pengolahan limbah kain tenun, Jahitin mengajarkan bagaimana cara mengolah limbah tenun menjadi produk yang bernilai jual, seperti untuk membuat cushion pillow.

Tidak hanya itu, Jahitin juga membantu para penjahit agar dapat lebih mudah mengakses pasar. Dampaknya saat ini penjahit di Sumba sudah mendapatkan akses langsung berhubungan dengan Dinas Perdagangan.

Menurut Asri Wijayanti, masa pandemi ini dia dan tim melakukan pelatihan kepada para penjahit, bagaimana cara membuat masker sesuai dengan standar kesehatan yang difasilitasi oleh BAKTI dan Kementerian Desa, dan Pemberdayaan Daerah Tertinggal.

Hasilnya, para penjahit di Sumba
berhasil mendapatkan orderan membuat 5000 masker!

Baca juga: Begini Inspirasi Cinta Bumi Ala Dhita Erdittya

Harapan Program Dayamaya Bagi Indonesia

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman, dalam membangun daerah 3T pemerintah tentu tidak dapat bekerja sendiri. Untuk itu, peran dari para startup dan komunitas sangat diperlukan untuk bersama-sama bersinergi mempercepat pembangunan di daerah 3T.

Ari Soegeng Wahyuniarti, selaku Kepala Divisi Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Masyarakat menuturkan, dengan merangkul stakeholder strategis, mereka yakin kita akan memiliki daya atau berdaya untuk bersama-sama membawa perubahan di daerah 3T.

Perbaikan dari sisi perekonomian berbasis ekonomi digital menjadi hal utama. Hal ini selaras dengan campaign yang Dayamaya angkat, yaitu Berdaya Bersama.

Tips Mama Paula Nemenin Kiano Malem-malem

Malem-malem Laper Nemenin Kiano

Begadang, kurang tidur, kurang makan, kurang me time. Problem ini biasanya dijumpai kalau jadi ibu yang lagi nemenin baby.

Kaget gak sih, yang tadinya bisa me time lamaan, tiba-tiba kudu 24 jam jadi satpam? Tadinya yang bisa ngurus diri lebih baik, eh sekarang ada si kecil yang gantungin hidup sama kita?

Duluuu banget, saya mengalaminya. Pas zaman-zaman anak udah 1 tahunan sih. Nempel kayak perangko. Ke kamar mandi, dia kudu jaga pintu. Gedor-gedor kalau lama. Hahaha.

Baru aja nonton videonya Bapau (Baim Paula) Family ini. Suka gumuuuush sama Kiano. Apalagi bentar lagi mau 1 tahun. Pengen ngintip kayak apa sih Mama Paula nemenin Kiano dalam kesehariannya.

Nah, kalau Mama Paula jaga Kiano dengan happy karena sudah nemuin partner yang cocok buat me time-nya. Walau ada Kiano di sebelahnya, tapi me time sama yang satu ini bikin Mama Paula recharge energinya.

Apaan tuh? Ya, mie Lemonilo! Kalau busui (ibu menyusui) butuh banget energi yang besar. Makanan yang sehat dan nyaman di perut. Biar jaga anak dengan happy. Mie Lemonilo ini udah gak ada penguat rasa, gak pakai pengawet dan pewarna buatan. Gak bikin begah.

Pernah ngerasa gak kalau bikin mie malah buthek airnya? Mie Lemonilo gak loh. Karena mienya dipanggang. Dari saripati bayam lagi.

Selesai Makan Mie Lemonilo, Cus Ngegambar!

Jadi, tips Mama Paula jagain Kiano oke banget ya. Dapat manfaat dari sang partner, mie Lemonilo, abis itu cus bisa nemenin anak beraktivitas.

Kalau Mama-Mama gimana? Udah nyobain? Pengen tau kolaborasi #BaimPaulaxLemonilo ini? Klik di sini ya!

error: Content is protected !!