Allah Menolongku Lewat Nganter Belanja Anak Yatim

Dipublikasikan oleh dhita pada

Dua tahun yang lalu, kami nganter belanja anak yatim yang bahagia.


Tika. 15 menit yang lalu.

Besok, kami akan mengajak anak-anak yatim buat belanja kebutuhan pindahan mereka untuk pondok baru. Dana dari donator sudah ready, siapa nih yang berbaik hati nganter mereka belanja? Siapa tahu ada mobil yang nganggur, syukur-syukur mau nyopirin. Hehe.

Pagi itu aku membaca status milik temanku, Tika, yang memang menjadi founder salah satu komunitas yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Mengumpulkan informasi calon penerima donasi (para teman yang butuh pertolongan, ada yang dhuafa, anak yatim, dan banyak lagi), lalu membuka kesempatan para donator untuk membantu calon penerima, begitulah kira-kira mekanismenya.

Hari itu, akulah yang tergerak. Bukan karena aku sedang ada uang, aku malah terkejut karena pas sekali aku sedang meminjam mobil Ibu untuk keperluanku berangkat tes guru kontrak di Semarang.

***

Status whatsapp teman yang kunamai Tika muncul di pemberitahuan beberapa menit yang lalu. Status meminta pertolongan kendaraan dan mengantarkan anak yatim belanja.

Status dari Tika itu kucerna baik-baik. Mobil yang kupinjam dari Ibu masih ada di Jogja, terparkir di depan rumah. Suami berencana mengembalikan saat hari Minggu tiba, hari liburnya.

“Ay, ini ada temanku butuh mobil besok pagi. Pondok anak yatim Ada yang mau pindahan dan perlu belanja kebutuhan. Kamu besok pagi free kan? Nanti mobil ibu dipakai saja daripada menganggur. ”

“Jam berapa, Nda?”

“Jam 9 pagi sudah sampai di pondok lama mereka.”

“InsyaAllah, Nda.”

Aku yang memang ingin sekali membantu teman dan anak yatim tersebut bersorak dalam hati. Ternyata kemudahan tak hanya dirasakan olehku saat Ibu meminjamkan mobilnya, mereka (anak pondok) pun dimudahkan dengan adanya kesempatan baik ini, pikirku.

Aku yang bahagia bisa sedikit membantu dengan tenaga suami untuk menyetir dan tenagaku untuk menemani anak-anak yatim belanja, segera mengirim pesan ke Tika. Semenit kemudian, Tika berterima kasih di kotak percakapan kami dan meminta untuk datang ke alamat yang diberikan.

Sebenarnya, kami bukannya sedang banyak uang. Hanya saja, kami ingin membantu karena kebetulan ada mobil. Itu saja. Sungguh, kalau dihitung-hitung, uang kami bahkan hanya cukup untuk kebutuhan dua hari ke depan, termasuk beli bensin mobil. Ya Allah, cukupkan.

Keesokan harinya, hari petualangan kami datang. Aku, suami dan anak sudah siap menjemput. Kami menjemput anak-anak yatim dengan total 4 orang anak perempuan seusia adik kandung bungsuku. Juga ada satu bapak pengasuh bernama Pak Habibi. Kami sampai di pondok sesuai janji dan langsung meluncur ke supermarket besar dengan wahana mainan di lantai teratasnya. Tika dan satu teman lainnya sudah menunggu di sana.

“Assalamu’alaikum, Tik.”

Setelah parkir mobil dan masuk ke supermarket, aku menemukan Tika yang sedang duduk menunggu kami di bawah eskalator.

“Wa’alaikumsalam, Mbak.”

Senyum Tika seperti senyum sebelumnya pernah kutemui. Pancaran wajahnya tergambar bahwa ia senang mengetahui ada penolong untuk calon penerima donasi dari komunitas yang ia dirikan. Aku pun ikut senang bisa berbagi tenaga. Setelah kami berdoa bersama sebelum melakukan belanja, Tika memimpin briefing kecil-kecilan. Dia membagi tugas siapa yang membeli barang-barang kebutuhan sesuai catatan dan siapa yang mencatat apa yang sudah dibeli juga harganya.

Ada Bunga, Zaski, Sofia dan Novi. Mereka keempat anak yang kami temani belanja. Keempat anak itu adalah anak yatim dari daerah Bengkulu. Tetangga dari Pak Habibi yang diajak hidup di Jogja agar hidupnya lebih terjamin. Sebenarnya ada 12 anak, tapi 8 lainnya menunggu di pondok. Aku dan Tika serius mencari barang yang akan dibeli dan anak-anak mengikuti ke mana pun kami pergi dengan patuh. Memilih barang yang harganya cocok dan mencatatnya. Bunga dan Novi memasukkan barang ke dalam keranjang, sementara Zaski dan Sofia mencatat harganya.

Setelah selesai belanja, anak-anak juga diajak main wahana roller coaster. Saat anak-anak pergi berkeliling, aku menawari Tika untuk memakai kartu bermainku di zona bermain itu. Tapi ternyata, anak-anak sudah antre beli, dan aku terlambat memberikan kartu depositku. Sesampainya di wahana, kebahagiaan terpancar. Anak-anak yang memang baru pernah bermain wahana ini, antusias sekali. Kupotret mereka dari smartphone-ku. Anakku pun ikut antusias melihat teman barunya bermain. Sayangnya, dia tidak bisa ikut mencicipi karena usianya masih 2,5 tahun. Setelah dua kali putaran, anak-anak nyengir dan bercerita bahwa mereka ngeri sekaligus senang naik wahana ini. Alhamdulillah.

“Terima kasih atas kesediaan Mbak Dhit dan suami ya, anak-anak senang sekali bisa main ke sini. Mereka baru pernah menyambangi supermarket sebesar ini.”

Begitulah yang aku dengar berulang-ulang dari Pak Habibi. Padahal aku dan suami serta anak sudah biasa main ke sana. Mungkin sebulan sekali atau dua kali, hanya cuci mata atau sekedar membeli mainan untuk anak. Tapi ternyata kegembiraan kecil bagiku, beda bagi mereka yang baru ke sana pertama kalinya. Ada rasa aneh yang tertinggal di hati selepas kami pamit dari pondok. Kami mengantarkan anak-anak dan Pak Habibi setelah makan siang yang juga didapat dari donasi. Setelah kegembiraan tersebut, aku pulang dengan hati yang riang.

***

Keesokan harinya, aku terkejut karena gas untuk memasak habis. Bagaimana kami bisa sarapan? Kalau uang kebutuhan kami pakai untuk membeli gas, tak akan cukup. Sempat sejenak aku menyayangkan hari kemarin telah memakai uang untuk beli bensin. Astaghfirullah. Kok malah aku mikir begini ya?

Cepat-cepat kutepis perasaan negatifku itu. Lalu, aku mencopot selang gas dan memeriksa kompor. Beneran habis, nih. Suami kupanggil dan sekalian meminta tolong dirinya untuk membelikan gas. Ternyata, semua toko kehabisan stok gas. Suami yang sudah menanyai setiap toko yang ditemuinya, pulang dengan gas kosong.

Apalagi ini? Uang makan sisa untuk beli bahan makanan. Eh, ini malah gas habis. Terpaksa, kami harus membeli makanan dari luar. Duh! Kami membeli makanan yang murah sambil menghitung lagi uang yang dimiliki untuk besok.

Menurut perhitungan, ya uangnya enggak cukup. Aku galau. Entah kenapa aku malah membersihkan kompor gas yang sudah kupakai 9 tahun lamanya. Sudah banyak noda minyak di permukaan kompor. Bagian knop pemutar api pun sudah mulai keras. Aku lalu berpikir untuk membeli saja yang baru. Ya, walaupun kami belum ada uang, aku memulai saja pencarian kompor gas dua tungku dengan harga yang murah di salah satu aplikasi daring. Daripada stres, window shopping aja. Kan bisa dimasukkan keranjang dulu, pikirku.

Wah, ini murah banget. Sebuah kompor gas dua tungku yang persis seperti milik adik kandungku dijual dengan harga diskon. Aku mengucap salawat dan berharap agar bisa memiliki kompor gas itu. Teringat pesan Ust. Yusuf Mansyur dulu, saat ia ingin sesuatu, salawatlah, berikan doa terbaik untuk Rasulullah. Aku pun berdoa, semoga kompor gas ini menjadi jalanku melayani anak dan suami.

Aku pun tak sadar telah memencet tombol pesan barang dan sudah terkonfirmasi pula untuk membayar barang tersebut saat pengiriman. Aku yang baru pernah memakai aplikasi belanja daring itu baru mengetahuinya 2 hari setelah tanggal konfirmasi.

***

Seperti biasa, siang hari setelah selesai mengurus tetek bengek pekerjaan rumah, aku kembali menatap layar laptop. Dengan bermodalkan internet dari thetering smartphone, aku yang bekerja menjadi editor freelance memulai untuk menyunting artikel. Artikel-artikel yang sudah disunting tersebut, nantinya akan di-publish di laman media sesuai jadwal tayangku.

Sembari membuka laman media, aku mengecek surel. Siapa tahu ada kiriman permintaan suntingan juga dari temanku. Astaghfirullah, aku menemukan surat surel yang sangat mengejutkan.

Dari: **.ID

Terima kasih telah mengonfirmasi pesanan barang berupa kompor gas merek S dengan total harga Rp229.000,00. Anda bisa membayar saat kurir datang.

Aku panik. Kulihat tanggal pemesanan, dan itu adalah 2 hari yang lalu. Ah, aku ingat, saat itu aku mencari kompor. Ternyata, tanpa sengaja aku mengonfirmasi pembelian. Aku memang baru pernah memakai aplikasi belanja daring ini. Kukira aku hanya menyimpan data pembelian dan sewaktu-waktu bisa kukonfirmasi saat ada uang. Ya Allah, bagaimana ini, kami belum punya uang. Harga kompor tersebut memang akan menjadi murah saat kami merencanakannya, tapi ini di luar kehendak kami. Uang sebanyak itu tak bisa sekonyong-konyong disisihkan begitu saja. Kami harus menunggu gajian suami beberapa minggu lagi. Itu artinya saat kompor gas datang, kami belum bisa membayar. Tombol cancel pun tak ada untuk proses pembatalan.

Seharian aku galau. Suami belum kuceritakan perihal ini. bagaimana nanti reaksi suami ya? Duh, kok aku bisa nggak sadar sudah klik tombol konfirmasi ya? Nanti kalau barangnya datang, aku bayar pakai apa? Banyak sudah pertanyaanku yang kutujukan kepada diriku sendiri. Menyesali kelalaianku, mencoba berpikir akan jalan keluarnya nanti.

***

Malamnya suami pulang dari kantor. Aku sudah mantap bercerita. Aku mengumpulkan keberanian setelah aku mengadu pada-Nya.

Aku menyiapkan makanan yang kubeli di warung makan dekat rumah. Aku persilakan suami untuk makan dahulu, mengenyangkan perutnya agar dia bisa berpikir jernih.

“Ay, aku mau cerita. Tapi kamu jangan marah ya?”

Aku mulai meminta waktunya setelah dia selesai makan.

“Eh, ada apa? Kok minta aku nggak marah?”

Suami kaget dengan permintaanku. Aku pun mulai bercerita perihal kompor gas yang tiba-tiba sudah dalam perjalanan. Suami sibuk mendengarkan. Aku pun menunjukkan laman aplikasi akunku yang menandakan bahwa pesanan sudah berada di gudang. Kemungkinan besok atau lusa, barang akan datang.

“Ya sudah Ay, mungkin itu rezeki kita. Pengganti sedihmu yang kemarin.”

Suami menghiburku dengan senyum jahilnya. Aku terkejut, dia kok nggak marah malah meledek? Apa dia punya uang untuk membayar?

“Kamu ada uangnya apa, Ay?”

Aku yang penasaran langsung menembaknya dengan pertanyaan. Suami malah menjahiliku dengan mimik muka serius. Tak ada jawaban di sana.

Duh, apa lagi ini?

“Sudah, berdoa saja yang banyak. Aku saja yang mikir uang kompor gas itu.”

Hanya itu pesan suami. Aku yang penasaran hanya bisa memanyunkan bibir. Sambil meminta maaf atas kelalaianku.

***

Hari ini aku harap-harap cemas. Setelah percakapanku semalam dengan suami, aku tambah khawatir. Bagaimana tidak, nanti kalau barang pesananku datang, aku harus bilang apa sama kurirnya? Aku yang cemas mulai berpikiran yang tidak-tidak, pikiranku mengembara ke mana-mana. Lagi, suami tak memberikanku kepastian bagaimana tentang kompor gas itu. Aku yang sudah pasrah, akhirnya berpikir untuk meminjam dahulu uangnya kepada ibu atau tanteku.

Baru saja aku mau membuka chat, chat datang dari suami.

“Gimana, barangnya datang kapan?”

“Di status masih di perjalanan, Ay. Bisa jadi nanti sore. Atau besok. Gimana, kamu ada uangnya?”

“Oya sudah, semoga besok baru datang ya. Nanti malam  kuceritakan.”

Wah, apa ini? Suami dapat bonuskah?

Malamnya, sesampainya di rumah, suami kutodong. Dia hanya tersenyum sambil memberikan amplop. Dadaku berdesir.

“Ini apa, Ay?” tanyaku menyelidik.

“Sudah buka dulu saja.”

Aku lalu membuka amplop tersebut. Ada sejumlah uang dengan 2 lembar Rp100.000, selembar Rp50.000, lalu selembar Rp20.000 dan beberapa uang Rp1.000. Kuhitung semuanya dengan total Rp278.000. Uangnya bahkan melebihi harga kompor gas yang kupesan. Ya Allah, rezeki kami juga untuk kebutuhan hidup sebelum suami gajian.

“Ini uang dari mana ay? Kamu pinjam?”

“Dari SHU. Ini kan awal tahun, semua karyawan dapat pembagian dari Koperasi.”

Alhamdulillah. Mukaku langsung sumringah. Tak ada kegalauan lagi, besok aku bisa membayar kompor gas pesanan yang salah klik itu.

***

Setelah diantar, kompor gas yang tadinya hanya iseng-iseng kulihat sudah nangkring di atas meja dapur. Meja dapurnya kecil, jadi membuat semakin sempit. Namun, aku puas. Aku bisa membayar saat barang datang dan aku mendapat hadiah setelah kekecewaanku kemarin tak lolos tes. Aku mulai mencoba kompornya dan semua berfungsi dengan baik. Aku pun masih agak merasa bahwa itu mimpi. Ada nggak ya orang lain sepertiku yang salah klik di saat tidak ada uang? Aku tertawa menyadari kelalaianku.

Malamnya, suami mengajak mengobrol tentang kompor gas itu. Lalu, di tengah obrolan kami, aku ingat sebuah doa yang dipanjatkan oleh anak-anak yatim dan pengasuhnya.

“Ya Allah, mudahkanlah urusan Mbak Dhita dan suami.”

Doa itu memang terus diucapkan berulang-ulang oleh Pak Habibi, saat kami dulu mengantarkan anak-anak pondok. Doa itu sangat mujarab ternyata. Saat aku dan suami kesusahan untuk membayar kompor gas, pertolongan yang dibayar dengan doa itulah yang menyelamatkan kami.

Maka, janganlah takut berbagi. Ya, walau aku sempat menyesali, ternyata Allah beri aku bukti.

Seperti www.dompetdhuafa.org yang datang dengan “Jangan Takut Berbagi”, aku percaya bahwa berbagi itu bukan mengurangi jatah kita. Tapi, berbagi itu menolong kita sendiri.

Tolonglah orang lain, maka Allah akan menolongmu. Ya, aku percaya itu. Kamu juga kan?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”.

Kategori: Social

dhita

Seorang ibu dengan dua kesatria. Guru anak-anak. Berkarya dari rumah. Sedang belajar less waste, apalagi plastik.

17 Komentar

Dian farida ismyama · 21 April 2019 pada 7:15 pm

Masyaallah mbak, luar biasa ceritanya.jadi sadar udh lama ga berbagi. Hiks

    dhita · 23 April 2019 pada 11:41 am

    Semangat berbagi, Mbak. Aku juga kudu dipaksa kalau dalam hal ini. Bismillah

vika · 22 April 2019 pada 10:59 pm

Yes mbak, yang kita bagi pasti kembali ke kita dalam bentuk lain. Ga akan pernah kekurangan

    dhita · 23 April 2019 pada 11:40 am

    Bener, Mbak. Setuju

Sapti nurul hidayati · 22 April 2019 pada 11:54 pm

Pertolongan Allah sungguh dekat ya mb.. Terharu membaca kisah mbak dhita… Semoga semakin banyak yang diringankan untuk berbagi.. Tfs..

    dhita · 23 April 2019 pada 11:39 am

    Pertolongan Allah tak pernah disangka-sangka ya, Mbak. Makasih juga sudah mau baca

Yustrini · 23 April 2019 pada 12:18 am

Wah, syukurlah, Tuhan beri tepat pada waktunya. Ikut deg-degan tadi pas bacanya, mba.

    dhita · 23 April 2019 pada 11:38 am

    Iya, Mbak. Apalagi saya pas ngalamin, rasanya enggak nyenyak tidur. Tapi emang Allah baik banget.

Mei · 23 April 2019 pada 4:50 am

Aku bayangin obrolannya kayak di difim2 gitu, obrolan suami istri 😍 betul Mba kita tak boleh takut berbagi, Allah bakal kasih jalan setiap kita ada kesulitan, itu aku rasain sendiri, alhamdulillah

    dhita · 23 April 2019 pada 11:37 am

    Ahahaha. True story ini emang greget sih, Mbak. Alhamdulillah, Allah baik banget yaa.

Disma · 23 April 2019 pada 5:23 am

terharu deh baca ceritanya. insya Allah kalau memudahkan urusan orang lain, urusan kita juga akan dimudahkan oleh Allah ya mb. apalagi ini menyenangkan hati anak yatim. barakallah mb dit 🙂

    dhita · 23 April 2019 pada 11:35 am

    Iya, Mbak. Aamiin. Barakallah, Mbak Disma.

Wiwin Pratiwanggini · 23 April 2019 pada 8:10 am

Dhit, aku terharu membaca ceritamu. Aku selalu percaya bahwa Allah SWT akan memberikan apa yang kita butuhkan di saat yang tepat, yang penting kita selalu berbuat baik 🙂

    dhita · 23 April 2019 pada 11:18 am

    Aku juga terharu, Mbak, Allah masih sayang aku. Thanks udah mampir.

Ety Abdoel · 24 April 2019 pada 7:41 am

Masyaalloh, berbagi memang tak bikin rugi ya mba. Semoga makin berkah kehidupan mba.

Hanifa · 24 April 2019 pada 10:53 am

Ya Allah Mbak… Nggak nyangka banget sih… Ternyata emang bener, semakin banyak kita ngasih, kita malah nggak akan semakin kekurangan. Buktinya pertolongan bisa dateng dari arah yang nggak terduga :’)

Eka Wahyuni · 24 April 2019 pada 2:33 pm

Inspiring,Mbak! Termyata nyata ya.. Alhamdulillah

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com