Berangkat Kajian bareng Anak, Mengapa Tidak?

Dipublikasikan oleh dhita pada

Dulu, aku sempet bingung kalau mau ajak anak ikut kajian. Di satu sisi, aku pengennya serius ndengerin. Takut kalau anak malah jadi bikin buyar konsentrasinya gitu. Hehe. Lagian, setelah sekian purnama enggak pernah berangkat kajian, rasanya pengen ngerasain sendirian menerima pencerahan.

Tapi ternyata, setelah dipikir-pikir, itu cuma alasanku doang sih biar mundurin terus aksi buat ngaji lagi. Terlalu lama nyaman di rumah, apalagi jarang ke masjid, emang bikin diri itu mualeeees minta ampun kalau ada kajian agama. Ya Rabb, kudu bener-bener dipaksaaa.

Akhirnya, aku cobalah nyari temen yang mau ngancani kajian. Sambil nyari-nyari acara kajian gitu yang setidaknya deket dari rumah, bisa bawa anak, jamnya pas dan juga pas temanya. Hampir berbulan-bulan, aku ngepoin salah satu akun instagram. Berhubung aku di Jogja, aku ikutin tuh @infokajianjogjakarta yang selalu update kalau ada kajian-kajian di sekitaran sini. Bisa follow ya di sini.

Nah, kemarin sore aku ngajakin salah satu temanku (yang udah kenal dekat), untuk ikutan kajian tema Menjadi Kekasih Alquran di Masjid Darunnajah UAD 3. Kalau untuk isi kajian, belum aku share di sini ya. Cuma mau cerita aja, apakah worth it bawa anak di masjid pas kajian?

Balik dulu ke anaknya ya. Anak saya yang balita (usia 3 tahun 10 bulan), fitrahnya dalam mendatangi masjid itu bisa diacungi jempol. Kalau menelisik dari keseharian, aku dan suami biasanya solat di rumah. Nah, pernah suatu ketika, kami mendapat kontrakan yang deket banget sama masjid.

Setelah itu, kami jadi lebih deket kalau mau ke masjid. Kayaknya emang faktor nyari kontrakan itu yang pertama adalah tanyakan apakah rumahnya deket masjid apa enggak. Lebih ke kebiasaan sih, kalau deket, rasa malasnya bisa mulai dipaksa rajin karena alasan jauh enggak ada lagi.

Nah, setelahnya, anak ini kok jadi selalu meminta kami ke masjid tiap azan. Fitrah solatnya anak itu emang belum tercederai ya, menyembah kepada-Nya. Jadilah, sampai hari ini, aku mencoba untuk menyiapkan anak saat akan ke masjid. Misal solat zuhur, solat Jumat dan solat Magrib.

Balik lagi ke kajian, karena anaknya udah biasa ke masjid, dia jadi udah tau adab-adabnya. Misal enggak boleh berisik dan mengganggu. Jadi saat ustaz menyampaikan ilmu, dia asyika aja. Apalagi ada snack sih, hahaha.

Sampai akhir acara, anaknya okay aja sampai solat Magrib sekalian di sana. Alhamdulillah, ini awal yang baik buat kami hijrah bareng-bareng. Doain ya, kami bisa istikamah. Oya, aku mau kasih tips nih buat orangtua yang mau ajakin anaknya kajian, apalagi yang baru pertama kali. Cek di bawah ini ya.

  1. Cek toilet training anak apakah sudah lulus. Biasanya anak sudah bisa bilang kalau dia mau pipis atau pup dan sudah tidak ngompol.
  2. Cek apakah anak lagi fresh. Cukupi makan, minum dan tidurnya. Kalau bisa bawa bekal makan dan minum. Cukupkan jam tidurnya, bisa persiapkan dia tidur dulu sebelum kajian atau pilih kajian yang jamnya tepat untuk anak, misalnya pagi atau sore.
  3. Cek bawaan jika mengendarai sepeda motor. Karena aku pakai motor, jadi kasih tipsnya pada kondisi anak saat di jalan. Pas kemarin, aku bawa jarik yang bisa ngiket anak kalau dia ngantuk. Apalagi jalannya cuma berdua, suami belum bisa nemenin.

Sekian pengalaman kami, semoga bermanfaat ya. Kalau ibu atau ayah sekalian, punya tambahan tips enggak? Atau ada yang punya kumpulan ibu-ibu ngaji bawa anak? Boleh loh aku diajakin.


dhita

Seorang ibu dengan dua kesatria. Guru anak-anak. Berkarya dari rumah. Sedang belajar less waste, apalagi plastik.

2 Komentar

Mei · 17 Mei 2019 pada 10:38 pm

terima kasih untuk tipsnya mba, membawa anak-anak sejak kecil untuk kajian bisa membantu mengenalkan agama juga ya mba

    dhita · 18 Mei 2019 pada 5:32 am

    Sammi-sami, Mbak. Iya, jadi bagian ikhtiar orangtua merawat fitrah anak.

Terima kasih telah berkunjung dan berbagi komentar di dhitaerdittya.com